Seperti Apa Kehidupan sesudah Kematian? Ini Refleksi Seorang Rahib Asal Indonesia yang Bertapa di Biara OCSO di Irlandia

156
Bavo Samosir, OCSO, Rahib dan Imam, Biara Mount St. Joseph Abbey, Roscrea, Irlandia
Seperti Apa Kehidupan sesudah Kematian? Ini Refleksi Seorang Rahib Asal Indonesia yang Bertapa di Biara OCSO di Irlandia
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.COM – SUDAH menjadi semacam tradisi, menjelang tanggal 2 November, umat Katolik di sekitar Biara Mount. St. Joseph Abbey, memberikan daftar nama keluarga yang telah meninggal dunia kepada kami agar kami mendoakan keluarga dan kaum kerabat mereka di dalam perayaan Ekaristi untuk arwah seluruh umat beriman. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya merupakan ungkapan iman akan adanya kehidupan setelah kematian.

Secara pribadi, saya menilai ungkapan iman tersebut sungguh luar biasa karena mereka hidup dalam dunia sekular yang tidak mengimani akan adanya kehidupan abadi yang akan datang. Bagi mereka yang tidak beriman, iman akan kehidupan yang akan datang hanya sebuah ilusi karena kehidupan yang nyata dan satu-satunya adalah kehidupan di dunia saat ini. Jiwa akan ikut berakhir dengan berakhirnya tubuk fisik di dalam kubur. Itu sebabnya dunia tanpa iman akan kesulitan menghadapi realitas kematian.

Beato Carlo Acutis

Sebagai pengikut Kristus Yesus, kita mengimani bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, namun awal dari kehidupan abadi. Kita percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, bahwa kita akan hidup dalam keabadian dengan tubuh yang dibangkitkan, seperti Yesus. Bahkan Yesus sendiri menjanjikan kita akan hidup abadi bersamaNya: “Aku pergi untuk meyediakan tempat bagimu dan ketika Aku akan datang kembali dan membawa ke tempatKu, supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada.” (Yohanes 14: 2-3). Kehidupan setelah kematian sangat penting bagi Yesus, itulah sebabnya misi-Nya datang ke dunia ini untuk menyelamatkan dan membawa kita bersama-Nya di Surga, di Kehidupan Abadi. Kehidupan manusia adalah kehidupan yang ditakdirkan untuk keabadian.

Paus Yohanes Paulus II pernah mengungkapkan dalam untaian kata yang indah untuk mengungkapkan adanya jiwa dan kehidupan yang abadi: “Jika anda mengetahui Cinta abadi yang menciptakan anda, anda juga tahu bahwa ada jiwa yang tidak akan mati di dalam diri anda. Ada berbagai musim dalam kehidupan; jika anda mengalami musim dingin, saya ingin anda tahu bahwa ini bukan musim terakhir, karena yang terakhir adalah musim semi: musim semi Kebangkitan. Surga menanti Anda.”

Namun dalam perjalanan hidup sebagai pengikut-Nya, manusia sering gagal dalam proses panggilan: “Menjadi sempurna seperti Bapa di Surga adalah sempurna.” (Matius 5:48) karena kelemahan dan kerapuhan manusiawi. Manusia sering menyerah pada pencobaan dan dosa. Itulah sebabnya orang yang telah meninggal menjalani pemurnian untuk mencapai kesucian yang diperlukan untuk memasuki sukacita surga (Katekismus Gereja Katolik, 1030)

Sebagai anggota tubuh Kristus, kita dipanggil untuk mendoakan secara khusus jiwa yang dalam pemurnian di api penyucian. Saya pribadi tanggal 2 November adalah saat yang teristimewa untuk berdoa bagi jiwa ibu saya, kaum kerabat terdekat, orang-orang yang saya kenal dan untuk jiwa semua yang telah meninggal, terutama mereka yang tidak seorangpun mendoakan mereka. Namun di sisi lain tanggal 2 November adalah saat khusus saya diingatkan bahwa kematian menantikan saya, anda, kita semua. Namun takdir akhir kita bukanlah kematian tetapi kehidupan abadi bersama Kristus.
Amin.

Sumber tulisan HIDUP, No. 44, 1 November 2020

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here