HIDUPKATOLIK.COM – MENGENAI Romo Frans Magnis-Suseno, SJ (Romo Magnis) dan karyanya, nyaris tidak ada lagi yang belum ditulis. Banyak orang sudah menulis dalam ratusan judul. Tidak saja tentang filsafat akademik (etika), gagasan, pemikiran dan kegigihannya melawan penindasan martabat kemanusiaan, mengembangkan dialog antarumat beragama, demokratisasi dan politik beretika tetapi juga tentang sosoknya yang humble, unik-nyentrik, apa adanya, otentik-tulus. Romo Magnis ibarat mata air sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Kehadirannya membawa berkat bagi pemuliaan martabat manusia, mengajak orang berpikir rasional-waras dilandasi hati nurani bersih-manusiawi.
Merasa sebagai salah satu murid dan mantan mahasiswanya, saya membuka-buka kembali pemikiran dan gagasannya. Tidak semua bisa saya kuasai mengingat keterbatasan pengetahuan saya. Merunut pengalaman dan kekaguman saya pada Romo Magnis, terbawa ingatan saya pada buku-buku kontemplatif Romo Henri J.M. Nouwen, seorang imam Keuskupan Agung Utrecht yang ditahbiskan tahun 1957 dan meninggal tahun 1996 di Belanda.
Berkat Kardinal Ignatius Suharyo yang sejak sebelum ditahbiskan imamat tahun 1976, setia menerjemahkan lebih dari 30 buku kontemplatif Romo Henri, saya tertarik pada salah satu judul buku di antaranya. Judulnya: Diambil. Diberkati. Dipecah. Dibagikan, Kanisius, terbit 2023, edisi revisi yang terbit pertama tahun 1992. Buku-buku Romo Henri disukai orang. Ia menjadi sangat dikenal. Namun dirinya yang berada di lingkungan ilmuwan tingkat tinggi, hidup bersama orang-orang miskin di Peru, menjalani keheningan batin di biara Trapis, itu justru merasa krasan-home di tengah komunitas orang-orang difabel mental. Salah satu daya tarik tulisan-tulisan Henri Nouwen, demikian Kardinal Suharyo ialah, ia tidak pernah mengadili, tidak pernah memaksakan pandangan, tidak tampil seolah-olah tahu segalanya atau mempunyai jawaban terhadap berbagai persoalan dunia.
Tanpa maksud membandingkan, ketika mencoba menemukan kemiripan Romo Henri Nouwen dan Romo Magnis, saya temukan kata Magis dalam khazanah spiritualitas Ignatian yang dihayati Romo Magnis. Magis bermakna “terus tumbuh menjadi lebih baik”. From good to great. Romo Magnis melakukan Latihan Rohani Ignatian, retret sebulan penuh waktu novisiat tahun 1955-57, anak tangga pertama formasi calon Jesuit. Menurut Al. Andang L. Binawan, “Magnis, Manusia Magis, Berbuah Manis” dalam Franz Magnis Suseno. Sosok dan Pemikirannya, Penerbit Buku Kompas, terbit 2016—bunga rampai festschrift 80 tahun usia Romo Magnis, sekurang-kurangnya ada tiga penanda semangat Magis dalam dirinya.
Pertama, “rakus” dengan buku-buku dan bagaimana ingin lebih tahu dari buku. Kedua, tanpa lelah mengatasi kesulitan mengucapkan bunyi “r”. Ketiga, meminta perpanjangan waktu mendampingi anak-anak Kanisius Jakarta sebab pada tahun pertama (1969) merasa belum berhasil. Sepanjang hidupnya Romo Magnis tidak pernah terlihat sedih, senantiasa gembira, walau kedua lututnya dioperasi, walau saran dan pemikirannya dicibirkan orang, walau ketika sebagai Jesuit muda belajar bahasa Jawa di Boro (Kulon Progo) blusukan di pematang sawah disoraki “Londo edan”. Romo Magnis nyaris tidak pernah memikirkan kepentingan dirinya. Bertambahnya usia, misalnya, itu biasa, tidak perlu dirayakan.
Indonesia, Tanah Air Kedua
Di hari-hari ini ketika usia Romo Magnis genap 90 tahun, fisiknya memang tidak segagah ketika memasuki novisiat, termasuk ketika gemar mendaki gunung — seluruh gunung di Jawa dan beberapa gunung di luar Jawa pernah didaki — olahraga yang dihentikannya sejak tahun 1974. Tidak lagi naik vespa biru kesayangan, tidak lagi juga pegang kemudi. Pendengaran mulai berkurang, rambut putih bak kapas, jalan tidak setegak dulu, kadang-kadang dibantu tongkat. Di luar itu nyaris tidak ada yang berubah, begitu juga senyum ramah kepada siapa pun. Bagi Romo Magnis yang datang di Indonesia tahun 1961, memperoleh kewargaan Indonesia tahun 1977, Indonesia adalah tanah airnya yang kedua.
Romo Magnis adalah pencinta dan pengamat budaya Jawa, tercatat di antaranya lewat buku Etika Jawa (1984), saduran bukunya dalam bahasa Jerman yang terbit tahun 1981. Ia penyuka pertunjukan wayang kulit. Di tahun 70-an ketika setiap bulan ada pementasan wayang kulit di Ancol, ia sering nonton dan bertahan semalam suntuk di sana. Tokoh yang dikaguminya Adipati Karna yang bernama lengkap Karna Basuseno Suryoseputro, saudara seibu dengan Yudhistira, Bima dan Arjuna — anak Dewi Kunti. Karna yang berperang di pihak Kurawa, gugur di tangan Arjuna.
Ia memungut nama Seno dan menambahkan kata “su” yang artinya baik, semata-mata karena bunyinya enak. Ketika tahu Suseno adalah bagian dari nama tokoh yang dia kagumi, ia menjadi semakin gembira (Sindhunata, Anak-anak Ignatius. Kontemplasi dalam Aksi, Gramedia, 2022). Dengan menghilangkan kata “von” yang menunjukkan derajat kebangsawanan tinggi, dikenal luas nama Frans Magnis-Suseno.
Terhadap Indonesia, demikian kontemplasi Sindhunata — mantan muridnya dan sesama Jesuit — Romo Magnis punya sikap seperti Karna. Karna berperang di pihak Astina yang bermusuhan dengan Pandawa – saudaranya –negara yang sudah memberi pangkat dan derajat sebagai adipati. Sejak sebagai warga negara Indonesia, Romo Magnis memberikan hati, diri dan bhakti sepenuh-penuhnya bagi Indonesia. Andaikan ia bukan warga negara RI, mungkin ia hanya menjadi penulis produktif buku-buku dan pengajar filsafat, sementara masalah-masalah di sekitar berada di luar dirinya. Saat ini ia merasa masalah-masalah itu merupakan bagian utuh dirinya.
Seperti Romo Henri Nouwen, status Diberkati – lewat pengurapan sebagai klerus dalam tahbisan imamat, Romo Magnis menempatkan diri pertama-tama dan terutama sebagai imam religius (imam biarawan). Baru kemudian lewat berbagai bentuk karya, dirinya Dipecah-pecahkan. Ia menjadi pribadi yang Dipecah-pecahkan, lantas Dibagi-bagikan sebagai berkat bagi banyak orang. Dalam semangat Magis yang menyatu dalam dirinya yang dihidupinya sebagai anggota Jesuit, Romo Magnis menstranformasi diri dari baik menjadi unggul (Greg Soetomo, SJ, dkk. Semangat Lebih Yesuit, Obor, 2009). Ketaatan dan disiplin menjadi fundasi (fundamentum) mewujud dalam satu bangunan magis, yaitu semangat mencari yang “lebih”.
Hadir dalam pertemuan-pertemuan ilmiah maupun semi-ilmiah — fisafat, sosiologi, politik, konferensi pers — kehadirannya mencolok. Romo Magnis hadir di mana-mana (omni present), tidak dalam arti fisik tetapi dalam segala hal yang berkaitan dengan masalah membangun berpikir kritis, waras, rasional ketika kedamaian hidup bersama terancam, menyangkut masalah kehidupan antarumat beragama maupun rusaknya tata kelola demokratis dan etika berpolitik.
Romo Magnis merambah semua masalah esensial kehidupan agar lebih berkeadilan dan lebih demokratis, tidak saja menyangkut hal-hal yang hakiki prinsipiil, tetapi juga tentang masalah-masalah riil sederhana seperti mengajak masyarakat “menaruh sampah” bukan “membuang sampah”. Ia ibarat “nabi di zaman modern” yang berseru-seru di padang gurun kehidupan yang semakin dikuasai keserakahan, korupsi, kebingungan, dan kebisingan. Ia setia dengan apa yang pernah disampaikan di tahun 80-an, frasa yang lantas dikutip banyak orang, bahwa “tugas filsafat itu seperti anijing menggonggong, bila perlu menggigit”.
Romo Magnis memang pribadi yang mendasarkan hidupnya pada fondasi Magis, berbuah Manis bagi Indonesia. Andaikan saja Tuhan tidak menghadirkan seorang pribadi yang Diberkati, Dipecah-pecah dan Dibagi-bagikan bagi rakyat dan bangsa Indonesia! Syukur pada Tuhan! Selamat merayakan dan mensyukuri 90 tahun usia Romo Frans Magnis-Suseno, SJ!

St. Sularto, Wartawan Senior
Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 21, 24 Mei 2026






