spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Alumni Awam Diusulkan Jadi Dosen STFT St. Yohanes, Perkuat Kualitas Akademik dan Daya Saing

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) St. Yohanes, Sinaksak, Pematangsiantar yang tidak melanjutkan panggilan menjadi imam atau kini berkarya sebagai awam, tapi memiliki kompetensi akademik yang memadai, diusulkan dapat dipertimbangkan untuk kembali ke almamater sebagai dosen.

Gagasan tersebut mengemuka dalam forum diskusi di acara Temu Kangen Alumni STFT St. Yohanes Pematangsiantar di Aula SD Marsudirini, Bekasi, beberapa waktu lalu, dalam rangka momentum 40 tahun STFT St. Yohanes. Wacana ini dinilai dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kualitas akademik sekaligus meningkatkan daya saing STFT St. Yohanes di tengah berbagai tantangan pendidikan tinggi saat ini.

Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono (kedua dari kanan) memimpin Misa Temu Alumni STFT Santo Yohanes Sinaksak, Pematangsiantar, Sumatera Utara

Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, yang juga alumni dan pernah jadi dosen islamologi di STFT itu mengatakan, STFT St. Yohanes diharapkan tidak hanya mendidik calon imam, tetapi juga membentuk pribadi-pribadi Katolik yang beriman dan mampu memberikan kontribusi bagi Gereja serta masyarakat.

Dalam diskusi yang dimoderatori akademisi Universitas Tarumanagara Dr. Raja Oloan Tumanggor, Mgr. Yuwono menyinggung pula kebutuhan penguatan tenaga akademik STFT St. Yohanes. Saat ini, menurut pemaparan dalam pertemuan tersebut, jumlah dosen bergelar doktor di STFT St. Yohanes masih relatif terbatas. Jumlah sedikit dosen bergelar doktor ini dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama jika dibandingkan dengan Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Delitua. Kondisi itu menjadi salah satu alasan perlunya memikirkan sumber daya akademik baru yang dapat ikut memperkuat lembaga.

“Salah satu kemungkinan yang mengemuka adalah membuka ruang lebih luas bagi alumni awam yang memiliki kompetensi dan kualifikasi akademik sesuai bidangnya untuk dipertimbangkan menjadi dosen. Keterlibatan mereka diharapkan dapat memperkaya perspektif akademik, memperkuat kualitas pendidikan, sekaligus meningkatkan daya saing STFT St. Yohanes,” kata Mgr. Yuwono.

Alumni Awam Punya Potensi Besar

Gagasan tersebut, kata uskup kelahiran 1964 ini,  sekaligus menunjukkan bahwa kontribusi alumni terhadap almamater tidak harus dibatasi oleh status klerikal. Alumni STFT St. Yohanes kini tersebar di berbagai profesi dan bidang pengabdian di seluruh Indonesia hingga luar negeri. Sebagian menjadi imam, sedangkan mereka yang tidak melanjutkan jalan menuju imamat berkarya sebagai awam di dunia pendidikan, pemerintahan, sosial, profesional, dan berbagai bidang lainnya.

Baca Juga:  Pesta Hari Raya Pemulihan Salib Suci Regio Medan

Pengalaman dan kompetensi yang mereka peroleh setelah meninggalkan Sinaksak dapat menjadi sumber daya bagi pengembangan almamater, katanya.

Menurut Mgr. Yuwono, semangat alumni awam untuk memberikan kontribusi terhadap STFT cukup besar. Karena itu, potensi tersebut perlu mendapat ruang dan dipertimbangkan dalam pengembangan institusi ke depan.

“Penguatan tenaga dosen menjadi semakin penting dalam kaitannya dengan akreditasi, peningkatan kualitas akademik, bertambahnya jumlah frater, serta kebutuhan pengembangan sarana pendidikan dan tempat tinggal para calon imam,” ungkap Mgr. Yuwono.

Pembicaraan tersebut juga bersinggungan dengan perkembangan panggilan dan kebutuhan pelayanan Gereja di Sumatera. Sejumlah keuskupan terus mengirimkan calon imam untuk menjalani pendidikan, sementara kebutuhan pelayanan Gereja semakin luas, termasuk di wilayah misi.

Budaya Saling Mengenal dan Tantangan Publikasi

 Dalam sesi sharing, Pastor Hans Jeharut, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawan KWI, yang juga alumni STFT Sinaksak juga mengajak para alumni melihat kembali potensi besar yang dimiliki STFT St. Yohanes. Menurutnya, salah satu kekhasan alumni STFT St. Yohanes adalah kuatnya budaya saling mengenal dan membangun relasi di antara para alumni.

Dari sisi kualitas sumber daya manusia, imam diosesan Keuskupan Pangkal Pinang ini menilai alumni STFT St. Yohanes mampu bersaing dengan lulusan lembaga filsafat dan teologi lainnya.

“Karena itu, tidak ada alasan bagi para alumni STFT St. Yohanes untuk merasa minder.

Tantangannya justru bagaimana kekuatan tersebut dikembangkan sehingga STFT St. Yohanes semakin dikenal, tidak hanya di Sumatera tetapi juga secara nasional bahkan global,” kata Pastor Hans.

Suasana ramah tamah saat Temu Alumni STFT St. Yohanes

Salah satu bidang yang dinilai masih perlu diperkuat adalah tradisi menulis, penelitian, dan publikasi. Pastor Hans menyoroti masih minimnya tulisan dan publikasi yang dihasilkan atau dipublikasikan oleh kalangan STFT St. Yohanes. Padahal, publikasi menjadi salah satu unsur penting bagi perkembangan sebuah institusi pendidikan tinggi.

Baca Juga:  PERTAMA KALI, WNI MENJADI KEPALA BIARA DI ITALIA

Karena itu, kerja sama antara STFT dan alumni dalam menghasilkan karya ilmiah maupun publikasi populer perlu mulai dibangun secara lebih serius. Ia bahkan melempar sejumlah gagasan untuk membuka STFT terhadap kolaborasi dengan media dan program publik agar diskursus yang berkembang di kampus tidak hanya berhenti di ruang kuliah.

Seperti Apa Imam 15 Tahun Mendatang?

 Selain persoalan dosen dan publikasi, pertemuan tersebut juga melahirkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai masa depan pendidikan calon imam. Pastor Hans mengusulkan perlunya kajian atau survei untuk mengetahui profil imam seperti apa yang dibutuhkan Gereja dalam 15 tahun mendatang.

“Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dunia digital, serta semakin kompleksnya persoalan masyarakat menuntut imam masa depan tidak hanya memiliki kemampuan teologi dan pastoral, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda zaman. Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan Mgr. Yuwono bahwa pelayanan Gereja tidak boleh hanya berkutat pada persoalan internal,” ungkap Pastor Hans.

Imam dan umat Katolik juga dipanggil hadir dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, termasuk persoalan sosial dan kehidupan demokrasi. Dengan demikian, pendidikan di STFT diharapkan mampu mempersiapkan lulusan yang memiliki kepekaan terhadap persoalan Gereja sekaligus realitas Masyarakat, pungkasnya.

Pendidikan Tidak Berhenti di Bangku Kuliah

 Sementara itu, Direktur Urusan Agama Katolik Kementerian Agama RI, Dr. Salman Habeahan, membagikan pengalaman perjalanan hidupnya setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di STFT St. Yohanes. Setelah meninggalkan pendidikan calon imam Keuskupan Sibolga, Salman hijrah ke Jakarta. Pada awalnya ia berpikir tidak lagi ingin berkecimpung dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan lebih tertarik pada bidang sosial-politik. Perjalanan hidup justru membawanya kembali ke ranah pelayanan keagamaan melalui pengabdiannya di Kementerian Agama.

Salman menekankan pentingnya jejaring dan kemampuan alumni memberikan arti bagi orang lain. “Jejaring yang dibangun dengan berbagai kelompok masyarakat dapat menjadi sarana untuk membantu sesama. Alumni STFT karena itu diharapkan hadir dan memberi manfaat di lingkungan tempat mereka berkarya, bukan justru menjadi batu sandungan,” kata doktor lulusan Universitas Negeri Jakarta ini.

Baca Juga:  SK Panitia Diserahkan, Manado Siap Jadi Tuan Rumah Pesparani Katolik Nasional IV

Ia juga mengingatkan bahwa selesainya pendidikan formal bukan berarti proses pembentukan seseorang ikut selesai. “Pendidikan boleh selesai, tetapi pendidikan dan pembentukan diri tidak boleh berhenti,” demikian kata mantan Sekjen Pemuda Katolik ini.

Dari Reuni Menuju Gerakan Alumni

 Pertemuan alumni tersebut akhirnya tidak hanya menjadi ruang nostalgia lintas angkatan.

Diskusi justru berkembang menjadi refleksi tentang apa yang dapat dilakukan alumni secara konkret bagi masa depan STFT St. Yohanes. Salman menegaskan bahwa alumni memiliki peran penting dalam perkembangan almamater. Momentum 40 tahun STFT St. Yohanes, menurut dia, semestinya dapat menghasilkan sesuatu yang nyata.

“Alumni perlu “memberikan diri”, bukan hanya menjadi penonton. Salah satu langkah awal yang didorong adalah lahirnya setidaknya satu kegiatan konkret alumni untuk almamater,” ujar Salman.

Semangat serupa disampaikan Pastor Hans. Menurutnya, momentum 40 tahun tidak semestinya berhenti pada perayaan seremonial, tetapi dapat menjadi titik awal penyusunan roadmap atau peta jalan pengembangan STFT St. Yohanes untuk tahun-tahun mendatang.

“Di dalam roadmap itulah berbagai gagasan dapat dipertimbangkan secara lebih serius: memperkuat jumlah dan kualitas dosen, membuka peluang bagi alumni awam yang memenuhi kualifikasi akademik untuk mengajar, meningkatkan penelitian dan publikasi, memperluas jejaring nasional dan internasional, serta mempersiapkan profil imam yang relevan dengan kebutuhan Gereja masa depan,” tegas Pastor Hans.

Temu Alumni STFT St. Yohanes akhirnya meninggalkan satu pesan penting: meninggalkan Sinaksak bukan berarti meninggalkan proses pembentukan yang pernah dimulai di sana. Para alumni dapat kembali kepada almamater bukan hanya secara fisik dalam sebuah reuni, tetapi juga melalui ilmu, profesi, jejaring, pengalaman, dan kompetensi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Bagi sebagian alumni awam, jalan pulang itu suatu hari bahkan mungkin berbentuk sangat konkret: kembali memasuki ruang kuliah Sinaksak, kali ini bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai dosen. Dari Sinaksak, untuk Gereja dan Bangsa.

 Febry Silaban, Alumni STFT Sinaksak, Angkatan 2006

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles