HidupTV Siaran Televisi Katolik Pertama di Indonesia yang dapat ditonton melalui Televisi yang menggunakan Parabola KU-Band. HidupTV bersifat Free to Air sehingga anda juga dapat menyaksikan siaran TV Nasional lainnya secara gratis. HidupTV dapat juga ditonton secara Streaming Internet melalui www.Hidup.tv atau www.HidupKatolik.com. INFO: (021) 5491537 atau WA: 0812-8926-7548 (HidupTV) atau email: [email protected]

Kkottongnae: Kampung Bunga dari Korea

59
Monumen: Patung Kakek Choi Kwi-Dong, sang inspirator cinta, ditempatkan di gerbang Kkottongnae.
[NN/Dok. Kkottongnae]
Kkottongnae: Kampung Bunga dari Korea
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Bahkan, jika Anda hanya punya daya untuk mengemis makanan, itu berkat Tuhan. Allah mencintai manusia, entah berdosa atau tidak berdosa, miskin atau kaya.

Lelaki tua berpakaian kumal menggendong karung. Tangan kirinya memegang erat ujung karung itu di atas bahu kanannya, sementara tangan kanannya menjinjing tas berisi makanan hasil dari meminta-minta dan mengais makanan sisa. Pengemis tuna wisma berjalan tertatih melintas di depan Gereja Mu Geuk, di kaki gunung Yongdam, Korea Selatan. Hari itu, Minggu, 12 September 1976. Romo John Oh Woong-jin, dari balik tirai jendela pastoran, mengamati gerak langkah pengemis tua bernama Choi Kwi-Dong itu. Batin Romo Oh terketuk, hasrat keingin tahuan menggelora. Romo Oh, pastor paroki baru, usia tahbisan imamatnya belum genap lima bulan. Ia keluar dari pastoran, lalu mengikuti jejak langkah Kakek Choi, sampai garis akhir si pengemis tua menuju, di bawah jembatan, tidak lebih 1000 meter dari gereja.

Romo Oh terkejut sekaligus terguncang batinnya, melihat apa yang ia jumpai. Delapan belas pengemis tinggal bersama di tempat peristirahatan yang kumuh. Tak seorang pun membantu mereka yang dalam kondisi tidak berdaya, bahkan tidak sanggup hanya untuk meminta sesuap makanan. Di antara mereka, ada yang menderita tuberculosis, sakit jiwa, pemabuk, luka, dan bahkan beberapa diantaranya lumpuh. “Di salah satu tenda, ada tiga orang, bolehlah kalau disebut keluarga. Istrinya menderita tuberculosis, anaknya enam tahun tak bisa berdiri karena kurang gizi. Sementara suaminya pemabuk dan selalu mencurigai istrinya, sehingga sang istri tidak bisa pergi,” cerita Romo Oh kepada HIDUP, di hotel Jayakarta Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, awal Juni lalu.

Romo Oh terpana menyaksikan Kakek Kwi-Dong membagi-bagikan makanan hasil mengemis. Dan, setelah 18 belas tuna wisma itu mendapatkan makanan, Kakek Kwi-Dong baru menyantap makanan yang masih tersisa. Romo Oh pulang ke pastoran, semalaman tidak bisa tidur. Dalam hati ia berkata: “Aku menjadi imam untuk mewujudkan cita-citaku membaktikan hidup bagi orang miskin, tetapi Kakek Choi sudah mempraktikkan cinta, sekalipun dengan kekuatannya yang terbatas untuk meminta-minta. Ia secara fisik lebih buruk dari saya, juga tidak mendapatkan pendidikan seperti saya.”

Pagi hari, dengan uang yang ia punyai, hanya 1.300 Won (Rp 16.000), Romo Oh membeli semen dan mulai membuat batu bata. Satu bulan setelah pertemuannya dengan Kakek Choi, tepatnya 15 Oktober 1976, Romo Oh mulai membangun rumah. Hanya butuh waktu satu bulan, 15 November 1976, rumah dengan lima kamar ini selesai dibangun. Delapan belas tuna wisma dan Kakek Choi menempati rumah ini. Umat setempat menyebutnya “Rumah Cinta”. Inilah cikal bakal Kkottongnae, dalam bahasa Indonesia: Kebun Bunga.

Rumah ini masih utuh dan terpelihara hingga sekarang, menjadi biara para bruder Kongregasi Saudara dan Saudari Yesus Kkottongnae, yang didirikan Romo Oh di kemudian hari. Sementara kompleks Kkottongnae dibangun di bukit Yongdam. Bahkan, Kkottongnae sudah hadir melayani di Filipina, Amerika Serikat, Banglades, Uganda, India, Haiti, Kanada, dan Indonesia.

Siapakah Romo Oh?
Sejak pertemuannya dengan Kakek Choi, seluruh hidup Romo Oh tertuju kepada kaum papa. Di hadapan para imam Keuskupan Ruteng, awal Juni 2015, Romo Oh mengatakan, “Seorang imam yang mulai mengumpulkan uang untuk diri sendiri, ia pantas dikasihani.” Pernyataan ini boleh dibilang cukup untuk menggambarkan sosok Romo Oh. Ia memulai karya pelayanan untuk kaum miskin dengan uang 1300 Won. Karya dan ajarannya telah mengetuk hati jutaan orang. Setiap orang diundang untuk menjadi anggota Kkottongnae, dengan kesediaan mendonasikan 1000 Won (sekitar Rp 12.000). Semuanya untuk karya kasih pelayanan kepada yang tersingkir, sakit, dan difabel.

Ketika memulai karyanya, bahkan umat paroki yang digembalakannya bahu membahu membangun Rumah Cinta. “Ada guru SD memberi 37 Won. Ada umat yang membantu menyumbangkan tenaganya. Banyak umat yang tergerak memberi uang dan tenaga,” cerita Romo Oh.

Kepedulian Romo Oh sebenarnya telah tumbuh berakar sejak kanak-kanak. Ia lahir di Provinsi Chungbuk, 22 Maret 1944. Masa kecilnya diwarnai penderitaan akibat Perang Korea (1950-1953) yang mengakibatkan perpecahan Korea Utara dan Korea Selatan. Pada masa ini, Oh harus menempuh perjalanan kaki delapan kilometer untuk sekolah. Sementara ia pergi pada pagi hari tanpa sarapan. “Ibu selalu memberi harapan, sepulang sekolah Ibu akan menyediakan makan siang. Pulang sekolah, saya hanya kuat jalan empat kilometer. Saya jatuh di pinggir jalan. Akhirnya, ya minum air di sumur, lalu tertidur. Setelah terbangun, lalu melanjutkan perjalanan,” ceritanya, sambil tersenyum.

Pada suatu hari, dalam perjalan pulang, Oh berhenti untuk minum dari air sumur yang sama. Ia melihat seorang pengungsi yang sedang berdebat dengan putrinya soal siapa yang harus makan seekor udang.

Udang ini ditangkap sang putri untuk ayahnya yang kelaparan. Tetapi, sang ayah memberikan udang itu kembali kepada anaknya. Oh yang juga kelaparan, terketuk batinnya, dan bermimpi untuk menjadi orang yang dapat mempersembahkan hidupnya bagi mereka yang sekarat karena kelaparan. Waktu itu, Oh belum menerima Sakramen Baptis.

Kisah duka yang dialami Oh belum berakhir. Ayahnya meninggal, ketika Oh berusia 13 tahun, kelas IV SD. Ia harus menjual kayu bakar. Pada situasi demikian, ia menerima Sakramen Baptis, setelah ibunya lebih dulu dibaptis. Dari kayu bakar, Oh memang bisa mengumpulkan uang tetapi tidak cukup untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Ia belajar di rumah. Ijazah SMP-nya ia peroleh melalui ujian persamaan. Dan, karena mendapat beasiswa, ia melanjutkan ke SMA, dan lulus.

Setamat SMA, Oh menjalani wajib militer. Di tempat ini, kekatolikannya diuji. “Waktu dibaptis, saya berjanji setiap Minggu akan ke gereja. Tetapi, selama wajib militer, tidak ada sarana bagi kami yang Katolik untuk berdoa. Yang ada hanya gereja Kristen Protestan.

Singkat cerita, pada akhirnya Oh berkumpul bersama masyarakat sekitar, dan memprakarsai pembangunan kapel. Gereja ini pernah runtuh akibat angin topan. Berkat bantuan Kardinal Stephen Kim Sou-hwan, yang menyumbang 200 ribu Won, gereja diperbaiki dan diberkati Kardinal Sou-hwan. Pertemuan dengan Kardinal Sou-hwan inilah yang akhirnya mendorong Oh masuk seminari setelah selesai wajib militer.

“Di seminari, saya sudah mengumpulkan barang bekas, lalu saya jual. Hasilnya untuk membantu pelayanan orang miskin di komunitas yang diprakarsai oleh seorang pendeta Protestan. Tujuh tahun saya membantu mereka. Saya membaptis mereka satu persatu. Saya ditahbiskan imam, 3 Mei 1976. Dua hari kemudian, tanggal 5, saya membaptis pendiri komunitas ini. Lalu, komunitas ini diubah namanya menjadi Theresia Kanak-Kanak Yesus,” cerita Romo Oh.

Usai ditahbiskan, Romo Oh diutus untuk menjadi pastor rekan di Paroki Geumwang. Hanya tiga bulan di tempat ini, Romo Oh ditugaskan menjadi gembala di paroki miskin, Mu Geuk, 20 Agustus 1976, atau 21 hari sebelum ia menguntit Kakek Choi.

Bersama kaum papa
Karya yang telah dimulai sejak 29 tahun lalu, kini berbuah melimpah. Kkottongnae bukan saja menjadi rumah singgah bagi gelandangan dan tempat merawat orang sakit, tetapi menjadi rumah keluarga di mana setiap anggotanya belajar saling mencintai. Mereka yang “pulang” ke Kkottongnae akan dirawat sebagai keluarga, dan belajar untuk mengembangkan anugerah talenta yang diberikan Tuhan, seberapapun besarnya.

Bahkan, salam “Saranghamnida!” yang diucapkan dengan meletakkan kedua tangan di atas kepala membentuk simbol hati sudah dikenal warga Korea. Salam khas dari Kkottongnae ini, dalam bahasa Indonesia: “Kami mencintaimu”.

Romo Oh sendiri telah menerima banyak penghargaan, termasuk medali nasional dari pemerintah Korea atas jasanya dalam pelayanan. Romo Oh juga mendapatkan penghargaan Magsaysay Award dari Filipina sekaligus hadiah 50 ribu USD. Uang ini ia pergunakan untuk mendirikan Yayasan Kim Sou-hwan untuk mengenang jasa Kardinal Stephen Kim Sou-hwan. Yayasan ini didirikan untuk membantu anak-anak terlantar di Uganda. Di sana Kkottongnae membangun Kim Sou-hwan Center, cukup untuk 100 anak.

Dari sisi fasilitas, kekayaan Kkottongnae tak terbilang nilainya. Kkottongnae membangun sarana kesejahteraan sosial termasuk rumah sakit, lembaga pendidikan hingga jenjang universitas, rumah retret, serta menyelenggarakan berbagai pelatihan pelayanan. Sosok Romo Oh menggerakkan banyak orang untuk melayani sesama yang menderita.

Maka, Romo Oh pun mendirikan Kongregasi Saudara-Saudari Yesus Kkottongnae (Congregatio  of Kkottongnae Brothers and Sister of Jesus). Pada pesta St Johanes, 27 Desember 1986, Uskup Chongju Mgr Nicholas Cheong (sekarang Kardinal) mengunjungi Kkottongnae dan mengumumkan persetujuannya atas pendirian kongregasi ini. Bahkan, seluruh uskup Korea Selatan menyatakan dukungannya. Romo Oh pun menjawab, “Semua ini bukan saya. Ini adalah karya Roh Kudus.”

Romo Oh mengungkapkan, dirinya tidak mengkonsep sejak awal semua itu. Pada awalnya, banyak orang cemas bagaimana menghidupi dan merawat para tuna wisma, orang terlantar dan sakit, yang semakin hari semakin banyak. Tetapi, Romo Oh percaya Tuhan akan menggenapi semuanya. Ia mengisahkan pengalaman mistik yang meneguhkannya.

Pada 16 Agustus 1978, Romo Oh melihat lelaki tua yang sekarat di Jembatan Bantan atau Jembatan Jordan, Chungpyong. Banyak mobil berlalu dan orang melewatinya begitu saja. Tak seorang pun menolongnya, sebagaimana kisah orang Samaria yang baik hati (Luk: 10:30-35). Karena kebiasaannya menolong, Romo Oh menghentikan mobilnya dan membawa orang itu. Ketika ia membawa orang ini ke rumah sakit, Romo Oh mendengar suara ini: “Adakah hari seindah hari ini? Dengan penuh kebanggaan, aku berterima kasih padamu karena menyelamatkan hidup putera yang kukasihi. Aku akan membuat perjanjian baru dengan kamu: Aku akan menggenapi segala sesuatunya jika kamu menerima saudara-saudaraku yang paling hina dalam namaku.”

Romo Oh bersaksi, sejak itu segala sesuatu untuk pelayanan dimudahkan.

Benidiktus W.

(Visited 1 times, 2 visits today)

Redaksi website HIDUPKATOLIK.COM akan menerbitkan secara GRATIS semua artikel seperti info kegiatan, refleksi, resensi, agenda/rencana kegiatan dan sebagainya di web HIDUPKATOLIK.COM. Semua artikel anda akan kami viralkan juga di semua media sosial. Kami pastikan akan dibaca dan diketahui oleh ratusan ribu pembaca online. Agar dapat diterbitkan, Artikel wajib dilengkapi Foto/Gambar ilustrasi. Kirim ke email: [email protected].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here