Jika Kita Terlalu Lama Membenci Seseorang, Kita Tak Ada Waktu untuk Mencintainya!

198
Yusuf Marwoto, Kontributor
Jika Kita Terlalu Lama Membenci Seseorang, Kita Tak Ada Waktu untuk Mencintainya!
3.7 (73.33%) 3 votes

HIDUPKATOLIK.COM – BERHENTILAH membenci, dan mulailah mencintai! Semesta yang sudah renta ini semakin disesaki dengan aroma kebencian. Kebencian mendorong siapa saja untuk meniadakan yang lain, sementara cinta adalah daya untuk bisa hidup berbagi dan bersama. Banyak orang kehilangan kesempatan untuk mengembangkan cinta di dalam dirinya, karena terlalu terperosok ke jurang kebencian. Cinta dan benci itu dua energi kehidupan yang selalu hinggap dimanapun saat seseorang membukakan pintu hatinya untuk masuk. Dari cinta dan benci inilah semua kisah manusia berawal dan berakhir.

Andaikata hati kita penuh dengan cahaya cinta, maka mata kita bisa melihat bagaimana dunia ini penuh dengan kebaikan-kebaikan kecil. Seorang ayah menuntun anak kecilnya dengan genggaman erat tangannya. Seorang ibu menggendong anaknya dengan dekapan hangat. Seekor induk burung memberikan makanan ke anak-anaknya yang mengangakan mulutnya. Seorang istri menuangkan secangkir teh untuk suaminya dengan penuh kelembutan. Jika hati kita memiliki lentera, maka teranglah hidup kita. Orang-orang akan datang untuk berbagi kebaikan juga kepada kita. Sama halnya laron-laron yang terbang memecah kegelapan, mencari cahaya-cahaya kehidupan.

Demikianlah, ada kisah dua orang rahib yang sedang berjalan di padang gurun nan panas. Tenggorokan mereka telah tercekik kehausan. Perut mereka sudah keroncongan karena lapar. Bermil-mil mereka berjalan hingga suatu hari mereka mendapati ada sebuah gerbang tinggi yang mengelilingi sebuah perkampungan. Rahib pertama segera memanjat pohon untuk tahu apa di balik tembok itu. Rupanya, di balik tembok itu ada sebuah perkampungan dengan makanan yang berlimpah, air mengalir begitu jernih dengan keindahan dan kesejukan yang tiada taranya. Segera, rahib pertama itu meloncat ke dalam tembok dan menikmati apa yang tersedia. Giliran rahib kedua yang memanjat pohon. Ia melihat ke balik tembok, dan benar, makanan yang berlimpah, air yang jernih, keindahan dan kesejukan layaknya surga. Tapi, rahib kedua ini tak segera melompat ke balik tembok, sebab ia ingat, di padang gurun sana, masih banyak peziarah lain yang sedang berjalan dan bertarung dengan ganasnya padang gurun. Ia memutuskan kembali ke padang gurun untuk memberi tahu para peziarah lainnya, sebuah perkampungan yang penuh dengan makanan, air dan keindahan. Dan akhirnya, rahib kedua ini sendiri, masuk ke perkampungan itu terakhir kali, setelah semua peziarah masuk. Cinta tidak pernah berhenti untuk dirinya sendiri sebab ia senantiasa mengalir. Jika hati seseorang dipenuhi cinta, maka energi kebaikan akan menggerakkan tubuhnya untuk menggandeng dan mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan.

Hidup bisa penuh dengan jelaga, yang menudungi cahaya-cahaya kehidupan yang memancar dari hati kita. Paradoksnya, agama dan moralitas, seringkali menjadi jelaga itu sendiri. Kaya ritualitas, miskin spiritualitas. Banyak praktik keagamaan kehilangan kebaikan. Kobaran agama dimanipulasi untuk memperkarakan yang duniawi. Tuhan dan moral menjadi pedang tajam untuk meniadakan lawan dalam merebut kekuasaan.

Padahal, agama itu alat, seperti sampan yang mengantar kita kepada pulau-pulau kebahagiaan. Moralitas seperti dayung, yang membuat kita mampu melawan arus, sekuat apapun. Sesampai di pulau seberang, maka seharusnya kita tambatkan perahu di tepi sungai dan kita taruh dayung di dalamnya. Sebab kita tak butuh lagi perahu dan dayung. Namun, banyak orang yang tetap membawa perahu dan dayung itu, memikulnya di pundak. Siapapun yang sudah sampai tujuan, ia tidak akan pernah menggunakan lagi sarana yang ia pakai untuk mencapainya. Kalau seseorang senantiasa memakai sarana itu, maka ia belum sampai ke tujuannya.

Banyak orang mengagungkan agama seolah-olah itu tujuan. Mereka memfantasikan surga seolah-olah perhentian terakhir. Alkitab sering menggambarkan Kerajaan Surga itu layaknya sebuah pesta. Seseorang yang hadir ke dalam pesta, tujuan utamanya adalah berjumpa dengan tuan rumahnya. Makan minum dan kenikmatan lain adalah bonusnya. Demikianlah surga bukan tujuan. Tujuan kita adalah berjumpa dengan Sang Empunya Surga. Hubungan dengan Tuhan (Sang Empunya Pesta), jauh lebih penting daripada ungkapan ritual dan tradisi yang sering memasukkan kita ke dalam kotak kebenaran kita sendiri. Siapapun yang empunya kedekatan dengan Tuhan, dari hatinya berpendar cahaya cinta. Tuturnya lembut dan perilakunya agung. Kedamaian mengalir dan suara-suara pengampunan bermekaran.

Ritualitas bisa menjadi jelaga ketidaksadaran kita. Seolah-olah kebenaran berada di pihak kita padahal seperti telapak tangan yang menggenggam pasir; semakin kuat kita menggenggam, semakin sedikit pasir yang ada di tangan. Demikianlah kebenaran selalu hadir di tempat-tempat yang tidak kita sukai. Suatu kali seorang Guru berbincang lantang kepada para muridnya, “Hal yang bisa memisahkan orang suci dari Tuhan adalah kesuciannya. Yang menghalangi orang baik dari Penciptanya adalah kebaikannya. Yang membuat orang rendah hati jatuh ke dalam dosa adalah kerendahan hatinya.” Siapapun yang memberhalakan kesuciannya, kebaikannya, keluhurannya, ia sedang berjalan menjauh dari lingkaran terdekat Sang Pencipta.

Suatu hari, ada sekelompok biarawan merayakan ibadah suci pukul 06.00 setiap pagi. Ibadah itu berlangsung khusuk, hingga ada seekor anjing biara yang masuk ke tempat ibadah dan maju ke depan altar. Para biarawan itu menjadi kesal. Pagi berikutnya, kejadian yang sama terulang lagi, anjing biara itu masuk ke tempat ibadah dan mengacaukan kekhusukan doa. Akhirnya, tetua biara memutuskan untuk merantai anjing itu, setengah jam sebelum dimulainya ibadah pagi. Dan, kebiasaan merantai anjing setengah jam sebelum ibadah pagi itu dilakukan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Begitulah, ketika anjing biara itu mati, maka mereka membeli anjing yang baru, untuk dirantai setengah jam sebelum mereka beribadah.

Yang dilakukan oleh cinta, pertama-tama adalah membebaskan Anda dari belenggu pengagungan kebenaran diri yang memenjarakan Anda puluhan tahun. Jika Anda sudah terbebas, maka cinta akan mendorong Anda untuk bertumbuh, lebih tinggi dan lebih dalam, untuk berbuah dan menjadi tempat berteduh serta persinggahan banyak makhluk. Cinta juga akan membuka cakrawala batin Anda sehingga bisa melihat setiap gerak dalam dunia ini adalah kebaikan yang tersembunyi. Coba, sesekali Anda membuka tirai jendela kamar dan melihat langit yang biru, bunga-bunga yang mekar, daun-daun yang menghijau. Sesekali, Anda perlu menghentikan kendaraan di pinggir jalan, dan melihat rumput-rumput, burung-burung yang beterbangan, air yang mengalir di sela-sela akar. Sesekali Anda perlu mematikan gadget dan mulai mendengarkan suara binatang-binatang malam yang sayup-sayup terdengar. Sesekali, matikan lampu rumah, naiklah ke atap, dan lihatlah cahaya-cahaya bintang dan rembulan, dengan awan-awan tipis putih seperti sayatan kuas keagungan. Kapan terakhir kali Anda melihat matahari pagi? Kapan terakhir kali Anda menghirup udara lewat hidung Anda dengan penuh syukur? Dari alam kita belajar tentang cinta, kebaikan, dan semangat berbagi. Cahaya cinta akan membuat hidup kita menjadi sungguh amat berbeda! Don’t be afraid your life will end; be afraid that it will never begin.

Yusuf Marwoto, Kontributor

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here