spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Jejak Pengutil

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – “MAU kautinggal lagi bayimu?” tanya Mak Jar.

Yang ditanya tidak juga menjawab. Tangannya sibuk memilih baju daster paling besar.

“Kau tak dengar, Sarni kemarin dihajar banyak orang? Dimaki-maki, diseret keluar mini market? Bengep benjol dan pecah bibirnya ditonjoki? Hari ini matanya masih membiru, tak berani ia keluar rumah, takut diburu,” cerocos Mak Jar.

“Makan seadanya sajalah. Masih ada satu cepuk beras itu. Nanti kubikin bubur buat kita bertiga. Masih ada layur sedikit, nanti kubakar untuk lauknya. Cukup itu,” lanjutnya.

Tangan Tarini mengambil satu daster panjang semacam gamis gombrong yang di pinggangnya ada tiga kantong besar. Ditutupnya baju itu dengan outer berwarna krem. Badannya yang tidak gemuk itu telah tertutup sampai ke ujung kaki. Penutup kepalanya merah maroon panjang menutupi punggung.

“Aku titip Vini lagi, Mak,” kata Tarini sambil bergegas keluar dari rumah yang atapnya dipenuhi terpal bekas banner dan ditindih ban-ban mobil.

Mak Jar hanya bisa menggeleng-geleng. Ia tidak mampu memahami gerak langkah anaknya. Benar mereka miskin. Benar mereka tidak cukup makan. Tapi sebenarnya masih bisa hidup, masih sanggup hidup.

“Tiap hari bantu bersih rumah orang. Penghasilan tak seberapa, capeknya buat tidur pun tak ilang. Biarlah aku sedikit senang sebentar,” sanggah Tarini.

Sebenarnya Tarini bukan tak berpendidikan. Ia pernah sampai SMA meski tak selesai, keburu hamil duluan. Rasman meninggalkannya karena berpaling pada Dian, teman SMA Tarsini.

“Diamput, Rasman. Kenapa juga sama Dian. Kalau saja ia kecantol dengan perempuan lain, silakan saja. Tapi Dian, hm, pada perempuan ini aku merasa disaingi,” dengusnya.

Lalu bulan berikutnya, Rasman sudah lenyap, entah ke mana laki-laki kurus jangkung itu. Ia meninggalkan Tarsini dan anak semata wayangnya.

Ingatan Mak Jar meluncur ke minggu lalu ketika Tarini juga akan ‘bekerja’ (ia menyebutnya bekerja, sama seperti profesi/pekerjaan lain yang dilakukan orang-orang). Tarini mengatakan bahwa sesungguhnya ia sanggup hidup miskin. Ia sudah sangat biasa terpaksa puasa. Ia juga tidak malu menunggu di rumah-rumah yang punya hajat, sekadar menunggu nasi dan lauk yang diberikan. Tapi kemelaratan, meski sudah menjadi hari-harinya, jadi menyebalkan juga. Bukan tentang melarat lagi, bukan tentang lapar lagi, tetapi seperti jalan lurus yang teramat panjang, membuat sopir mengantuk. Tentang susu, mie instan, dan kornet memang menyenangkan hati. Hidup terasa lebih lapang, waktu terasa lebih panjang, napas pun sedikit lega meski hanya satu dua hari. Namun, kesenangan, antusiasme, darah yang mendesir penuh semangat telah lama tidak dirasakannya. Ia rindu darahnya berdesir mengalir deras dalam tubuhnya. Ada yang lebih bernilai daripada barang-barang hasil mengutil. Desir jantung yang menghentak dan kelegaan yang dijemputnya setelah lolos rapi dari pintu mini market membuahkan kepuasan tersendiri. Tarini melirik hidup War, kenalannya. Dari daster panjangnya bisa keluar susu bayi berkaleng-kaleng, kornet, dan mie instan. Mungkin bedanya, War sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Itu dibuktikannya lewat satu dua pengalaman War mengutil dan perjalanan barang-barangnya yang sebagian ke dapurnya, sebagian dijualnya dengan harga miring kepada orang lain.

Baca Juga:  Berhala Klerikalisme dan Salib Para Korban

“Hati-hatilah kamu, pemain baru. Aku pernah nyaris ketahuan. Diteriaki karyawan mini market, dikejar orang, untung selamat. Aku menyelinap di belakang gerobak bekas lalu masuk ke lorong sana itu,” cerita War sambil menunjuk sela-sela antara deretan ruko yang menuju ke perumahan di belakangnya.

Pandangan Tarsini meluncur dari ujung telunjuk War menuju gang sempit di antara deretan ruko, di belakang rongsok gerobak. Ia terinspirasi jalan untuk selamat jika suatu kali dalam keadaan terdesak seperti War.

“Pakai ini!” perintah War.

Dikeluarkannya sebuah buntelan kecil kain warna putih.

“Tidak usah kamu buka! Langsung kamu simpan saja, cepat!” perintahnya ketika dilihatnya tangan Tarsini hendak membuka buntelan yang baru diterimanya. Kantong kecil dari kain belacu warna putih kusam dan bertali yang besarnya tidak sampai memenuhi genggaman tangan itu diamat-amatinya sebagai pemuas hati karena War telah melarangnya membuka. Bentuknya menggembung, seperti ada kapas di dalamnya.

Baca Juga:  Membangun Generasi Laudato Si’ melalui Edukasi Gerakan Ekologi Partisipatif

“Simpan, kubilang!” perintah War.

Tarsini tersadar. Matanya menjelajah sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihat dan mendengar percakapan mereka. Segera diselipkannya buntelan itu di BH-nya karena pesan War, buntelan itu harus menempel dengan tubuhnya, terutama selama ‘bekerja’.

“He, kok di situ? Kualat kamu nanti! Aku saja tidak berani naruh di situ. Ni, aku simpan di pinggangku,” kata War menunjukkan jimatnya sendiri. Buntelan yang sama terlihat di lilitan kain serupa setagen.

“Sementara aja. Nanti di rumah aku pakai setagen dulu,” kata Tarini.

“Jangan lupa pesanku. Tujuh hari ini puasa mutih dulu. Biar lebih mujarab,” bisik War.

Tarini mengangguk. Ia akan ingat betul pesan itu. Bagaimana pun sebagian harapannya ditumpukan pada buntelan kain belacu itu.

Mereka segera berpisah karena ada orang berlalu-lalang di sekitar.

Tarini merasa hidupnya menjadi bergairah di pecutan adrenalin yang deras mengalir. Pergerakan yang harus sigap gesit, mata yang selalu waspada, dan kesempatan pada detik-detik yang menentukan, adalah api yang menggelitik panasnya. Ini cara baru menggairahkan hidup.

Mak Jar meraih Vini yang tertatih-tatih jalannya sambil memegangi gendongan kain yang menggantung, tempatnya berayun. Semoga kamu selamat dan penuh berkat, batinnya sambil membayangkan Tarini. Mulutnya menggumamkan darasan doa, mungkin Rosario. Doa yang disungguhinya sekaligus kembali membuatnya gamang. Ia memercayai keampuhan doa bila ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Namun hatinya gamang tiap kali ia sadar bahwa doanya tertuju bagi Tarini yang sedang mengutil di minimarket. Sebagai ibu, ia mendoakan yang terbaik bagi anaknya. Rasanya semua ibu di dunia akan melakukan hal yang sama, belanya pada diri sendiri. Gumaman doanya terhenti. Jantungnya berdegup. Firasat apa ini, tanyanya dalam hati. Ah, ia akan selalu dalam lindungan Tuhan, pikirnya sambil menepis bayangan-bayangan samar yang suram.

Baca Juga:  Dari Chicago dengan Penuh Cinta: Ford Memberikan SUV Khusus kepada Paus

Siang begitu terik. Mak Jar menemani Vini. Batita itu belum lancar berjalan. Agak terlambat, mungkin, karena sudah 18 bulan belum juga bisa berjalan. Ibunya tidak rajin menatih, sedangkan ia sendiri sudah berat untuk membungkuk dan mengejar rangkakan gadis kecil itu. Umurnya baru 50 tahunan tetapi raganya seperti umur 70 tahun. Beratnya hidup menjadi terdakwa pertama, selain juga tidak pernah punya waktu olahraga. Ah, macam orang cukup saja, olahraga. Mereka yang olahraga itu sudah tidak sibuk berpikir makan apa setiap harinya.

Samar-samar terdengar riuh di luar. Ada perempuan yang berteriak-teriak dan melengking suaranya di tengah suara orang-orang, rasanya lebih dari 5 orang. Hatinya terkesiap. Segera diraihnya Vini. Kaki anak itu terayun-ayun di pinggangnya. Di luar, 3 perempuan dan satu laki-laki mengelilingi seorang perempuan berbaju biru berbunga putih. Hatinya berdegup. Seperti baju Tarsini tadi pagi. Ia bergegas mendekat.

“Maak…,” rintih Tarsini begitu melihat Mak Jar.

Mak Jar menghambur memeluk Tarsini. Muka Tarsini lebam-lebam. Penutup kepalanya sudah terlepas entah di mana. Terdengar sumpah serapah beberapa orang di sekitarnya. Mak Jar terus saja memeluk tubuh lemah Tarsini. Ia ingin turut merasakan kepedihan yang dirasakannya. Di luar pencurian yang dilakukannya, bagaimana pun, Tarsini adalah anak perempuan yang selama ini tangguh menghadapi hidup.

Matahari sudah lengser makin ke barat. Orang-orang telah pergi meninggalkan anak beranak itu seiring dengan tubuh Tarsini yang kian berat di pangkuannya. Napasnya telah pergi meninggalkannya. Vini menelungkup lemah di jasad ibunya. Seorang laki-laki mendekati mereka, membantu. Esok paginya, lima orang mengiringnya ke makam. Tanpa bunga, tanpa doa lingkungan di malam harinya.

Oleh Lidwina Ika

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles