Kardinal Suharyo: Majalah HIDUP Harus Membantu Orang Bertemu “Sang Hidup” dan “Sang Kasih”

79
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM – TAHUN ini, Majalah HIDUP merayakan 75 tahun. Kendati perayaan di tengah pandemi, ada sukacita yang dirasakan seluruh karyawan/karyawati, para donatur, dan pelanggan Majalah HIDUP serta umat beriman lainnya.

Sebagai ungkapan syukur, perayaan 75 tahun Majalah HIDUP dipuncaki dalam Ekaristi kudus di Gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Katedral Jakarta, Selasa, 5/1.

Bertindak sebagai selebran utama Kardinal Ignatius Suharyo didamping Romo Harry Sulistyo, Romo Hardijantan Dermawan, dan Romo Stephanus Royke Djakarya.

Kardinal Suharyo mengawali khotbahnya dengan sebuah pertanyaan tentang alasan perubahan nama Majalah HIDUP.  “Mengapa pada titik tertentu di dalam perjalanan media Katolik ini, ada perubahan nama dari HIDUP Katolik menjadi Majalah HIDUP?” tanya Kardinal.

Pesan Sipiritual

Menariknya, Kardinal Suharyo tidak serta merta langsung menjawab pertanyaan ini, Uskup Agung Jakart ini memulai dari sebuah penalaran mendalam dalam kerangka refleksif tentang arti dan makna nama HIDUP.

Menurutnya, selain supaya majalah ini lebih dikenal umum, tak terbatas pada kalangan Katolik saja, juga pemberian nama HIDUP memiliki sebuah pesan spiritual.

Mengulas soal makna “hidup”, Kardinal Suharyo mengajak umat untuk bermenung soal penggunaan kata hidup dalam Kitab Suci. “Membaca dan merenungkan Kitab Suci, kata ‘hidup’ muncul bukan persoalan apa hidup itu, tapi siapa hidup itu,” ujarnya.

Sang Hidup

Soal siapa itu hidup, Kardinal menambahkan, beberapa kali dalam Kitab Suci ketika berbicara tentang siapa itu hidup, maka hidup tak lain adalah Yesus. Misal, ada teks yang menyebutkan, “Akulah jalan kebenaran dan hidup…” (Yoh. 14:6); “Akulah kebangkitan dan hidup…” (Yoh. 11:25).

“Jadi bukan sekadar majalah berganti nama menjadi HIDUP, tapi majalah ini bercita-cita membawa pembaca pada sang ‘hidup’ sejati yaitu Yesus Kristus. Lewat sang hidup, kita semua bisa sampai kepada ‘sang kasih’ Ilahi yaitu Allah,” ungkap Kardinal Suharyo.

Persoalannya bagaimana cara membawa pembaca sampai kepada ‘sang hidup dan sang kasih’?

Memberi Makan

Kardinal mengutip Injil Mrk. 6:34-44 tentang Yesus memberi makan lima ribu orang. Dalam teks Misa harian Tahun B ini, Yesus menjawab pertanyaan kekhawatiran para murid ketika hari sudah mulai malam dan mereka belum makan. Para murid meminta orang-orang yang mengikuti-Nya untuk kembali ke kota-kota asal mereka. Berbeda dengan Yesus yang justru berpendapat lain, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Menafsirkan kata-kata Yesus ini, Kardinal berpesan, mereka yang melayani di ladang pewartaan Majalah HIDUP harus berani memberi umat tidak saja santapan jasmani, tetapi juga santapan rohani.

“Lewat penyajian rubrik-rubrik kita bisa menemukan makanan rohani dan jasmani bagi umat. Ada rubrik pewartaan Sabda tetapi juga rubrik-rubrik profan yang bertujuan menggali informasi seputar gereja Katolik untuk pengembangan iman umat,” kata Kardinal.

Tiga Keutamaan

Di akhir khotbahnya, Kardinal berpesan kepada umat beriman khususnya karyawan Majalah HIDUP agar memperhatikan tiga Keutamaan sehingga dapat mencecapi santapan rohani-Sabda Allah: mengecap Sabda Tuhan, mencari kehendak Tuhan, dan melaksanakan kehendak Tuhan

“Tiga hal ini kiranya menjadi kekuatan umat beriman, khususnya para pewarta di Majalah HIDUP agar berani merasakan, memahami dan melaksanakan Sabda Allah dalam karya pelayanannya,” demikian Kardinal Suharyo.

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here