Pemilu Amerika Rasa Indonesia, Bagaimana Peran Gereja Katolik

448
Henry C. Widjaja, Kontributor
Pemilu Amerika Rasa Indonesia, Bagaimana Peran Gereja Katolik
5 (100%) 19 votes

HIDUPKATOLIK.COM – MESKIPUN pemilu Amerika Serikat (AS) seolah meniru pemilu Indonesia, yang antara lain memakai politik identitas untuk memecah belah rakyatnya sendiri, tetapi peran gereja Katolik di sana ternyata berbeda dengan yang di sini. Berikut ini kompilasi cuplikan berita yang menggambarkan peran itu.

Aborsi

Yang “digoreng” dalam pemilu AS, salah satunya, adalah soal aborsi. Contohnya dari laporan CNBC pada 6 Oktober 2020: Presiden AS, Donald Trump menyerang Joe Biden dengan menggunakan anti-aborsi sebagai senjata, dengan meminta rakyat Amerika untuk tidak memilih calon presiden dari Partai Demokrat itu, karena mendukung undang-undang hak aborsi. [1]

Soal aborsi merupakan isu lawas. Info dari Wikipedia, aborsi merupakan hal yang legal di seluruh AS dan wilayahnya, meskipun pembatasan dan aksesibilitasnya berbeda-beda di setiap negara bagian. Aborsi adalah masalah kontroversial dan memecah belah dalam masyarakat, budaya dan politik AS. Berbagai undang-undang anti-aborsi telah berlaku di setiap negara bagian setidaknya sejak tahun 1900. Partai Republik umumnya berusaha untuk membatasi akses aborsi atau mengkriminalisasi aborsi, sedangkan Partai Demokrat umumnya membela akses ke aborsi. [2]

Homili yang Berpihak

Di Youtube bisa ditemukan beberapa homili, dalam misa di gereja Katolik, yang secara terbuka memperlihatkan keberpihakan kepada Trump, atau kandidat yang anti-aborsi. Salah satunya berjudul “Pastor Pemberani yang Mengungkapkan Kebenaran tentang Joe Biden dan Kamala Harris”. Sari transkip homili tersebut sebagai berikut.

Dalam homili pada 16 Oktober 2020, Romo Ed Meeks, menyebutkan bahwa topik yang sama sudah pernah ia sampaikan untuk pemilu 2016. Romo menegaskan bahwa ia tidak bertugas untuk memberitahu bagaimana umat harus memilih, tetapi akan membantu agar suara umat sejalan dengan ajaran gereja.

Romo tidak setuju jika masalah ekonomi, perpajakan, imigrasi, pertahanan nasional, perdagangan, perawatan kesehatan, perubahan iklim, dan sebagainya, dianggap sama bobotnya dengan soal aborsi. Karena Paus Benediktus XVI dalam Konstitusi Apostolik 2012 berjudul Sacramentum Caritatis sudah mendefinisikan apa yang disebut sebagai nilai-nilai yang tidak dapat dinegosiasikan, di antaranya adalah kesucian hidup, kesucian pernikahan, dan pelestarian kebebasan beragama. Karenanya umat Katolik yang setia harus secara hati-hati memilih cara yang terbaik untuk mempertahankan dan melindungi nilai-nilai tersebut.

Pada homili di Gereja Kristus Raja di Towson, Maryland, ini, Romo Ed Meeks menekankan, ada lima hal yang perlu diketahui tentang Joe Biden dan Partai Demokrat, yang bertentangan dengan ajaran Gereja:

  1. Joe Biden dan partainya, tanpa malu-malu mendukung aborsi, baik aborsi yang punya alasan maupun yang tidak. Mereka menentang upaya kongres untuk mengeluarkan UU yang mewajibkan dokter yang melakukan aborsi, untuk memberi perawatan medis kepada bayi yang selamat dari aborsi. Mereka mendorong pencabutan Amandemen Hyde, sehingga semua pembayar pajak Amerika terpaksa mendanai aborsi.
  2. Joe Biden menentang ajaran Gereja tentang kesucian pernikahan. Saat menjabat sebagai Wapres, pada 2012 dia mendukung pernikahan sesama jenis, dan pada 2016 memimpin upacara pernikahan dua pria.
  3. Kepresidenan Biden akan membahayakan kebebasan beragama. Selain melalui Undang-Undang, dia juga akan menerapkan kembali lockdown karena pandemi, secara nasional, termasuk menutup gereja. Ingat, sudah 11 minggu umat tidak bisa misa bersama dan tidak ada sakramen.
  4. Kepresidenan Joe Biden membuka pintu bagi Amerika untuk menjadi negara sosialis, antara lain dengan memilih senator Kamala Harris yang merupakan anggota senat AS yang paling kiri. Joe juga mendiamkan selama beberapa bulan pembunuhan, dan kekacauan yang dilakukan di kota-kota Amerika oleh organisasi-organisasi Marxis.
  5. Posisi Joe Biden dalam keempat masalah moral di atas, akan menumbangkan dan merusak iman, karena Biden adalah seorang Katolik yang terkenal. [3]

Pawai Yerikho Mengitari Gedung DPR

LifeSiteNews melaporkan bahwa setiap hari, orang Amerika mengadakan Pawai Yerikho untuk berdoa bagi Trump, di setiap gedung DPR negara bagian, sejak 5 November lalu hingga 14 Desember nanti. Mereka menyanyikan himne, membawa spanduk, bendera, berdoa rosario, berpuasa, melakukan prosesi Ekaristi, dan meniup shofar (terompet tanduk domba).

Pada setiap siang waktu setempat, mereka berkumpul dan berjalan mengitari gedung DPR tujuh kali. Idenya diambil langsung dari kitab Yosua, dimana Tuhan memanggil Yosua untuk mengumpulkan orang Israel dan berbaris mengelilingi kota Yerikho selama tujuh hari, untuk meraih kemenangan (Yos 6:15-17).

Dukungan ini sesuai dengan seruan dari Uskup Agung Carlo Maria Viganò. Pada hari setelah pemilihan, Uskup Vigano memperingatkan tentang ‘penipuan pemilu paling kolosal dalam sejarah,’ dan memohon orang-orang untuk berdoa. Direncanakan pada 12 Desember 2020 (“1212”), akan diadakan Pawai Yerikho akbar di Washington DC, acara yang disebut “ROAR!” itu akan melibatkan para pemimpin nasional, pemimpin agama, dan lain-lain. Pawai nasional itu akan bertepatan dengan pesta Bunda Maria dari Guadalupe, pelindung Amerika dan bayi yang belum lahir. [4]

Perdebatan Para Uskup

Sekaitan dengan Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat (USCCB) yang secara virtual diadakan pada 16-17 November 2020, ABCNews melaporkan perdebatan para uskup tentang pemilihan presiden. Dalam perdebatan itu terlihat perpecahan yang tajam di antara mereka. Presiden USCCB, Uskup Agung Los Angeles José Gomez menuai kritik dari beberapa rekannya yang konservatif, karena mengucapkan selamat kepada Joe Biden dan Kamala Harris atas kemenangan mereka dalam pemilihan presiden. Biden, yang adalah seorang Katolik yang taat, telah dicerca oleh beberapa anggota, termasuk beberapa uskup konservatif, karena mendukung hak-hak aborsi, meskipun Biden secara pribadi menerima ajaran gereja yang menentang prosedur tersebut.

Menyinggung ucapan Gomez, Uskup Joseph Strickland dari Tyler, Texas mentuit, “Awan gelap telah turun ke bangsa ini, ketika USCCB dan Planned Parenthood kompak menyatakan dukungannya kepada pemerintahan Biden-Harris, yang mendukung pembantaian orang tidak berdosa dengan aborsi.” Planned Parenthood adalah sebuah organisasi nirlaba yang menyediakan layanan kesehatan reproduksi di AS dan lingkup global.

Dan selama kampanye pemilihan, Uskup Thomas Tobin dari Providence, Rhode Island, secara terbuka mempertanyakan iman Biden via Twitter-nya: “Biden-Harris. Pertama kali setelah sekian lama, partai Demokrat belum memiliki seorang Katolik di dalamnya. Sedih.”

Sebetulnya kebijakan USCCB melarang para uskup untuk mendukung kandidat politik. Seorang imam Yesuit terkemuka, Romo James Martin, mengomentari pelanggaran kebijakan itu: “Mengapa begitu banyak uskup mengatakan kepada orang-orang, bahwa mereka tidak dapat memilih Joe Biden?”

Para uskup yang lebih liberal dalam konferensi itu juga angkat bicara selama kampanye, dengan mengatakan bahwa tidak satu pun dari dua partai politik besar itu yang sepenuhnya memenuhi ajaran Katolik. Uskup John Stowe dari Lexington, Kentucky, yang juga telah memberi selamat kepada Biden atas kemenangannya, menulis opini untuk Lexington Herald-Leader bulan Oktober, ia mendebat, meskipun Biden bertentangan dengan doktrin Gereja dengan mendukung hak aborsi, Trump juga melakukannya melalui kebijakan yang lain, juga lewat komentar-komentarnya, yang terkait dengan imigrasi, ketidaksetaraan ras, dan masalah lainnya.

Begitu juga Uskup Mark Seitz dari kota perbatasan El Paso, Texas, baru-baru ini, menulis artikel di majalah Yesuit Amerika, bahwa semangat anti-aborsi telah membuat beberapa umat Katolik “menutup mata” terhadap hal-hal penting lainnya. Seitz mengatakan dia tergerak oleh janji kampanye Biden untuk “mengatasi perubahan iklim, menciptakan jalan menuju kewarganegaraan bagi yang tidak berdokumen, memulihkan perlindungan bagi pencari suaka, dan tidak pernah mengulangi praktik kriminal memisahkan keluarga di perbatasan.” Lanjut Seitz, Trump “telah menyuarakan dukungannya untuk kehidupan yang belum lahir, tapi presiden juga telah mencemari tujuan pro-kehidupan dengan individualisme dan pemujaan kekayaan, keserakahan dan selebritas, yang dengan sangat cepat mengikis solidaritas dan merendahkan kehidupan.” [5]

Ucapan Selamat dari Paus Fransiskus

Menurut Associated Press, Presiden Terpilih Joe Biden telah berbicara dengan Paus Fransiskus pada 12 November, meskipun Presiden Trump masih menolak untuk menyerah. Tim transisi Biden menyatakan bahwa presiden terpilih berterima kasih kepada Paus Fransiskus atas “berkat dan selamat yang telah diberikan, dan sangat menghargainya.” Dia juga memberi hormat kepada “kepemimpinan Paus dalam mempromosikan perdamaian, rekonsiliasi, dan ikatan bersama umat manusia di seluruh dunia”. Biden berharap dapat bekerja sama dengan Paus Fransiskus dalam masalah-masalah seperti perubahan iklim, kemiskinan dan imigrasi. Vatikan tidak mengomentari panggilan tersebut. [6]

Demikianlah berita yang bisa dirangkai dalam satu konteks. Untuk membacanya secara lengkap, bisa melihat ke sumber berita yang tercantum di bawah tulisan ini.

Henry C. Widjaja, Kontributor, IG/FB: @henrycwidjaja

Dari berbagai sumber:
1) https://www.cnbcindonesia.com/news/20201006193712-4-192360/serang-biden-trump-gunakan-anti-aborsi-jadi-senjata
2) https://en.wikipedia.org/wiki/Abortion_in_the_United_States
3) https://www.thethinkingconservative.com/father-ed-meeks-on-staring-into-the-abyss/
4) https://www.lifesitenews.com/news/americans-organize-prayer-marches-for-trump
5) https://abcnews.go.com/Politics/wireStory/moment-turmoil-us-catholic-bishops-meet-virtually-74217965
6) https://www.latimes.com/world-nation/story/2020-11-13/biden-receives-congratulatory-call-pope-francis

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here