HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 6 September 2026 Hari Minggu Biasa XXIII (Hari Minggu Kitab Suci Nasional) Yeh.33:7-9; Mzm.95:1-2,6-7,8-9; Rm.13:8-10; Mat.18:15-20.
HARI Minggu pertama pada bulan September ini kita rayakan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Tradisi biblis dan liturgis yang sudah bertahun-tahun kita pelihara secara nasional mengundang umat Katolik Indonesia untuk kembali menimba dari sumbernya (reditus ad fontes), yakni Sabda Tuhan dalam Kitab Suci.
Solidaritas Keselamatan
Menyadari kenyataan seperti yang diungkapkan oleh penulis Kitab Ulangan, bahwa “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan” (Ul. 8:3), Gereja umat Allah di Indonesia mau mendengar dan menghayati Sabda Tuhan itu dalam hidup bersama yang relasional, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, maupun dengan alam ciptaan. Yang dimaksud sejatinya adalah bahwa kita diberi tanggung jawab atas keselamatan yang lain, sesama saudara kita yang sama-sama menghuni bumi dan alam ciptaan ini sebagai rumah kita bersama.
Kita ingat bahwa pada tanggal 1 September, Gereja Katolik merayakan Hari Doa Sedunia untuk Perawatan Ciptaan (World Day of Prayer for the Care of Creation). Ditetapkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, hari ini menjadi pembuka Season of Creation yang berlangsung dari tanggal 1 September hingga Pesta St. Fransiskus dari Asisi pada tanggal 4 Oktober. Itulah sebabnya Bulan Kitab Suci Nasional mengajak umat untuk lebih peka mendengar Sabda Tuhan yang dibisikkan dalam diri kita, melalui kebutuhan sesama saudara kita yang menderita, maupun lewat jeritan bumi yang merana.
Bacaan-bacaan liturgis pada hari Minggu Biasa ini rupa-rupanya sesuai dengan tema perayaan-perayaan ini. Nabi Yehezkiel dipanggil Allah untuk menjadi penanggung jawab atas kaumnya, berarti menjaga mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa: “…engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku (Yeh. 33:7).
Kejahatan seseorang yang tidak mau mendengar Sabda Tuhan menjadi tanggung jawab Nabi. Ia jadi ikut bersalah hanya karena “tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya” (Yeh.33:8). Benar, akibat perbuatan jahat itu memang tanggungan yang bersangkutan, tetapi pertobatannya menjadi tugas dan tanggung jawab orang pilihan Tuhan.
Kita pun yang mengaku dipilih untuk mengikuti Yesus, harus berani bertanggung jawab atas pertobatan sesama saudara kita yang berada dalam jalan yang tidak baik. Solidaritas keselamatan dengan demikian menghubungkan satu sama lain dengan cara yang lebih erat dan intim, dari pada yang mungkin kita bayangkan. Hidup dan mati dari yang lain berdampak pada kita yang mengetahui jalan keselamatan berkat Sabda Tuhan.
Tegas yang Merangkul
Penginjil Matius menulis: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Kata-kata ini menguraikan aturan dasar untuk hidup bersama sebagai saudara. Prinsip yang pertama ini berarti, jika seseorang menyakitimu, jangan memutuskan komunikasi, jangan biarkan pelanggaran itu mendominasi, jangan mengambil sikap sebagai korban atau orang yang tunduk di hadapan kejahatan. Hal ini malahan akan membuat kejahatan itu semakin kuat. Tetapi mengambil inisiatif untuk melangkah lebih dulu, untuk membuka kembali dialog dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, inilah cara pertama untuk menghilangkan kejahatan, untuk terbebas darinya.
Penginjil masih menambahkan: “Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali.” Ungkapan yang tidak biasa ini cukup menyentuh hati: “mendapatnya kembali”, berarti “memperoleh” seorang saudara, memperkaya diri dengan orang-orang yang kembali menemukan jalan yang benar.
Keuntungan sejati dalam hidup kita itu sama berharganya dengan hubungan baik yang kita bangun. Setiap orang senilai dengan cinta dan persahabatan yang mereka bangun. Suatu komunitas diukur dari kualitas hubungan antar-manusia yang telah dibangun di dalamnya. Tuhan adalah hembusan angin persekutuan yang mendorong kita untuk saling mendekat dan bergandengan tangan berjalan bersama. Tanpa yang lain, manusia itu bukanlah manusia. Injil mengajak kita untuk selalu berpikir dalam peristilahan “kita.”
Penginjil masih menambahkan lagi: “Apa pun yang kamu ikat di bumi ini…” Kekuatan untuk melepaskan dan mengikat ini tidak ada hubungannya dengan aturan ekskomunikasi atau hukum yang semata-mata mengeliminasi. Kewibawaan kristiani ini adalah mandat dasariah untuk menenun struktur rekonsiliasi di dunia: apa yang telah kita kumpulkan di sekitar kita: orang-orang, kasih sayang, harapan. Mereka akan kita temukan bersatu di surga. Dan apa yang telah kita lepaskan: energi kehidupan, keberanian, dan senyuman, itu tidak akan pernah dilupakan; pengalaman belarasa dan belas kasih itu adalah kisah yang suci. Apa yang kita lepaskan akan memiliki kebebasan selamanya, apa yang kita ikat akan memiliki persekutuan selamanya.
Dalam Injil hari ini, ada sebuah nada crescendo tentang komunitas. Hingga penegasan terakhir: di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka. Bukan hanya dalam “aku,” bukan hanya dalam “kamu,” Tuhan berada di antara “aku” dan “kamu,” dalam satu ikatan.
Di awal setiap kehidupan, ikatan itu, seperti dalam Tritunggal itu sendiri. Pembangunan dunia baru dimulai dengan bangunan dasar “aku” dan “kamu” dalam relasi sehari-hari. Tetapi ada yang ketiga di antara keduanya, yang ketiga di antara aku dan kamu, yang namanya adalah Kasih: perekat kehidupan, daya kohesif yang menyatukan dunia. Seperti kata St. Paulus dalam Bacaan Kedua, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rom. 13:10)
Kasih itu ada di antara kita, dengan satu syarat: bahwa kita berkumpul dalam nama-Nya. Bukan karena kepentingan pribadi, bukan karena hal yang dangkal, bukan karena kebetulan, tetapi dalam nama-Nya: mencintai apa yang Ia cintai, mengutamakan mereka yang Ia utamakan, memimpikan mimpi-Nya tentang dunia yang terdiri dari sama saudara, di mana orang yang benar dan orang berdosa, orang yang kejam dan orang yang tak berdaya bergandengan tangan untuk menuju kebebasan dari kejahatan. Bagaimana mungkin kita tidak bebas jika Kebebasan itu sendiri ada di antara kita?
Kita pun yang mengaku dipilih untuk mengikuti Yesus, harus berani bertanggung jawab atas pertobatan sesama saudara kita yang berada dalam jalan yang tidak baik.






