SAYA INI SIAPA: FOLLOWER ATAU FOTOCOPYER?

383
RUY Pamadiken, Kontributor
SAYA INI SIAPA: FOLLOWER ATAU FOTOCOPYER?
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM – MENJADI pengikut aktif media sosial mempunyai konsekuensi. Waktu yang tersedot dan pikiran yang membludak karena banyaknya informasi. Mencoba untuk menseleksinya-pun tetap membacanya terlebih dahulu. Ada berapa grup dan aplikasi?

Ya sudahlah. Karena kalau tidak mengikutinya tiba-tiba saja menjadi kuno. Baru saja keponakan kecil bilang kena prank dan menangis. Saya berusaha mendiamkannya. “Santuy aja om”, katanya. “Gils” batin saya. Keponakan saya di kesempatan lain bilang “Gabut enggak apa-apa om, daripada jadi bucin”. Saya terkapar.

Mereka telah menjadi follower dan fotocopyer yang baik.

Itu baru kata, bagaimana dengan video-video kekerasan di macam-macam aplikasi  atau kelicikan tokoh-tokoh sinetron yang terus ditayangkan? Atau cara berpikir tokoh-tokoh yang sama yang terus diulang-ulang di sebuah acara talkshow televisi? Di masa post-truth keyakinan dan hoax dengan cepat menjadi kebenaran. Selanjutnya kebenaran yang diyakini akan mempengaruhi perilaku, dan perilaku yang sama dari banyak orang akan menimbulkan gerakan sampai ke revolusi, seperti revolusi yang terjadi di Mesir yang disemarakan awalnya oleh media sosial.

Saya teringat akan sebuah webinar di mana narasumbernya banyak mengutip pendapat-pendapat dari para tokoh terkenal, mulai dari Dalai Lama, Albert Einstein, Abraham Maslow, Stephen Covey, Zig Ziglar sampai ke Ken Blanchard dan Don Huston pengarang The One Minute Entrepreneur. Dan terakhir mengutip Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru. Namun tidak jelas pendapat narasumbernya sendiri seperti apa. Di sisi lain dia telah berhasil menjadi seorang pengutip dan menjadi narasumber untuk pendapat-pendapat banyak orang terkenal tersebut. Logikanya si narasumber juga pasti sependapat dengan pemikiran-pemikiran tersebut, karena tidak ada catatan kritisnya. Dia, dengan demikian, tetap pengikut dan pen-fotocopy.

Gejala copas alias copy paste bin menyontek ini sudah biasa di dunia media sosial. Tidak ada keraguan lagi untuk itu. Banyak postingan yang memakai postingan orang lain, karena memang adanya di ruang publik dan sejauh itu tidak ada larangan atau notifikasi dari pengarangnya sendiri. Maka bebas-bebas saja. Tidak mengherankan juga kalau sebuah skripsi atau tulisan ilmiah penuh dengan kutipan, sebab akses mudah didapat. Masih bagus jika dikerjakan sendiri dan tidak dititipkan ke kios pembuat skripsi. Ia bisa mendapat gelar akademik di belakang namanya. Titel cukup berpengaruh di budaya Indonesia, minimal untuk mencari kerja, di mana semua instansi pemerintah dan swasta mengisyaratkan minimal mengantongi ijazah kesarjanaan, di atas kertas.

Menurut saya kepandaian dan kecerdasan memang berbeda. Kepandaian didapat karena pengetahuan yang diperoleh dari fasilitas atau informasi secara lebih dahulu, bersifat sekolahan, sementara kecerdasan adalah kerja otak untuk mensiasati dan mencari solusi atas problematika dunia dan manusia. Orang pandai belum tentu cerdas, namun orang cerdas kalau mendapatkan akses informasi dan pendidikan akan luar biasa hasilnya.

Saya lalu teringat sekian tahun lalu ketika masa-masa pileg atau pemilihan anggota legislatif daerah. Saya melewati dan melihat sebuah baliho besar dari seorang caleg sebuah partai yang mencantumkan seluruh gelar akademisnya. Saya menghitungnya ada dua belas gelar dan sisanya menyebutkan keturunan dari sebuah trah kerajaan. Saya tahu sesudahnya bahwa caleg tersebut tidak terpilih. Kurang apa coba? Saya belajar bahwa kertas-kertas diperlukan hanya untuk manusia kertas. Sayangnya kita telah masuk ke dalam budaya itu sebagai sebuah arus mainstream dan karena itu seakan-akan menjadi benar atau menjadi  kebenaran.

Padahal kalau saya melihat keadaan dunia saat ini, pertanyaan yang relevan bukanlah “kamu lulusan apa, dari universitas mana?”, namun “apa kontribusimu untuk menciptakan dunia yang lebih baik?”. Para millennials memberi harapan untuk pertanyaan terakhir tersebut.

Gejala lain follower dan fotocopyer itu terdapat juga di dalam tingkah laku. Menarik untuk diamati.

Novel Cintaku di Kampus Biru tulisan Ashadi Siregar pada zamannya seakan-akan menjadi patron pola cinta para mahasiswa di kampus. Meskipun berakhir duka, namun profile Erika menjadi idola. Si Boy dalam novel dan film Catatan Si Boy menjadi gejala umum perilaku pemuda pada jamannya. Keluarga Cemara dan tokohnya si Oneng menjadi prototype sebuah keluarga sederhana yang bahagia penuh dengan nilai-nilai kehidupan. Orang juga betah dan duduk berjam-jam untuk menikmati sinetron Meteor Garden, dan ikut gemes melihat hubungan Daoming Si dan Sanchai. Makin ke sini ada K-Pop yang melanda hati anak muda sedunia, sampai cara make-up dan berpakaian pun ditiru. Mereka ingin hidup menjadi seperti idolanya. Di ranah politik ada tokoh pergerakan Che Guevara, gambar-gambarnya dapat ditemui di kamar kost para pemuda atau mahasiswa aktivis pergerakan. Ada Yasser Arafat, pemimpin Pembebasan Rakyat Palestina yang kafieh-nya menjadi simbol perlawanan. Ada Mahatma Gandhi yang cara hidup ahimsa-nya menjadi inspirasi banyak orang. Di saat ini juga ada tokoh kontroversial bernama Donald Trump, yang entah bagaimana, bagi sebagian orang dianggap tokoh penyelamat yang karismatis.

Banyak follower dan fotocopyer dari tokoh-tokoh idola tersebut. Namun bagaimanapun para follower dan fotocopyer ini tetap tidak menjalani hidupnya sendiri.

Saya menjadi teringat akan seorang teman, awam Jesuit, yang sangat mengidolakan Santo Ignatius dari Loyola, Spanyol. Pengetahuannya banyak, bahkan ia pernah mengunjungi Manresa dan Monserrat, dua tempat di mana St. Ignatius dari Loyola mendapatkan pengalaman mistik dan pencerahan. Ia selalu mengunakan topi baret hitam yang dibelinya di Italia. Khas Jesuit khususnya karena menjadi ciri khas Jenderal Jesuit yang mashyur, Pedro Arrupe. Dengan memakai topi baret itu, di berbagai kesempatan, ia lebih merasa menjadi seperti tokoh-tokoh idamannya, menjadi seperti lebih Jesuit daripada yang Jesuit beneran.

Saya hampir tidak mengenali lagi siapa teman saya ini seperti aslinya dulu. Ia menjadi orang lain, bukan hidupnya sendiri.

Ia tetap seorang follower dan fotocopyer.

Anthony de Mello SJ, dalam bukunya Sejenak Bijak menulis, ketika ada seorang murid mohon kebijaksanaan:

Kata Sang Guru: “Pergi, duduklah di dalam sel bilikmu, dan bilik akan mengajarkan kebijaksanaan kepadamu”

“Tetapi bilik dan sel aku tidak punya. Aku bukan rahib”.

“Barang tentu (karena) (bilik) sel itu ada padamu. Lihat saja kedalam”.

Banyak orang kehilangan hidupnya sendiri karena tenggelam dalam pencarian dan perjalanan orang lain mencari kebenaran. Para pencari bukanlah follower dan fotocopyer. “Kita terbiasa ada di tempat lain, karena itu kita tidak melihat”, kata Anthony de Mello SJ, dalam cerita bijak lainnya.

Pada titik ini saya bisa memahami ketika Yesus bertanya kepada Yohanes (Mat.16,15). Kata Yesus “Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?”. Yesus menginginkan pendapat asli dari Petrus dan murid-muridnya, bukan dari pendapat orang lain. Pendapat jujur, personal, dan bukan apa kata orang. Dan ketika Yesus mendapatkan jawaban pribadi dari Petrus, Yesus mengatakan bahwa “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang akan kudirikan jemaatKu”.

Pondasi yang kuat adalah ketika kita menemukan relasi yang personal dengan Yesus, bukan karena kata siapapun atau apapun. Pengalaman asli ini tidak akan goyah, seperti batu karang.

Sementara para follower dan fotocopyer, mereka mudah digerakkan ke mana pun, berbondong-bondong tanpa tujuan yang dimengerti karena mereka tidak mempunyai pengalaman-pengalaman personal sendiri.

RUY Pamadiken, Kontributor (Tangerang); IG: Innerjourney1503

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here