1. Pesta Ratu Rosario – 7 Oktober
Pesta ini lahir dari peristiwa perang, bukan hanya devosi.
Latar belakang: Pertempuran Lepanto, 7 Oktober 1571
Pada abad ke-16, Kekaisaran Ottoman Turki mengancam Eropa. Armada mereka jauh lebih besar daripada armada gabungan Kristen dari Spanyol, Venesia, dan Negara Gereja.
Paus Pius V, seorang Dominikan, tidak punya kekuatan militer yang cukup. Maka ia memerintahkan seluruh umat Katolik di Eropa untuk berdoa Rosario tanpa henti memohon perlindungan Bunda Maria. Don Juan dari Austria, komandan armada Kristen, membawa pasukannya berangkat dengan pengakuan dosa dan Rosario di tangan.
Pada tanggal yang sama, 7 Oktober 1571, Paus berdoa Rosario bersama umat di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma dari subuh sampai petang untuk mendoakan pertempuran di Teluk Lepanto, Yunani.
Secara mengejutkan, armada Kristen menang. Umat melihatnya sebagai mujizat Rosario.
Sebagai ucapan syukur:
* Paus Pius V menetapkan 7 Oktober sebagai Pesta Santa Maria dari Kemenangan.
* Tahun 1573, Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi Pesta Rosario Suci.
* Paus Klemens XI pada tahun 1716 mengukuhkannya untuk seluruh Gereja.
* Paus Leo XIII kemudian menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario.
Maknanya: Rosario bukan sekadar doa pengulangan, tapi permenungan misteri hidup Kristus bersama Maria, dan senjata rohani orang kecil ketika bantuan manusia sudah mustahil.
2. Yang terjadi di Vienna pada 7 Oktober 1938 – Rosenkranz-Demonstration
Ini adalah perlawanan Katolik pertama yang spontan dan terbuka terhadap Nazi di Austria, dan terjadi persis pada Pesta Rosario.
Konteksnya: Maret 1938 Austria di-annex oleh Jerman Nazi (Anschluss). Awalnya para uskup termasuk Kardinal Theodor Innitzer mendukung Anschluss, berharap bisa hidup berdampingan. Ternyata Nazi membubarkan semua organisasi Katolik, menyita sekolah Katolik, dan menekan Gereja.
Pada 7 Oktober 1938, hari Jumat Hati Kudus Yesus, Kardinal Innitzer mengundang kaum muda untuk ibadat Rosario tradisional di Katedral Stephanus Wina. Panitia hanya mengharapkan 300 sampai 2.000 orang karena semua organisasi Katolik sudah dilarang.
Yang datang: sekitar 7.000 sampai 9.000 pemuda, memenuhi katedral sampai tempat terakhir.
Innitzer berkhotbah dengan kalimat yang menjadi terkenal:
“Gerade jetzt in dieser Zeit umso fester und standhafter unseren Glauben zu bekennen, uns zu Christus zu bekennen, unserem Führer!”
“Justru sekarang di zaman ini kita harus lebih teguh mengakui iman kita, mengakui Kristus sebagai Pemimpin kita!”
Itu adalah jawaban langsung terhadap slogan Nazi “Ein Führer”. Massa meledak dengan sorak-sorai, suasana digambarkan saksi sebagai “unbeschreibliche Stimmung” – suasana yang tak terlukiskan.
Setelah ibadat, para pemuda tidak pulang. Di Stephansplatz mereka menyanyi lagu gereja dan berdemonstrasi spontan di depan Istana Keuskupan dengan teriakan: “Wir wollen unseren Bischof sehen! – Kami ingin melihat Uskup kami!” sebagai pelesetan dari “Wir wollen unseren Führer sehen!” dan “Christus ist unser Führer!”
Reaksi Nazi:
* Malam itu juga polisi dan Gestapo membubarkan dan menangkap 9 pemuda.
* 8 Oktober, keesokan harinya, anggota Hitler-Jugend menyerbu dan menghancurkan Istana Keuskupan Wina. Jendela dipecahkan, lukisan dirusak, mebel dilempar keluar jendela, sementara polisi sengaja diam menonton.
* 13 Oktober, Gauleiter Josef Bürckel mengumpulkan 200.000 orang di Heldenplatz untuk berpidato kebencian melawan Gereja dengan spanduk “Pfaffen auf den Galgen – Gantung para pastor”. 649e
Bagi sejarawan Austria, Rosenkranz-Demonstration 7 Oktober 1938 dianggap sebagai awal perlawanan Katolik Austria terhadap Nasional-Sosialisme.
Jadi tanggal 7 Oktober menghubungkan dua kemenangan Rosario: kemenangan di Lepanto tahun 1571, dan keberanian iman anak-anak muda Wina di Stephansdom tahun 1938.
Bene Xavier dari Vienna, Austria





