Uskup Maumere, Menjadi Imam Bukan Pejabat yang Diagungkan Tapi Pelayan Bagi Orang Kecil

84
Uskup Maumere, Menjadi Imam Bukan Pejabat yang Diagungkan Tapi Pelayan Bagi Orang Kecil
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM-“BEGE Kumak Bura” dan Tarian Hegong antar 4 Diakon Karmel menuju Kapela Dyonisius untuk ditahbiskan.

Musik Gong Waning “Bege Kumak Bura” dan Tarian Hegong yang merupakan salah satu tarian kebesaran masyarakat Sikka menyemarakkan susana tahbisan empat diakon Karmel, Minggu, 15/11/ 2020.

Musik dan para penari dari Lingkungan Gunung Karmel Wairklau mengantar Diakon yang didampingi orang tua, Uskup Maumere Mgr. Edwaldus Martinus Sedu; Komisaris Komisariat Ordo Karmel Indonesia Pastor Stefanus Buyung, O.Carm; Provinsial Karmel Provinsi Indonesia Pastor Ignatius Budiono, O.Carm; dan 30-an imam menuju kapela Karmel Beato Dyonisius kurang lebih 200 meter dari Biara Induk.

Setibanya di pintu masuk disambut dengan koor dari guru dan peserta didik SMAK Alvares Paga. Suasana meriah menghadirkan umat walau Sikka pada zona Hijau tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker.

Keempat Diakon dalam Karmel yang menyerahkan diri untuk ditahbiskan adalah Nikolaus Jata, O.Carm asal paroki St. Eduardus Nangapanda Keuskupan Agung Ende dengan mengusung moto tahbisan “Terjadilah Padaku Menurut PerkataanMu ( Luk 1 : 38b); Stefanus Fua Tangi, O.Carm asal paroki Roh Kudus Mataloko Bajawa dengan moto “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku ( Maz.119: 105). Antonius Iki, O.Carm asal paroki St. Fransiskus Xaverius Koting Maumere dengan moto “Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu (Mzm. 119:88); dan Fransisko Febrianto Wutun, O. Carm asal paroki St. Thomas Morus Maumere dengan moto tahbisan “Segala Perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku ( Filipi 4: 13).

Uskup Edwal pada pentahbisan  empat diakon ini menegaskan menjadi imam adalah menjadi pelayan yang berusaha menyebarluaskan kasih Allah lewat pewartaan dan sikap hidup. Menjadi imam bukanlah pejabat yang diagung-agungkan tatapi menjadi pelayan bagi sesama.

“Menjadi Gembala pada zaman ini harus siap terluka tetapi tetap berusaha agar satu domba pun tak hilang,” tandas mantan Vikris Jenderal Keuskupan Maumere ini.

Provinsial Karmel Provinsi Indonesia Pastor Ignatius Budiono, O.Carm dalam sambutannya sempat mengundang gelak tawa dari pastor dan umat yang hadir. Menyentil bacaan I dari Kitab Amsal 31: 10 berkata “Istri yang cakap siapakah yang mendapatkannya?”

“Bagi empat diakon ini tidak bisa memiliki istri karena sudah ditahbiskan menjadi imam,” kata pastor Budiono sembari mengatakan istri dari empat imam baru mulai hari ini adalah gereja.

Imam Baru Pastor Fransisko Febriano Wutun, O. Carm mewakili temannya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak dan dengan rendah hati meminta dukungan doa dari uskup Maumere, para imam, orang tua dan umat seluruhnya

“Menjadi imam pada zaman sekarang tidak mudah. Tawaran kenikmatan duniawi tak dapat dihindarkan. Sebagai manusia yang rapuh kami sangat membutuhkan dukungan doa,” pinta pastor Fandi.

Pada kesempatan pastor Provinsial Budiono juga membacakan tempat tugas dari empat imam baru itu.

Pastor Nikolaus Jata, O. Carm ditempatkan di paroki Sorong Manokwari, Pastor Stefanus Fua Tangi ditempatkan di SMAK Jember Jawa Timur, Pastor Antonius Iki di Novisiat Karmel Nita Maumere dan Pastor Fransisko Febriano Wutun ditempatkan di sebuah paroki di Sumba Barat Daya.

Yuven Fernandez (Maumere)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here