Misa Online bagi Komunitas Profesi: Sebuah Ide Pengutusan

185
Henry C. Widjaja, Kontributor
Misa Online bagi Komunitas Profesi: Sebuah Ide Pengutusan
4.9 (97.04%) 27 votes

HIDUPKATOLIK.COM“KATANYA, jemaat Misa ini pemalas. Perginya ke Misa yang terakhir, maunya cepat-cepat pula,” begitu kata romo tamu membuka Misanya. Kemudian homilinya pun berpanjang-panjang. Padahal ciri khas dari Misa Minggu jam 8 malam di gereja itu adalah Misa tanpa nyanyian, tanpa khotbah, dan selesai kurang dari 1 jam. Mungkin romo ini belum bisa menerima ritual Misa yang di luar tradisi. Meski sebetulnya, Misa ini adalah Misa yang mengerti selera sebagian umat.

Dalam sebuah kelompok doa hening, seorang peserta bertanya, “Kenapa kelompok ini pasif banget ya? Berkumpul hanya untuk baca Injil, bermeditasi, sharing, lalu pulang. Apa tidak ada kegiatan sosialnya?” Ketuanya pun menjelaskan bahwa tujuan kelompok ini memang untuk bermeditasi. Jika peserta ingin berkegiatan sosial, bapak ketua menganjurkan peserta untuk bergabung ke Legio Maria, atau Seksi Sosial Gereja. Setiap kelompok mempunyai karakternya masing-masing.

Kita sudah mengenal ada Misa untuk anak-anak, mudika, lansia dan pasutri. Ada Misa dengan karakter khusus, seperti Misa hening, Misa karismatik. Ada Misa dengan iringan musik tradisionil, ada Misa dengan tema khusus, seperti Misa arwah, Misa buka tahun, dan lain-lain. Keberagaman diadopsi. Agama memberi jalan bagi kebhinnekaan agar tunggal ika.

Sayangnya, belum ada pusat informasi yang mengumumkan di mana dan kapan Misa-misa yang unik itu diselenggarakan, misal Misa dengan pengantar bahasa dan musik daerah. Dengan adanya fasilitas live streaming, umat yang mempunyai kerinduan spesifik, umat di luar paroki penyelenggara, tentu laksana rusa yang mendamba air untuk mengikuti misa seperti itu.

Sebuah Analogi

Pembukaan romo tamu di atas mengingatkan pada reaksi UMKM tradisionil. Dahulu, prinsip para UMKM dalam berbisnis adalah “Beginilah yang bisa saya produksi. Kalau konsumen suka silahkan beli, kalau tidak suka ya sudah.” Pusat perhatian adalah pada dirinya. Namun dengan adanya pandemi, pemerintah mendorong UMKM memanfaatkan teknologi digital, berdagang melalui e-commerce. Cara memandang dan perilaku pun dituntut untuk berubah, yang menjadi pusat perhatian adalah selera dan kebutuhan konsumen, jika tidak begitu, ya, bersiaplah untuk dilindas oleh persaingan. Dengan berjualan online UMKM harus punya identitas, brand, harus fokus menyasar segmen yang mana, seperti usia tertentu, hobi tertentu, profesi tertentu, berpenyakit tertentu, dan lain-lain.

Para marketer menganjurkan agar segmentasi yang telah terbentuk bisa dipelihara dengan membentuk komunitas, misal komunitas hobi yang sama, seperti komunitas pesepeda. Dengan adanya komunitas yang sejenis, komunikasi antara brand dan kosumennya akan lebih efektif, karena akan terbentuk ikatan emosional, loyalitas dan advokasi. Adanya komunitas juga bisa menjadi sumber ide untuk melakukan inovasi dan co-creation, dan tentunya menjadi data base untuk mengenal lebih dekat. Dengan adanya fasilitas online, pemeliharaan komunitas menjadi dipermudah, sebagaimana yang banyak tersimpan dalam hape kita, yaitu grup WA.

Meski pasar online terkesan menyempit dibanding pasar offline, yang “seolah” tidak perlu dipusingkan dengan segmentasi dan bisa menyasar semua orang, namun pasar e-commerce  jauh lebih luas dibanding pasar offline. Teknologi online menerobos batasan fisik, sama seperti jangkauan Misa online. Misa online di satu paroki bisa menjangkau ke seluruh Nusantara yang terjangkau wifi, bahkan ke seluruh dunia.

Pesan Paus Fransiskus

Di sisi yang lain, kita sering mendengar bahwa Paus Fransiskus sangat prihatin dengan keserakahan. Pada perayaan Natal Vatikan 2018, Paus mengutuk keserakahan tanpa batas dari gerakan konsumerisme. “Keserakahan tak terpuaskan menandai sejarah manusia sampai hari ini. Secara paradoks, sebagian bisa makan dan hidup mewah, sementara yang lain tidak mampu memperoleh roti,” kata Paus Fransiskus.

Pada 1 September 2020, Paus Fransiskus mengatakan, hilangnya keanekaragaman hayati, bencana iklim, dan dampak yang tidak proporsional akibat pandemi virus corona pada orang miskin dan kalangan rentan, adalah seruan untuk bangun dalam menghadapi keserakahan dan konsumsi kita yang merajalela.

Himbauan Paus memerlukan tekad dan iman yang jernih, karena penerapannya tidaklah mudah. Konsumerisme berpengaruh pada 3P (People, Planet, Profit). Impak pada people dan planet secara tegas telah diingatkan oleh Paus, tetapi tentang profit, di era covid-19 ini, kita mengalami bahwa ketika konsumsi masyarakat menurun, perekonomian pun krisis.

Begitu juga tentang keserakahan, berita praktik korupsi tidak ada habis-habisnya. Ditambah lagi dengan pertunjukan mengumbar keserakahan dalam perebutan kekuasaan dalam pilpres dan pilkada. Tujuan meraih kemenangan boleh menghalalkan segala cara, lawan harus kalah bahkan layak dihancurkan. Tidak ada nilai luhur yang perlu dipertahankan. Konsep “win-win” sepertinya cuma mimpi. Dan gelar pemilu yang memecah belah seperti ini merupakan pertunjukan yang selalu berulang secara sistemik, dan secara terang-terangan diperagakan oleh para kontestan atau pendukungnya.

Pada 18 Oktober 2020 Paus Fransiskus menyampaikan pesan untuk Hari Minggu Misi Sedunia, yaitu “Ini Aku, Utuslah Aku” (Yes 6:8), yang intinya adalah undangan untuk melangkahkan diri kita keluar, karena cinta Tuhan dan sesama, menjadi kesempatan untuk berbagi, melayani dan memanjatkan doa permohonan.

Sebuah Ide

Tersenggol oleh perihal di atas, dari jendela pengetahuan yang sempit dan berkabut, sebuah ide muncul. Ide yang sudah didiamkan biar terlupa, tapi masih saja ngendon, seolah meminta untuk dituliskan. Ide yang masih kasar ini, begini isinya.

Terbayang sebuah visi, bahwa tersedia beragam Misa online untuk komunitas profesional yang tersegmentasi menurut bidang ilmunya, misal Misa online untuk para profesional di bidang kesehatan, pendidikan, keuangan, hukum, dan lain-lain. Misa online ini diselenggarakan satu bulan sekali oleh berbagai gereja, misal paroki A mengadakan Misa online untuk bidang hukum, paroki B untuk bidang pendidikan, dst. Agar fokus, satu paroki cukup menyelenggarakan Misa online untuk satu jenis komunitas, secara reguler. Misa online tersebut mengangkat masalah yang spesifik di bidang ilmu tertentu, dan mendoakan agar sebagaimana pun susah dan rumitnya persoalan, para profesional tersebut bisa selalu berpihak kepada mereka yang miskin dan membutuhkan, mengganti keserakahan dengan berbagi rezeki, dan selalu berusaha menerjemahkan cinta kasih, sebagai substansi dari semua penyelesaian masalah.

Mengapa tersegmentasi menurut bidang tertentu? Karena, orang lapangan sesungguhnya tahu bagaimana shortcut bagi penyelesaian masalah, tetapi belum tentu berani atau mampu sendirian menerapkannya. Dengan berkumpul bersama teman-teman seprofesi, semoga keberanian untuk melakukan perbaikan itu bangkit, dan semoga Roh Kudus menurunkan Pencerahannya.

Karena diselenggarakan secara spesifik untuk profesional bidang tertentu, maka khotbah, bacaan, doa-doa dan nyanyian disesuaikan dengan “bahasa” dari bidang tersebut. Untuk itu perlu ada tim kecil yang terdiri dari para profesional bidang yang bersangkutan, yang terlibat sebagai content creator untuk Misa semacam ini, tentunya di bawah bimbingan romo paroki. Dan bagi para romo yang bersangkutan, gerakan ini bisa menjadi tantangan untuk mewujudkan ‘Gereja yang keluar’, untuk mampu berbicara dalam “bahasa” kehidupan nyata di bidang tersebut, bukan saja bahasa kerohanian. Misal bagi para akuntan, ada istilah full disclousure untuk keterbukaan dan kejujuran, ada going concern untuk keberlanjutan usaha, ada accrual yang mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan di masa depan, ada balance sheet yang menjamin keseimbangan, dll. Dengan menggunakan “bahasa” dari komunitas tersebut, tentu doa dan khotbah menjadi lebih segar, lebih relevan, sehingga akan membentuk rasa empati dari anggotanya.

Kenapa dipilih para profesional? Karena merekalah yang memegang peran besar dalam menjalankan roda kehidupan, merekalah para agen perubahan, seperti para ekonom, lawyer, dokter, fund manager, dan lain-lain. Setelah mekanisme ini berjalan lebih lancar, para pengusaha dan ASN yang terkait dengan bidang ybs bisa ikut bergabung.

Tanpa menihilkan komunitas atau segmentasi yang lain, para profesional ini bisa lebih cepat mewujudkan harapan Sri Paus, sehingga ilmu pengetahuan bisa sungguh mengabdi pada kesejahteraan umat, bukan pada kekayaan sebagian pemodal. Sehingga hukum kembali kepada keadilan bukan kepada yang bayar. Para medis bukan melulu jualan obat tetapi merawat kesehatan umat. Para pendidik sungguh mencerdaskan kehidupan bangsa bukan demi berjualan buku. Para insinyur membangun infrastruktur demi kelancaran perekonomian bukan demi jatah proyek. Dan para ekonom selalu menjamin pemerataan pendapatan untuk rakyat banyak bukan penumpukan kapital di satu pihak.

Mekanisme ini bisa dimulai dari paroki yang memiliki umat yang profesional di bidang tertentu, yang mau menginisiasi gerakan ini, sebagai content creator. Keuskupan bisa membantu memublikasikan jadwal Misa online-nya, sehingga tersiar ke seluruh Nusantara dan mengundang sesama profesional lainnya.

Tentunya ide ini masih terlalu kasar untuk menerjemahkan “Ini Aku, Utuslah Aku”, masih perlu diperhalus dalam implementasinya, atau bahkan memerlukan ide lain yang lebih baik. Seberapa detil segementasi itu? Bagaimana untuk bisa bertahan? Bagaimana agar jemaat saling mengenal? Bagaimana mengintegrasikan semua komunitas itu? Bagaimana dengan komunitas segmen yang lain? Masih sebuah jalan panjang, masih perlu kesetiaan doa. Namun langkah Gulliver dimulai dengan langkah Liliput, meski hanya dengan menuliskannya, menyamakan mindset, meski hanya sebuah IMHO (in my humble opinion).

“Agama ibarat peta. Untuk mencapai lokasi tujuan, orang berjalan di atas tanah, bukan di atas peta. Dan ketika kota-kota tumbuh, jalan-jalan baru pun bermunculan, dan peta pun mesti disesuaikan dengan perkembangan”

Henry C. Widjaja, Kontributor, IG/FB: @henrycwidjaja

2 COMMENTS

  1. Ide bagus. Misa tersegmentasi, diharapkan dpt menjawab sebagian pendapat umat bahwa seringkali homili dinilai membosankan. Homili yg yg diambil dari bacaan Injil, perlu lbh dijabarkan dlm praktek kehidupan keseharian sesuai pofesi masing2 umat. Bravo Henry!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here