HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 14 Juni 2026 Hari Minggu Biasa XI. Kel.19:2-6a; Mzm.100:2,3,5; Rm.5:6-11; Mat.9:36-10:8
BANGSA Israel meninggalkan Mesir, berjalan dari padang gurun Rafidim ke padang gurun Sinai (bdk.,Kel.19,2). Sebuah perjalanan dari kemapanan menuju ketidakpastian. Pengembaraan tanpa ujung merupakan sebuah pengalaman baru. Di sana ada pengalaman “shock,” terguncang, terkejut. Ada pengalaman hati yang merana, sulit move on, dari situasi kepastian kendati terperangkap menjadi “bangsa kuli” dan budak di negeri Mesir.
Di tengah ketidakpastian di padang gurun itu Allah tampil “mengikat janji.” Janji yang ditawarkan di tengah kepedihan, kelelahan di tengah hamparan padang gurun itu menguji nyali, menantang kesetiaan dan menantikan tanggapan harapan dan menantang optimisme iman.
Di negeri ini, di keuskupan kami, banyak perantau mengembara menyambung hidup. Janji baptis, janji imamat, janji hidup bakti dan nyali menjadi saksi Kristus ditantang. Janji-janji dan komitmen hidup Kristiani ditantang di bawah pohon-pohon perkebunan kelapa sawit, di tengah dering tambang batu bara, emas dan gemuruh sungai dan hutan Kalimantan.
Bangsa terpilih diuji di padang gurun, kita diuji di lahan kelapa sawit, di tambang batu bara dan di tengah jerih payah mempertahankan hidup di hutan-hutan maupun di kota-kota besar. Medan gerak hidup kita bisa saja bising di permukaannya tetapi sering menyimpan kesepian batin sesunyi di padang gurun.
Mengubah diri dari mentalitas, sikap dan tindakan “sebagai budak” menjadi “bangsa pilihan” serti diungkapan dalam Injil: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel.19,6), bukanlah suatu perjalanan iman yang mudah. Pergumulan bangsa Israel untuk menerima tawaran janji Allah dan menghidupinya juga menjadi pergumulan iman kita di masa kini.
Realisme dan pragmatisme hidup sering menjebak pikiran, mengerdilkan hati dan menggiring kita untuk berhenti hanya pada titik-titik gelap dan kelam dari hidup pribadi dan hidup komunal-eklesial kita. Diperlukan suatu keberanian untuk membaca masa lampau dan perjalanan hidup kita dalam kaca mata tindakan Allah dan rahmat-Nya yang terus menuntun kita. Umat Israel diingatkan untuk percaya dan bersyukur atas tindakan Allah: “Kamu sendiri telah melihat apa yang telah Kulakukan terhadap orang Mesir dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan mengantar kamu kepada-Ku” (Kel.19, 4).
Kesadaran akan karya Allah yang terus menyertai dan kesadaran akan identitas diri sebagai bangsa yang lemah dan kecil tetapi dipilih Allah, seharusnya menjadi dasar untuk menerima tawaran perjanjian kasih Allah. Namun dalam kenyataan bangsa terpilih bisa berulah menjadi bangsa yang “bersungut-sungut, yang “tegar tengkuk” suka memberontak dan selalu tidak puas dengan keadaan hidupnya (bdk., Kel. 17, 1-7).
Sejajar dengan perjalanan iman bangsa Israel, kehidupan iman umat Kristiani pun bisa terjebak dalam kekosongan kesadaran dan tanpa rasa syukur atas karya penyelamatan Allah yang luar biasa di dalam diri Yesus Kristus. Janji baptis yang menjadi undangan jalan kesucian bisa terasa sebagai beban. Janji baptis yang dibarui dalam setiap perayaan Paskah bisa terasa hampa. Ada kekosongan eksistensial di mana Allah sepertinya tidak bisa ditemukan dalam Gereja, dalam hati anggotanya dan absen dalam kehidupan keluarga.
Dalam situasi demikian, Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua hari ini mengingatkan jemaat untuk menyadari bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5,8). Ketika dibaptis kita pun menjadi bagian dari “umat pilihan” yang ditebus oleh Kristus, bukan karena jasa kita. Sebaliknya kita yang adalah pendosa diajak bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah (bdk., Rm. 5,11).
Yesus dalam Injil hari ini memanggil keduabelas murid-Nya. Ia memanggil mereka di tengah situasi penderitaan yang mengerakkan hati-Nya. Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat. 9, 36). Yesus memerintahkan mereka yang terpanggil itu untuk pergi kepada “domba-domba yang hilang dari Israel,” (Mat. 9,6).
Di tengah situasi yang memprihatinkan, Yesus melibatkan para Rasul-Nya untuk tetap mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Para Rasul diperintahkan dengan pesan, “Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, sembuhkanlah orang kusta, usirlah setan- setan” (Mat. 10,8). Sama seperti janji penyertaan Tuhan dalam situasi sulit di padang gurun, para Rasul pun diberi kuasa dan janji penyertaan Allah untuk masuk dalam situasi memprihatinkan yang dijumpai-Nya.
Di tengah kesulitan, kesedihan dan ketidakpastian hidup Tuhan ternyata tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia menawarkan janji keselamatan dengan memperlihatkan tanda-tanda penyertaan-Nya yang sangat jelas. Di tengah ketidakpastian dan penderitaan hidup sehari-hari umat Kristiani pun dipanggil untuk percaya akan janji kasih dan penyertaan Allah. Identitas sebagai “umat pilihan” yang dihayati sebagai anugerah gratis akan menjadikan orang Kristiani mewartakan kegembiraan imannya sebagai kesaksian yang dibagikan secara cuma-cuma. Kata-kata Yesus kepada para Rasulnya pun menjadi perintah yang indah bagi kita: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Rm. 10,8).
Kehidupan iman umat Kristiani pun bisa terjebak dalam kekosongan kesadaran dan tanpa rasa syukur atas karya penyelamatan Allah.
Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 24, 14 Juni 2026





