Agustinus Purna Irawan: Terkenang Kampung Halaman

168
Agustinus Purna Irawan (paling kanan) bersama keluarga
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM – BAGI Agustinus Purna Irawan, akrab disapa API, suasana Natal seperti di desa kelahirannya tak terlupakan selama ini. “Dulu kami dan seluruh masyarakat, termasuk non-Katolik, selalu berbaur dan saling mengunjungi,” ujar kelahiran Tugumulyo, Musirawas, Sumatera Selatan ini.

Di desa, kata API, semua orang merasakan kebersamaan, damai sekali rasanya. Indahnya sebuah persaudaraan. “Menjelang Natal, keluarga kami selalu membuat makanan dan mendirikan Kandang Natal di rumah. Bersama umat lain, membuat persiapan Misa di gereja,” tutur mantan misdinar ini. “Setelah itu kami saling berkunjung antarsanak saudara dan tetangga seperti merayakan Idul Fitri,” timpalnya.

Saat merantau, kuliah Teknik Mesin di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ia sangat menikmati suasana Natal di gereja. Selesai Misa, ia lanjutkan ziarah ke Gua Maria terdekat yaitu Jatiningsih, Godean. “Hampir setiap minggu saya berdoa di sana,” ujarnya. Gua itu berjarak 20 menit naik motor.

API sebagai dosen muda kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 Teknik Mesin di Universitas Indonesia dan menjadi Profesor di Untar dalam usia 43 tahun.  Di Untar, ia pernah sebagai Sekretaris Jurusan Teknik Mesin, Dekan Fakultas Teknik, dan Rektor sejak 2016. Saat ini ia mengampu tujuh mata kuliah, mengepalai Laboratorium, dan Bidang Keilmuan. Ia sudah mendapat lebih dari 25 kali hibah penelitian, menghasilkan seratusan karya tulis ilmiah, enam buku, tujuh paten, empat granted, dan enam hak cipta. Baru-baru ini ia didapuk menjadi Ketua Ikatan Dosen Katolik Indonesia.

Sekarang, sebelum pandemi, di Jakarta, suasana Natal lebih tampak di gereja dan mal, kurang terasa di tengah-tengah masyarakat. Di rumah, masih ada kegiatan seperti memasang kembali pohon Natal. Setelah itu API dan istri, Dwinita Laksmidewi beserta ketiga anak bermain musik dan menyanyikan lagu Natal. “Keluarga besar masih suka berkumpul, selebihnya jalan-jalan di mal,” tuturnya. Sesekali ia tak sungkan menemani gadis kecilnya main perosoton di mal.

“Di gereja pun, tugas Misa Natal biasanya sudah digilir atas wilayah dan lingkungan,” kata penyanyi mazmur di gerejanya. Kalau di desa, kenang API, semua umat terlibat, yang bertugas maupun tidak. Maklum, di Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang, Keuskupan Agung Jakarta, tempat ia terdaftar, jumlah umat sangat banyak. Desa sekarang pun sudah berubah, sahabat kecil sudah menjadi orangtua atau bahkan pindah ke tempat lain.

Di masa pandemi ini, orang merayakan Natal dengan sikap waspada dan ragu-ragu untuk bertemu secara fisik. Karena itu, bagi API, mungkin inilah saat tepat untuk menghadirkan kembali makna Natal yang sesungguhnya, yaitu datangnya Imanuel, Sang Penyelamat manusia. Menerawang ke Bethlehem 2020 tahun yang lalu, dalam suasana yang hening. Anak Allah telah datang, lahir di kandang domba.

Sebagai pemandu Kitab Suci di paroki, API berpegang pada beberapa ayat kesukaannya. Misalnya, “Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”, “Serahkan kekawatiranmu pada Tuhan”, “Jangan takut, Aku menyertai kamu sampai akhir zaman”, dan lain-lain.  Dengan semua keyakinan itu, API berharap, semoga pandemi cepat berlalu pada tahun 2021.

Cosmas Christanmas, Kontributor

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here