MELALUI ENSIKLIK “FRATELLI TUTTI”, PAUS SEOLAH MENYANYIKAN KEMBALI LAGU LEGENDARIS JOHN LENNON. MASA SIH?

281
Romo Martinus Joko Lelono, Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Doktor bidang Interreligious Studies UGM Yogyakarta
MELALUI ENSIKLIK “FRATELLI TUTTI”, PAUS SEOLAH MENYANYIKAN KEMBALI LAGU LEGENDARIS JOHN LENNON. MASA SIH?
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COM – TERBITNYA Ensiklik Fratelli Tutti menjadi bukti nyata bahwa Paus Fransiskus sedang berjuang untuk menemukan irisan persaudaraan yang lebih luas. Paling tidak hal ini sudah diungkapkannya di dalam tiga dokumen: Laudato Si; Document of Human Fratenity; Fratelli Tutti.  Di dalam ketiganya kita bisa melihat bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menyatukan orang. Kesadaran sebagai sesama warga dunia yang hidup di atas bumi yang terancam menjadi pesaan penting dari dokumen Laudato Si. Kesadaran bahwa kita adalah manusia yang perlu memperhatikan mereka yang ada di dalam situasi perang dan pertentangan ideologis yang mengancam persaudaraan dunia menjadi pesan dari Document on Human Fraternity. Terakhir, Fratelli Tutti mengajari kita tentang pentingnya mencintai semua orang tanpa batasan suku dan berbagai sekat yang memisahkan.

Paus hendak mengatakan kepada kita bahwa dunia ini sedang memerlukan bahasa persaudaraan. Lebih daripada usaha yang menekankan berbagai perbedaan untuk menyulut konflik, Paus Fransiskus berjuang menekankan kesamaan guna menyulut persaudaraan di berbagai tempat di dunia ini. Kalau saya ditanya tentang suara kenabian Paus kita ini, rasa-rasanya menemukan irisan persaudaraan menjadi warta kenabian yang paling kentara.

Budaya Memecah Belah

Chris Rumford dalam artikelnya Theorizing Borders mengungkapan bahwa tema-tema sosial seperti globalisasi, kosmopolitanisme, jaringan dan mobilitas sosial mendorong sosial teori untuk membicarakan tentang batasan-batasan sosial. Batasan-batasan sosial ini biasa digunakan oleh teoris sosial untuk mempelajari hidup bermasyarakat (Rumford 2006, 155). Batasan sosial ini menjadi perhatian dari sosiologi pada umumnya yaitu masyarakat yang semakin tercerabut dari akar budaya agraris mulai kehilangan ikatan-ikatan sosial atas dasar kekerabatan atau budaya yang sama. Dalam hal ini, lebih mudahlah bagi orang untuk menemukan perbedaan daripada kesamaan. Alhasil, konflik sosial menjadi lebih mudah terjadi apalagi ketika muncul aktor sosial yang melihat suatu golongan adalah ancaman bagi golongan yang lain.

Menemukan Ruang Gerak Bersama

Pesan-pesan yang digaungkan Paus Fransiskus menunjukkan betapa pentingnya menemukan kembali dasar hidup bersama. Kita memiliki musuh bersama bernama kerusakan bumi dan hancurnya bersaudaraan.  Orang dibantu melihat ke arah yang sama. Perjuangan kita adalah satu dan sama yaitu menjaga bumi ini menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk semakin banyak orang. Dalam Ensiklik Fratelli Tutti, ia dengan tegas mengatakan, “Masalah persaudaraan antar manusia dan persahabatan sosial selalu menjadi perhatian saya. Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah membicarakan hal ini berulang kali dan dalam berbagai kesempatan yang berbeda” (Art 5). Paus Fransiskus melakukan peran besarnya sebagai jembatan persaudaraan. Di tengah masyarakat yang tidak lagi fokus pada persaudaraan, dia tetap percaya bahwa persaudaraan adalah jawaban atas kekacauan dunia. Paus menyuarakan seruan moral yang sebenarnya ingin didengar oleh banyak orang. Hanya saja orang takut untuk mewujudkannya. Sayangnya, sebagian orang yang takut itu adalah kita-kita, orang-orang Katolik yang dibimbingnya.

Mungkin baiklah kita dengarkan ungkapan John Lennon saat ia melantunkan lagu “Imagine.” Ia berdendang, “You may say I’m a dreamer…. I hope someday you’ll join us and the world will be as one” (Kamu mungkin berpikir bahwa aku hanyalah seorang pemimpi,…. Aku berharap suatu saat kalian mau bergabung mewujudkan mimpi ini dan dunia akan menjadi satu). Paus kita sedang mengundang kita untuk menjadi bagian dari perjuangan untuk menjaga kedamaian dunia. Banyak pihak dari agama lain menanggapi berbagai ajakan Paus yang menyuarakan misi kenabiannya.

Semoga anda dan saya di tingkat hidup masing-masing boleh menjadi pribadi-pribadi yang membuka pintu-pintu persaudaraan, bukannya pembangun pagar-pagar permusuhan. Jangan biarkan Paus jalan seorang diri.

Romo Martinus Joko Lelono, Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang, Doktor bidang Interreligious Studies UGM Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here