“Wayang Climen”, dalam HUT ke-66 Yayasan Pangudi Luhur

144
Wayang Climen, dalam HUT ke 66 YPL/Dok. PL
“Wayang Climen”, dalam HUT ke-66 Yayasan Pangudi Luhur
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM-YAYASAN Pangudi Luhur (YPL) yang bergerak dalam bidang pendidikan dalam rangka memperingati usia ke-66, mengadakan nanggap Wayang Climen. Pagelaran ini ditonton secara virtual pada Kamis, 29/10, melalui chanel Youtubemulai pukul 20.00 WIB, dengan lakon “Bagong Mbangun Pawiyatan.” Pementasan Wayang Climen ini di bawakan oleh dalang Ki Seno Nugroho di padepokannya Sedayu Yogyakarta.

Wayang Climen sejalan dengan artinya lebih menunjuk kepada bentuk kesederhanaan, praktis dan apa adanya. Tampilan minimalis dengan mengurangi sejumlah perangkat wayang maupun gamelan serta beberapa unsur adegan yang biasa hadir di pakeliran wayang konvensional. Pagelaran wayang ini lebih singkat waktunya, berlangsung kurang lebih 3 jam sampai tancep kayon (penutup).

Jejer pertama di awali dengan cerita kerajaan Amarta masih belum begitu maju, hidup belum sejahtera. Mereka berdiskusi bagaimana agar rakyat dan seluruh kerajaan menjadi sejahtera dan maju. Ada bermacam ide caranya: lewat seni budaya, ekonomi, perdagangan, pariwisata dan lain-lain. Dalam situasi seperti itu, muncul tokoh Sadewa seorang aktivis yang prihatin dengan kondisi penderitaan dan kebodohan rakyat. Mereka sepakat jalan utama serta pertama serta sangat penting adalah lewat jalan pendidikan.

Wayang Climen, dalam HUT ke 66 YPL/Dok. PL

Di tengah pagelaran, ketua YPL Pusat, Br. Martinus T. Handoko, FIC, berkesempatan memberikan sambutan secara virtual. Bahwa rasa syukur dipanjatkan atas karya Bruder Fratrum Imaculate Consepsinis yang membawai 100 lebih sekolah dan panti asuhan. Sekolah YPL berkembang dengan baik di Propinsi Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan. “Pada kesempatan ini, sebuah ucapan terimakasih disampaikan kepada para Bruder, Bapak/ibu guru dan karyawan yang telah ikut ambil bagian membesarkan Pangudi Luhur dengan cara memberi kasih kepada setiap orang,” ucapnya.

Pagelaran Wayang Climen dipungkasi saat Punakawan, dalam budaya Jawa sering digunakan sebagai simbol pencerahan. Dalam pertunjukan wayang, sosok Punakawan inilah pesan-pesan penting disampaikan kepada penonton saat Bagong Mbabar Pawiyatan (sekolah). Bagong memberikan wejangan tujuan mendirikan Pawiyatan Marga Luhur yaitu menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran serta pembinaan kaum muda. Murid-muridnya yang ada semuanya kaum muda yaitu Antareja, Gatutkaca, Antasena, Abimanyu, dan Irawan.

Disampaikan oleh dalang Ki Seno Nugroho bahwa Pawiyatan Marga luhur dengan mengajarkan warisan 10 keutamaan (wewarah) yang menjadi ciri khas padepokan yang didirikan oleh Bagong. “Kesepuluh keutamaan itu meliputi sikap redah hati, teladan yang baik, mencintai sesama manusia, saleh, sikap bijaksana, lembut hati, tabah hati, berpengetahuan, semangat dan teguh hati serta percaya kepada Tuhan,” ucap dalang yang juga alumni sekolah PL Timoho Yogyakarta ini.

Wayang Climen, dalam HUT ke 66 YPL/Dok. PL

Dalam kesempatan ini melalui Ki Semar disampaikan pesan coba dengarkan dan renungkanlah semuanya yang telah diajarkan oleh Guru Bagong di Pawiyatan Marga Luhur ini adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa semua murid yang menjadi anak asuhnya. Mereka semua diharapkan mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi, agar mereka mampu menduduki posisi-posisi penting di masyarakat.

“Mendidik anak-anak dari rakyat jelata, untuk mengangkat harkat dan martabat mereka, sehingga mereka bebas dari kebodohan, bebas dari penjajahan (penindasan) para penguasa, dan akhirnya mampu menjadi tuan di negaranya sendiri,” pungkas Semar seperti disampaikan Ki Seno Nugroho.

Saat pagelaran secara langsung penonton bisa menuliskan pesan dan kesan. Seperti kesan dari Lourentius Susmidi bahwa pagelaran wayang climen sebagai tontonan ya tuntutan. “ sukses untuk YPL,” tulisnya.

FX Triyas Hadi Prihantoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here