Mgr. Mandagi: Gedung Gereja Sebagai Simbol Perdamaian dan Persaudaraan

82
Penjemputan Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC di Kevikepan Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel/Yovita Helen
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM– SEJAK diangkat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAMe), Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC terus berupaya untuk terlibat dalam ragam kegiatan umat. Sebagai gembala utama KAMe, Mgr. Mandagi perlahan-lahan  mengadakan kunjungan ke berbagai wilayah pastoral KAMe.

Kali ini, selama empat hari, tepatnya Sabtu-Selasa, 24-27/10, Mgr. Mandagi berkunjung ke Kevikepan Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Merauke. Lawatan ini menjadi istimewa karena menjadi lawatan pertama Uskup Amboina ini. Wajar saja, sambutan meriah dan dukungan datang dari berbagai pihak. Dalam lawatan ini, Mgr. Mandagi didampingi Sekretaris Jenderal KAMe, Pastor Johanes Juonmo Kandam dan rombongan.

Mereka dijemput dengan tari-tarian dari lima suku besar di kevikepan itu yaitu Suku Muyu, Mandobo, Awuyu, Kombay, dan Suku Karoway. Hadir dalam penjemputan Bupati Boven Digoel, Paskalis Netep; Ketua DPRD, Athanasius Koknak; Dandim 1711/BVD, Letkol Csi Daniel Panjaitan; Vikaris Episkopal Kevikepan Mindiptana, Pastor Widi Hargono, MSC; Pastor Paroki Tanah Merah, serta sejumlah imam dan biarawan dan biarawati lainnya.

Kunjungan kali ini bukanlah kunjungan biasa, namun ada agenda yang tertunda karena pandemi Covid-19. Salah satunya adalah Pemberkatan Gedung Gereja Stasi St. Yoseph Wet sekaligus penerimaan Sakramen Krisma kepada 196 orang di Stasi St. Yosep Wet, Paroki Tanah Merah dan 110 orang di Paroki Kristus Raja Mindiptana.

Arti Gedung Gereja

Mgr. Mandagi mengawali khotbahnya dengan beberapa pertanyaan refleksif soal makna gedung gereja. Apa arti gedung ibadah? Dikatakannya bahwa di mana-mana, berdiri gedung ibadah, apakah hanya sekadar ungkapan kesombongan dan ungkapan kehebatan dari sekelompok agama? Masih relevankah bagi manusia beribadah di gedung gereja? Jangan-jangan setelah diberkati yang datang ke gereja hanya tiga atau empat orang. Waktu pemberkatan bagus, banyak yang hadir, tetapi tiga tahun kemudian gedung rusak dan orang tidak tertarik lagi beribadah. Kalau begitu, apa arti gedung-gedung gereja yang bagus dan megah?

Dikatakannya bahwa gedung gereja buatan manusia, umat, dan pastor paroki, para donatur, tetapi harus disadari bahwa semuanya karena campur tangan Tuhan sehingga gedung gereja bisa berdiri.

“Gedung gereja senantiasa merupakan lambang dan simbol dari gereja itu sendiri yang berarti sebagai persekutuan umat beriman- persekutuan umat dengan Kristus. Uskup, biarawan-biarawati, awam, atau  kita semua adalah gereja. Gereja melambangkan kita dengan demikian gedung gereja punya arti yaitu gereja harus senantiasa diwarnai dengan persaudaraan. Kita berbeda tapi satu sebagai pengikut Kristus,” ujar Mgr. Mandagi.

Uskup yang selalu menekankan perdamaian ini mengajak umat yang hadir untuk semakin melihat bahwa jangan ada gedung gereja tapi ada pertikaian. Jadi pertikaian harus dihindari, karena dengan adanya gedung bagus, persatuan dan persaudaraan harus tetap dijaga. “Papua adalah tanah Kristen, dan Papua Selatan adalah tanah Katolik. Tanda kekristenan dan kekatolikan adalah persatuan dan persaudaraan, ini yang harus dibangun,” ujarnya.

Pilkada Damai

Lebih spesifik lagi, Mgr. Mandagi mengingatkan umat agar jangan karena Pilkada, orang bertengkar. Kalau demikian, berati kita kafir. Boleh bersaing dalam Pilkada, tetapi jangan menghancurkan keagamaan. “Jangan sampai yang dicari adalah kekuasaan yang pada ujungnya menghancurkan persaudaraan. Gedung Gereja harus menjadi simbol persatuan dan kesatuan. Sebab yang utama dalam hidup adalah persaudaraan dengan berlandaskan fondasi Kristus,” sebutnya.

Uskup berdarah Minahasa ini berharap semoga Tanah Papua tidak melupakan Kristus. Misionaris telah bekerja keras membuat Papua Selatan menjadi tanah Katolik. “Gedung gereja mengingatkan iman kita kepada kristus. Kita harus bangga dan tampil sebagai orang Katolik. Gedung gereja ini adalah lambang bahwa yang menggerakkan adalah Roh Kudus, Roh Tuhan,” katanya.

Menerima Roh Perdamaian

Khusus kepada para krismawan dan krismawati, Mgr. Mandagi merujuk makna Sakramen Krisma. Menerima Krisma, sebutnya, berarti kita menerima Roh Kudus. Bicara soal Roh Kudus, banyak Orang Kudus- termasuk Bunda Maria telah menerimanya. Kuasa Roh Kudus memberi semangat, “Maka diharapkan setelah kita mendapatkan berkat Krisma, sikap dah tindakan kita mencerminkan daya kekuatan Roh Kudus.

“Jika Anda sudah menerima Krisma, jangan malas ke gereja, jangan mabuk-mabukkan terus, dan jangan berbuat tindakan criminal lagi. Sebab hati Anda sudah dipenuhi Roh Kudus. Utamakan kejujuran dan jangan berdusta. Kehadiran Roh Kudus Nampak dalam perbuatan dan sikap Anda sehingga kelak menjadi saksi-saksi Kristus yang setia.”

Yovita Helen (Merauke)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here