HIDUPKATOLIK.COM – Komunitas Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Banjarmasin (PUKAT KEBAN) melakukan penanaman pohon mangrove rambai (Sonneratia caseolaris) melalui kegiatan bertema, “PUKAT KEBAN: Wujudkan Pertobatan Ekologis Melalui Penanaman Mangrove”.Kegiatan diselenggarakan di Pusat Konservasi Bekantan “Camp Tim Roberts”, kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Sabtu, 18 Juli 2026 lalu.
Sekitar pukul 07.30 Wita, satu persatu anggota PUKAT KEBAN telah berkumpul di depan Wisma Immaculata, Keuskupan Banjarmasin.

Dalam rombongan turut serta Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Victorius Dwiardy, OFM Cap, Moderator PUKAT KEBAN, Pastor Ignasius Tari, MSF, Pastor Ignatius Allparis Freanggono, dan Pastor Hery Berthus Managamtua Simbolon, SJ.
Dari Wisma Immaculata rombongan berangkat pukul 08.00 Wita menuju ke sebuah dermaga yang berlokasi tepat di bawah Jembatan Barito. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan kelotok menuju ke kawasan Pulau Curiak yang berjarak sekitar 14 kilometer dan menempuh waktu selama 30 menitan.

Sebelum tiba di lokasi, kelotok sempat menyusuri tepian Pulau Bakut dan Pulau Curiak, sembari menatap kelompok-kelompok bekantan yang bergelantungan bebas di antara ranting pepohonan mangrove rambai sebagai habitatnya. Tampak sejumlah bekantan tengah menikmati sarapan mereka berupa lembaran dedaunan rambai yang langsung mereka petik dari pohonnya.
Pada pukul 09.15 Wita, kelotok merapat di dermaga yang terletak tepat di depan bangunan Stasiun Riset Bekantan dan langsung disambut oleh tim SBI (Sahabat Bekantan Indonesia).

Kegiatan pagi itu dibuka dengan ibadat sabda yang dipimpin langsung oleh Mgr. Victor. Dalam pengantar Misa, Mgr. Victor menyampaikan bahwa sebagai umat beriman kita tidak hanya membangun pertobatan ekologis, namun juga mempunyai peran di dalamnya. “Kita diingatkan mempunyai ‘utang ekologis’ kepada generasi-generasi yang akan datang. Dan hal itu pula yang menjadi misi dari kegiatan kita hari ini. Perayaan ini bukan sekedar selebrasi, tapi merupakan seruan mendesan bagi kita semua untuk menanggapi krisis ekologis, dengan iman yang aktif dan kasih yang bertanggung jawab.”
Sedangkan melalui homilinya, Pastor Agam, SJ menekankan pentingnya keberlanjutan dalam kehidupan ini. Kepada semua yang hadir, Pastor Agam kembali menggarisbawahi pesan yang disampaikan Mgr. Victor dalam pengantar Misa.
“Bapa Uskup di awal ibadat tadi mengingatkan tentang utang ekologis. Sebenarnya dibalik itu ada pemikiran hidup kita tidak habis sekali pakai, melainkan berkelanjutan,” ucapnya.
Menurut Pastor Agam, apa yang dilakukan bersama oleh rombongan PUKAT KEBAN hari ini bertujuan agar kehidupan di kawasan hutan mangrove rambai ini terus berlanjut. “Kita, PUKAT KEBAN dipanggil untuk berjalan bersama, saling mengingatkan, saling meneguhkan, saling memberikan harapan, bahwa hidup memang harus terus berlanjut, dan Allah ingin agar kita mewartakan Kabar Gembira-Nya sampai akhir zaman.”
Usai ibadat sabda, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan tanya jawab antara PUKAT KEBAN dengan tim SBI. Dalam paparannya, Dr. Amalia Rezeki menjelaskan tentang seluk beluk kehidupan bekantan (Nasalis lavartus).
“Bekantan biasanya hidup dalam kelompok-kelompok. Ada kelompok yang terdiri dari pejantan dewasa dan para betina. Ada pula kelompok-kelompok yang terdiri dari pejantan muda saja, yang sepertinya mengarah kepada pembentukan hirarkhi kepemimpinan di anrara mereka. Para pemimpin bekantan yang sudah sepuh (lanjut usia-red) biasanya lebih memilih untuk mengasingkan diri dan ini menarik sekali,”

Menurut Amalia, pohon mangrove rambai yang akan ditanam hari ini termasuk kelompok mangrove yang tumbuh di pesisir sungai. “Selama ini kita mungkin lebih mengenal mangrove bakau yang umumnya tumbuh di pesisir pantai. Di masa lalu, buah rambai menjadi pelengkap menu makanan khas masyarakat Banjar. Buah rambai biasanya disantap bersama sambal acan (sambal terasi-red) dan ikan sepat kering, yang disajikan bersama nasi hangat,” bebernya.
Feilina Tanzil dalam sambutan singkatnya berujar, “Melalui kegiatan ini kami ingin menerjemahkan semangat Laudato Si’ ke dalam aksi nyata. Merawat lingkungan bukan hanya tanggung jawab pihak tertentu, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kami berharap langkah kecil hari ini dapat menginspirasi semakin banyak komunitas untuk bersama-sama menjaga rumah kita bersama. Kami bersyukur bisa berkolaborasi dan mendapat inspirasi dari teman teman di Sahabat Bekantan Indonesia. “
Senada dengan sambutan sebelumnya, Ketua bidang Pemberdayaan PUKAT KEBAN, Ellyati Kusumo, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sesuai dengan Laudato Si’ yang disampaikan Paus Fransiskus yang bertujuan merawat bumi, rumah kita bersama. “Maka program kerja dari bidang pemberdayaan PUKAT KEBAN pada tahun ini menitik beratkan pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kepedulian terhadap lingkungan.”
Kegiatan ini diakhiri penyerahan kamera pemantau merk Bushnell kepada Dr. Amalia Rezeki oleh Feilina Tanzil, untuk mendukung aktivitas pemantauan satwa 24 jam yang dilakukan oleh Sahabat Bekantan Indonesia.
Penanaman Mangrove Rambai
Siang itu udara cukup terik. Waktu telah menunjukkan pukul 11.20 Wita, ketika satu persatu anggota PUKAT KEBAN menceburkan diri ke dalam kubangan lumpur gambut sepinggang, untuk melakukan penanaman bibit mangrove rambai. Tak ketinggalan Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Victorius Dwiardy, OFMCap dan Ketua PUKAT KEBAN Feilina Tanzil ikut terlibat di dalamnya. Terdengar percakapan penuh senda gurau dipenuhi rasa sukacita ketika aktivitas penanaman bibit berlangsung.
Dalam proses penanaman bibit ini, rombongan didampingi langsung oleh Amalia dan tim SBI. Kegiatan berjalan dengan lancar didukung oleh cuaca cerah. Usai melakukan penanaman bibit di lokasi yang sudah ditentukan, rombongan kembali ke gazebo yang berjarak sekitar satu kilometer. Rombongan berjalan kaki menyusuri jembatan titian kayu yang di tanam di atas hamparan lahan gambut di ruas aliran Sungai Barito.
Secara keseluruhan kegiatan berakhir sekitar pukul 12.00 Wita. Usai santap siang bersama, rombongan kembali ke Banjarmasin dengan menumpangi kelotok yang sama. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, sebab udara siang itu makin panas menggantang.
Upaya Pelestarian Bekantan
Pusat Riset Bekantan di kawasan Pulau Curiak ini termasuk dalam situs Meratus UNESCO Global Geopark. Kawasan ini mempunyai potensi dan nilai pariwisata di Kalimantan Selatan dan masuk pada urutan ke-8. Kawasan ini menjadi role model pengelolaan habitat asli bekantan.
Ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Amalia Rezeki, kepada HIDUP mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilakukan PUKAT KEBAN. Dalam logat Banjar yang khas, Amalia mengaku mendapat kehormatan luar biasa dengan kunjungan ini, karena terbangun kolaborasi lintas agama.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kita bersama dalam pelestarian alam, khususnya melestarikan bekantan sebagai maskot Kalimantan Selatan. Kami berharap dapat terbangun sinergi yang kuat, sebab sudah menjadi niat kita bersama untuk membangun generasi yang memiliki karakter, tidak hanya pada aspek religius, tetapi juga memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan.”
Dalam kesannya, Mgr. Victor mengapresiasi aktivitas pelestarian bekantan yang diinisiasi oleh Sahabat Bekantan Indonesia dengan dukungan “Tim Roberts” dari University of New Castle (UON) Australia ini, “Semoga kegiatan pelestarian tempat ini selalu diberkati Tuhan.”
Sedangkan Pastor Tari, MSF berharap kiranya semakin banyak masyarakat dan komunitas yang berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan hidup. “Hutan seperti ini sebenarnya adalah ‘jantungnya Borneo’. Bekantan, burung curiak, dan aneka satwa yang menjadi penghuni kawasan ini seharusnya hidup harmonis bersama kita manusia,” pungkasnya optimis.
Dionisius Agus Puguh (Banjarmasin)





