Larangan Makan Daging Babi dalam Alkitab. Mengapa?

14852

HIDUPKATOLIK.COM – BABI adalah binatang kontroversial dan kerap menimbulkan polemik di tengah umat beragama. Inti persoalannya, babi itu halal (diperbolehkan) atau haram (dilarang). Yang jelas, ada dua tradisi agama besar yang memiliki larangan untuk memakan daging babi atau berbagai produk yang terkait dengan babi. Mereka adalah agama Yahudi dan Islam. Untuk sejumlah tradisi agama lain, seperti Kristen dan beberapa agama lokal, tidak ada larangan khusus untuk memakan daging babi. Sebagai contoh, dalam kultur masyarakat Papua, babi termasuk binatang yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Dalam setiap pesta, daging babi adalah sajian utama. Sementara itu, dalam masyarakat Tionghoa, daging babi termasuk salah satu menu makanan yang terkait erat dengan adat dan kultur mereka.

Dalam agama Yahudi, larangan untuk makan daging babi adalah sebuah cara untuk menunjukkan identitas ke-yahudi-annya. Kitab Makabe, misalnya, menggambarkan bagaimana revolusi Makabe meletus karena – salah satu alasannya – raja Antiokhus Epiphanes IV, yang berkebangsaan Yunani, memaksa orang Yahudi untuk memakan daging babi dan mereka menolaknya (2 Makabe 6:18 ; 7:1 bdk. 1 Makabe 1:47).

Sama halnya, dalam tradisi agama Islam larangan memakan daging babi termasuk dalam aturan utama tentang makanan. Dalam surah Al-Maidah 3 dikatakan, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih.” (lihat juga dalam Surah Al-An’am 145). Larangan ini cukup penting sehingga di Republik Islam Iran, barang siapa yang membawa daging babi ke negara itu akan dihukum sampai tiga bulan penjara.

Pertanyaannya, mengapa larangan untuk memakan daging babi itu begitu penting bagi kedua agama Abrahamistik tersebut? Dalam pembahasan selanjutnya, saya hanya memfokuskan diri pada larangan makan daging babi dalam tradisi Yahudi. Konsekuensinya, pembahasan ini akan mengarah pada larangan makan daging babi dalam Perjanjian Lama. Sebab, sebagaimana kita tahu, larangan daging babi dalam agama Yahudi berdasar pada larangan yang termuat dalam Kitab Suci mereka (Tanakh) dan dalam tradisi Kristiani, ini menunjuk pada Perjanjian Lama. Lantas pertanyaan lanjutnya, mengapa Alkitab Perjanjian Lama menuliskan larangan tersebut.

Dalam Perjanjian Lama dan Penafsirannya

Satu satu dokumen tertua yang memuat larangan tersebut adalah Kitab Ulangan dalam Perjanjian Lama: “Inilah binatang-binatang berkaki empat yang boleh kamu makan: lembu, domba dan kambing; rusa, kijang, rusa dandi, kambing hutan, kijang gunung, lembu hutan dan domba hutan. Setiap binatang berkaki empat yang berkuku belah yaitu yang kukunya bersela panjang menjadi dua dan yang memamah biak di antara binatang-binatang berkaki empat, itu boleh kamu makan. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari antara yang memamah biak atau dari antara yang berbelah dan bersela kukunya: unta, kelinci hutan dan marmot, karena semuanya itu memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram semuanya itu bagimu. Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya” (Ul. 14:4-8).

Instruksi yang melarang untuk memakan daging babi dalam aturan di atas cukup jelas dan tegas. Hanya saja, alasan yang mendasari larangan tersebut masih tetap tidak jelas. Sebagai contoh, aturan di atas menyatakan, babi dilarang untuk dimakan karena mereka tidak memamah biak. Tetapi, yang cukup membingungkan adalah mengapa ‘tidak memamah biak’ menjadi persoalan. Apa yang salah dengan ‘tidak memamah biak’? Jika memang ‘tidak memamah biak’ itu menjadi batu sandungan sehingga orang dilarang makan, mengapa TUHAN menciptakan binatang tersebut. Ini yang tidak dijelaskan dalam Alkitab. Dan risiko munculnya multitafsir atas teks ini jelas tidak terelakkan.

Tidak adanya penjelasan tentang alasan dan tujuan pelarangan tersebut justru menimbulkan sejumlah perdebatan bagi ahli tafsir atau teolog sejak zaman dahulu. Ambil contoh saja, Filo dari Alexandria, filosof Yahudi abad pertama Masehi. Ia berpendapat dalam risalahnya tentang Hukum Khusus 4:100-107, bahwa daging babi adalah terlarang bagi orang Yahudi karena daging itu paling lezat di antara binatang yang lain dan memakannya akan membawa pada dosa kerakusan akan makanan; larangan hukum ini mengajarkan pengekangan diri dan kesederhanaan. Pandangan Filo ini jelas mengandaikan, babi pada dirinya sendiri adalah binatang yang ‘netral’. Hanya saja, efek yang ditimbulkan dari makan daging babi itu dianggap merugikan bagi perkembangan hidup rohani.

Berkenaan dengan ciri khas ‘memamah biak’, Filo berpendapat, binatang yang memamah biak diperbolehkan untuk dimakan karena sebagai vegetarian mereka selaras dengan jiwa yang santun dan tidak suka dengan kekerasan dan proses memamah  atau mengunyah makanan mereka menjadi model pemamahan intelektual murid yang merenungkan prinsip-prinsip pengetahuan yang diajarkan oleh guru mereka. Memang di sini, orang akan bertanya, apakah makanan yang dimakan sangat mempengaruhi karakter seseorang? Apakah mereka yang memakan daging sapi, kemudian akan menjadi lebih lemah lembut daripada yang tidak memakan?

Pendapat lain yang lebih umum dan meyakinkan diungkapkan oleh Moses Maimonides, seorang rabi Yahudi di Abad Pertengahan di Spanyol (1135/1138-1204). Menurutnya, Taurat melarang babi sebagai makanan karena pola hidup babi dan makanannya itu kotor dan jorok; memakan daging babi akan membuat kotor rumah dan jalan, dan membuatnya akan lebih kotor daripada septitank (Tuntunan bagi mereka yang dalam kebingungan 3:48). Ia juga mengutip pernyataan dari sebuah Talmud: “Mulut babi itu kotor seperti kotorannya sendiri” (Talmud babilonia. Ber. 25a).

Penafsiran Moses Maimonides ini kerap menjadi alasan umum untuk menjelaskan pelarangan makan daging babi. Babi memiliki kebiasaan makan yang berbeda dengan binatang ternak lainnya yang dikembangbiakkan sebagai makanan, baik di Israel kuno maupun di dunia modern, seperti sapi, kambing, dan biri-biri. Babi tidak hanya tidak memamah biak atau makan rumput, tetapi mereka juga makan limbah berbagai macam hal, seperti kotoran binatang atau manusia, atau sampah berbagai macam hal, dan mereka juga akan makan daging, termasuk daging manusia dan bahkan anak-anaknya sendiri. Tambahan lagi, Maimonides menyinggung perilaku babi lainnya yang tidak menyenangkan yaitu berkubang dalam air kencing dan kotoran ketika mereka tidak memiliki lumpur untuk menutupi kulitnya.

Apakah penafsiran Moses Maimonides ini masih relevan dengan zaman modern di mana peternakan babi sekarang ini sangat memperhitungkan dan mempertimbangkan masalah kebersihan? Pada zaman Moses Maimonides, pada zaman Abad Pertengahan, mungkin pengembangbiakan babi masih ala kadarnya dan tidak mempertimbangkan kebersihan.

Faktor Geografis

Terlepas dari penafsiran di atas, pertanyaan mengapa penulis Perjanjian Lama mencatat larangan untuk makan daging babi masih perlu dijawab lebih mendalam. Pertama, kita akan melihat aspek geografis dan kebiasan hidup babi.

Marvin Harris, seorang antropolog dalam karyanya, The Sacred Cow and the Abominable Pig: Riddles of Food and Culture, memberikan penjelasan secara lebih modern dan ilmiah mengenai pola dan kebiasaan babi dalam kaitannya dengan konteks alam di mana mereka hidup. Orang Israel kuno dan bangsa lain di Timur Tengah kuno menghindari babi lantaran tanah tempat mereka hidup tidak memberikan persediaan air yang cukup. Menurutnya, babi tidak hanya membutuhkan air yang berlimpah, yang jelas sangat sulit ditemukan di Timur Tengah kuno, tetapi mereka juga akan berkembang biak dengan baik jika berada di area yang penuh hutan di mana mereka dapat mencari makan. Lantaran hutan juga amat jarang di Timur Tengah, babi juga sulit berkembang di sana.

Selain itu, babi juga gemar mendinginkan diri mereka dengan berkubang di lumpur atau di kolam yang dangkal. Lingkungan yang panas, kering dan tanpa tumbuh-tumbuhan sangat tidak mendukung untuk babi dapat bertahan hidup. Faktor geografis inilah yang tampaknya menjadi alasan mengapa makan daging babi dilarang. Sebab, memelihara babi adalah pekerjaan yang amat merepotkan. Meskipun demikian pendapat Marvin Harris ini dapat dibantah. Sebab, ada bukti arkeologis dan tulisan yang menunjukkan bahwa mengembangbiakan babi di Timur Tengah bukannya tidak mungkin. Bangsa Filistin kuno telah melakukannya. Lepas dari sanggahan terakhir ini, secara alamiah babi lebih suka hidup dan mencari makan di area berhutan dan dekat dengan sumber air.

Masih berkaitan dengan faktor geografis, Brian Hesse dan Paula Wapnish dalam artikelnya ‘‘Can Pig Remains Be Used for Ethnic Diagnosis in the Ancient Near East?’’menegaskan, babi adalah binatang yang paling tidak toleran dengan kondisi panas dan tidak mudah digembalakan sepereti halnya domba, kambing atau ternak lainnya. Berkaitan dengan ini, Marvin Harris juga pernah berkomentar, ‘‘Bagi bangsa nomadik yang berprofesi sebagai penggembala seperti bangsa Israel selama beberapa tahun dalam pengembaraan mencari tanah….menggembalakan babi adalah sesuatu yang mustahil”. Di samping itu, dagi masyarakat zaman dahulu, babi dianggap memiliki nilai ekonomis yang kecil. Tidak seperti domba dan kambing yang susu dan bulunya masih dapat dipergunakan, daging adalah alasan praktis mengapa babi dikembangbiakkan.

Aspek Ritual

Selain aspek geografis yang menjadi dasar hipotesis mengapa ada larangan makan daging babi, aspek lain yang penting untuk ditelusuri berkaitan dengan larangan tersebut adalah aspek ritual.

Dalam Perjanjian Lama, sebagian besar teks yang berbicara tentang larangan makan daging babi terkait dengan masalah ritual. Secara lebih spesifik, hukum ketahiran (atau kemurnian atau kebersihan). Maksudnya, orang Israel dilarang makan daging babi supaya ketahirannya sebagai umat TUHAN (Yahweh) tetap terpelihara. Mary Douglas, seorang ahli dalam antropologi agama, dalam bukunya Purity and Danger: An Analysis of the Concepts of Pollution and Taboo, berpendapat bahwa larangan makan daging babi berhubungan dengan ide orang Israel tentang kekudusan, ketahiran, keutuhan dan normalitas. Hukum tentang makanan, termasuk larangan makan daging babi, dimaksudkan untuk meneguhkan ide tersebut. Douglas mengatakan: ‘‘menjadi kudus adalah menjadi utuh, menjadi satu; kekudusan adalah kesatuan, integritas, kesempurnaan setiap individu dan sejenisnya. Hukum tentang makanan dapat membangun metafor atau simbol tentang kekudusan dalam garis yang sama.” Menurut Douglas, babi tidak masuk dalam klasifikasi makanan yang mendukung gagasan kekudusan bagi umat Israel. Selain itu, fakta bahwa babi terkadang memakan bangkai dan bahwa orang bukan Israel memakan daging babi membuat daging babi menjadi makanan tabu (atau terlarang) bagi orang Israel.

Pendapat lain dikemukakan oleh Nicole J. Ruane, dalam artikelnya “Pigs, Purity and Paternity: The Multiparity of Swine and Its Problems for Biblical Ritual and Gender Construction” dalam Journal of Biblical Literature 134 (2015). Ia berpendapat, ketidaktahiran babi tidak terletak dari apa yang mereka makan, tetapi lebih pada bagaimana mereka kawin dan bereproduksi. Menurutnya, sejumlah masyarakat memiliki batasan-batasan kultural dan tabu berkaitan dengan reproduksi dan seksualitas. Dalam Perjanjian Lama, misalnya, baik seks maupun kelahiran adalah sumber ketidaktahiran secara ritual (Imamat 12; 15). Segala macam binatang yang dikategorikan bersih yang terdaftar dalam kitab Ulangan memiliki cara reproduksi yang berbeda dengan babi: mereka umumnya melahirkan satu atau dua anak. Tidak seperti sapi, domba, kambing, dan rusa atau sejenisnya, babi melahirkan banyak anak. Dalam dunia modern, rata-rata babi melahirkan 12 anak babi dalam sekali proses melahirkan. Pernah terjadi, seekor babi melahrikan 37 anak. Cara babi melahirkan anak tidak mirip dengan binatang yang tahir lainnya, dan juga tidak mirip dengan orang Israel (dan seluruh umat manusia). Dalam konteks reproduksi ini, babi tidak selaras dengan pola kehidupan komunitas Israel.

Selain itu, menurut Ruane, cara babi beranak pinak secara ‘masal’ tersebut membuat sulit untuk menemukan mana yang sebenarnya anak sulung, atau dalam tradisi Yahudi, anak pembuka bagi anak-anak lainnya. Dalam tradisi Yahudi, anak sulung dari binatang ternak yang berjenis kelamin laki-laki (dan juga manusia) sangat penting karena mereka adalah makhluk kudus sehingga harus dipersembahkan kepada TUHAN. Anak sulung sapi, kambing, dan domba akan disembelih untuk dijadikan korban bakaran atau diberikan ke tempat suci (Keluaran 13:12; Ulangan 15:19-20) atau diberikan kepada Lewi (Bilangan 18:15-17). Menurut kitab Ulangan, satu-satunya persembahan kepada TUHAN yang berupa binatang dan berbeda dengan persembahan pada pesta peziarahan lainnya, adalah anak sulung binatang yang berjenis kelamin jantan (Ulangan 15:19-21). Maka, anak sulung segala hewan ternak yang dikembangbiakan sebagai makanan bagi manusia harus dipersembahkan kepada TUHAN. Nah, mengingat sulitnya menentukan anak sulung babi karena melahirkan dalam jumlah yang besar, maka babi dianggap sebagai binatang yang tidak tahir dan dilarang dikonsumsi.

Fakta bahwa babi dapat menghasilkan banyak anak, mengarahkan orang pada sosok dewi kesuburan. Meskipun tidak ada bukti biblis yang melukiskan secara langsung polemik melawan peribadahan terhadap dewi kesuburan, tetapi gambaran kesuburan dan ritusnya berlawanan dengan konsep biblis tetang kesuburan sendiri.  Dalam Alkitab, kesuburan (binatang) betina – dan juga jantan – umumnya diminimalisasi dan dikontrol. Seks, kelahiran dan reproduksi lain dianggap tidak tahir dan harus dikontrol dengan berbagai ritual (lihat Imamat 12; 15). Dalam Alkitab, Yang-Ilahi (yang kerap diasosiasikan dengan maskulinitas) mengontrol rahim dan apa yang keluar daripadanya: “Segala apa yang lahir terdahulu dari kandungan, Akulah yang empunya, juga segala ternakmu yang jantan (Kel 34:19). Sejumlah teks Alkitab menekankan bahwa Yahweh sendirilah yang memiliki kuasa untuk membuka dan menutup rahim serta menciptakan apa yang ada di dalam rahim (misalnya, Kej. 20:18; 29:31; 30:2, 22; Ul. 28:11; 1 Sam 1:1-11; Mzm 139:13; Yes. 44:2, 24; bdk. Bil. 5:21-27). Gambaran tentang babi betina yang melahirkan anak banyak ini, menjadi tantangan gambaran kesuburan yang dikontrol oleh Yahweh dalam Alkitab.

Aspek Identitas

Satu aspek lain dari larangan makan daging babi dalam Alkitab adalah identitas orang Israel sebagai umat Yahweh. Umat Israel adalah umat kudus bagi TUHAN. Kudus di sini tidak harus dipahami secara moral. Kata ‘kudus’ – yang dalam bahasa Ibrani adalah kadosh (yang berarti terpisah atau berbeda dari yang lain) mengandaikan bahwa bangsa Israel dipisahkan oleh Yahweh dari bangsa-bangsa lainnya untuk tujuan dan maksud tertentu. Karena itu, larangan makan daging babi harus dipahami dalam konteks upaya bangsa Israel untuk membedakan dirinya dari bangsa-bangsa lain. Jika bangsa-bangsa lain makan daging babi, mereka tidak memakannya untuk menunjukkan identitas diri mereka yang khusus.

Jika berkaitan dengan upaya untuk meneguhkan identitas, terkadang penjelasan alasan atau latar belakang aturan dan larangan untuk memelihara identitas itu, tidak terlalu dipentingkan. Apalagi jika aturan dan larangan tersebut sudah masuk di ranah ritual. Menjadi agak tabu untuk mencari tahu apa arti dan maksud dari aturan dan larangan itu. Yang terpenting adalah pelaksanaannya dari aturan tersebut. Dalam hal ini, larangan makan daging babi mungkin memiliki banyak arti, atau mungkin juga tidak memiliki arti spesial. Fungsi utama dari berbagai ritual, termasuk tidak makan daging babi, adalah untuk menciptakan identitas, yang mencakup religius atau etnis.

Kasus yang sama juga dapat ditemukan dalam ritual sunat. Bagi orang Israel (atau Yahudi), sunat adalah penanda identitas. Sunat memisahkan mereka dari orang yang tidak bersunat. Sama halnya dengan larangan makan babi. Tujuan dari larangan makan babi tampaknya untuk menciptakan identitas religius dengan memisahkan diri dari mereka yang makan daging babi.

***

Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin menyimpulkan demikian. Larangan daging babi dalam Perjanjian Lama harus dipahami dari berbagai macam perspektif atau sudut pandang, seperti geografis, ritual dan identitas bangsa Israel. Namun, yang paling kentara adalah bahwa larangan tersebut bermaksud untuk meneguhkan identitas bangsa Israel sebagai bangsa yang dipisahkan (dikuduskan) untuk Yahweh. Larangan itu pertama-tama ditujukan bagi bangsa Israel yang sedang membangun identitasnya, dan bukan untuk mereka yang lahir dan hidup dalam kultur lain di luar kultur Yahudi.

Sebenarnya, masih ada banyak studi mengapa ada larangan memakan daging babi dalam tradisi agama Yahudi (maupun Islam). Yang jelas, mereka yang berada di luar tradisi kedua agama ini, tidak harus melihat daging babi sebagai makanan yang dilarang. Sebab, setiap agama dan etnis memiliki caranya sendiri untuk membangun identitasnya.

 

Romo Albertus Purnomo, OFM, penulis buku, kolumnis, dan pengajar Kitab Suci di STF Driyarkara atau kursus-kursus Kitab Suci. Alumnus Pontificium Institutum Biblicum Roma.

 

3 COMMENTS

  1. Larangan tetap larangan itu aturan yang harus ditegakkan apalagi datangnya dari Sabda Tuhan, sama saja dilarang membunuh ya dilarang…. jangan dilanggar!!!. even itu sedikit, tidak terlihat, kecil, bahkan besar tetap LARANGAN. Kenapa Tuhan menciptakan aturan… ini untuk mencoba/ menguji hamba2 nya yang takwa, yang beriman. Semua ciptaan NYA mempunyai tujuan. Sama saat Adam dan Hawa dicoba dengan buah Quldi (Apel atau buah apalah)…. Allah tetap menciptakan buah itu dengan maksud dan tujuan. Herannya kenapa masih ragu antara memamah biak, Babi celeng atau peliharaan, meragukan Ajaran Yahudi dan Islam, tetapi secara logika keberadaan Katholik/Kristen hidup di masa antaranya (Sesudah Taurat dan Sebelum Islam) dan padahal Yesus masih mempunyai pertalian dengan Yahudi…. Kalaupun di perjanjian Lama dan Baru terdapat perbedaan itu Salinan yang diperbaharui oleh Ahli Kitab. Seharusnya dipertanyakan kenapa Isi dan esensi ajaran asli harus diUBAH.

  2. Jangan mempetanyakan ketentuan Tuhan yang anda anggap tidak jelas, Padahal jelas larangan. Kalau anda Ragu berarti ada yang dipertanyakan dari keabsahan isi dan konten Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jika anda masih ragu dengan ajaran Anda sendiri bagaimana dengan Umat yang sudah terlanjur berdosa karena melanggar larangannya. Logika berpikir dan keyakinan iman itu harus berimbang. Even minum minuman keras ya itu dilarang… Larangan untuk menikmati anggur yang memabukkan atau minuman keras muncul berkali-kali dalam Alkitab, baik yang ditujukan pada para imam (Im. 10:9), para nazir (Bil. 6:2-3; Hak. 13:4-5, 7, 14), para raja (Ams. 31:4) maupun orang biasa (Ams. 20:1; Yes. 5:11, 22). Ibarat kotoran sekresi (buangan dari pencernaan) meskipun itu kecil tetap kita pantang karena ini kotoran. apa bedanya Kotoran pup sedikit dan minuma beralkohol sedikit…..SAMA

  3. Tetap Sama dan masih menjadi Larangan dari Ajaranmu. Dan itu harus dipantang… Esensi penjanjian lama yang baik seharusnya dipertahankan bukan dihilangkan atau diubah sama sekali. Seperti update antivirus pada komputer. Data jumlah virus yang berkembang sesuai jaman terus diupdate dan diperbaharui…. jumlah urutan/pola virus/ varian virus tidak dikurangi sama sekali dari history. Tapi antivirus harus bisa mengatasi jaman yang terus berubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here