Orang Kudus di Hati

113
Pastor Yoseph Nugroho Tri Sumartono.
[HIDUP/Marchella A. Vieba]
Orang Kudus di Hati
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pastor Sandjaja telah meletakan dasar-dasar spiritul dan karya untuk imam-imam di Keuskupan Agung Semarang. Ia menjadi “popular saint”, orang kudus di hati umat.

Sosok Pastor Richardus Kardis Sandjaja masih lekat tertanam dalam hati umat Katolik, secara khusus umat Muntilan, Keuskupan Agung Semarang (KAS). Bahkan sampai kini, masih banyak umat yang mengenang kisah hidup Pastor Sandjaja. Untuk menggali lebih dalam semangat Pastor Sandjaja, HIDUP mewawancarai Direktur Museum Misi Muntilan, Pastor Yoseph Nugroho Tri Sumartono, berikut petikannya.

Bagaimana Pastor mengenal sosok Pastor Sandjaja?

Saya pribadi berasal dari sini (Muntilan) ya otomatis dari kecil kami sudah dididik dan dibesarkan untuk mengenal Pastor Sandjaja. Kami ini sejak kecil, malah pertama-tama tahu Pastor Sandjaja dulu, baru kemudian Pastor Van Lith. Orang tua kami membiasakan kami seperti itu. Saya sejak kecil tahu, bahwa ada Pastor Sandjaja yang menjadi populer di hati umat di sekitar sini, perannya, doa-doanya, dan sebagainya. Secara personal seperti itu.

Ya sebagai pengantara doa-doa dari kami yang ada di sini, Muntilan dan sekitarnya. Selalu menjadi ingatan dan kenangan. Saya bersekolah di Marsudirini, maka sejak TK kami sudah biasa datang berdoa ke makam Pastor Sandjaja. Biasanya kalau ada perayaan-perayaan, misa, Jumat Pertama, semacam itu, itu menjadi salah satu devosi umat yang ada di sini.

Mengapa orang masih datang berziarah ke Pastor Sandjaja?

Kalau itu saya belum pernah berpikir ya. Tapi secara spontanitas, karena Pastor Sandjaja itu asalnya dari sini, maka kan orang juga mengenal dari antara kita ada “saudara yang sudah di surga”. Akses dan chanel-nya untuk titip-titip pesan pada Tuhan Allah jadi lebih gampang. Mungkin juga karena cerita-cerita tentang Beliau, amat menarik di antara umat Katolik di sini, meninggal karena iman. Anak pribumi, salah satu imam diosesan awal untuk keuskupan ini.

Saya kira itu fenomena yang adalah bagian dari wajah semesta kan. Devosi itu bagian dari wajah Gereja semesta. Ya kebetulan saja figur, pribadi, atau teladannya ini tokoh lokal sendiri. Jadi sesuatu yang berbeda dibanding santo-santa yang kita kenal, yang kita tahu ceritanya tetapi secara afektif. Secara emosional kan oh itu (santo-santa-red) dari jauh sana. Tapi bahwa ini dari antara kami orang Jawa, apalalagi dalam konteks Muntilan, lalu memberi bobot tertentu dalam devosi. Ada juga karena kedekatan emosinya.

Mengapa kerkof itu dikenal dengan kerkof Pastor Sandjaja, padahal banyak tokoh besar lain yang dimakamkan di sana?

Bagi saya itu juga jadi salah satu bukti ya. Yang tadi saya bilang “popular saint” itu. Meski ada tokoh-tokoha lain di kerkof. Kami juga sedang berusaha untuk mengadakan edukasi, bahwa di kerkof itu banyak tokoh-tokoh selain Pastor Sandjaja yang memiliki keutamaan dan keteladanan tertentu. Tapi bahwa kalau orang mengenal, kalau ke Muntilan itu asosiasinya apa, berdoa di makam Pastor Sandjaja. Itu kita kan tidak bisa mengingkari dan mengatakan bahwa ini salah dan ini benar. Dorongan hati dan iman mereka seperti itu dan menjadi warisan turun-temurun dari orang tua
mereka.

Sebagai imam diosesan, bagaimana mengenang Pastor Sandjaja menjadi bagian penting dalam KAS?

Dalam catatan sejarah Unio, imam diosesan pada sepuluh tahun pertama, antara lain adalah Pastor Sandjaja. Jadi ya memang kami mengenang Beliau itu sebagai pastoryang meletakan dasar-dasar spiritulaitas dan karya untuk imam-imam diosesan KAS. Beliau yang menjadi salah satu imam pertama, juga menjadi formator seminari pada awal-awal.

Apalagi dengan kisah kemartiran itu tadi, ya memang untuk kami semua. Pastor Sandjaja meletakan dasar yang cukup kuat sebagai orientasi bagi para imam. Terlepas dari karya imam diosesan sekarang sudah beraneka macam, lebih luas, dan bervariasi, seminari juga sudah berkembang sedemikian rupa, namun kehadiran Beliau tidak bisa dilepaskan lagi dari sejarah.

Meskipun, kita akui lagi, tidak banyak cerita-cerita tentang pribadi Beliau selain dari kesaksian-kesaksian. Catatan-catatan beliau sebagai imam diosesan juga tidak banyak. Tapi kefigurannya itu kuat sekali sehingga kita semua masih mengenang sampai sekarang.

Apakah Pastor sendiri berdevosi melalui Pastor Sandjaja?

Iya berdoa juga. Saya sendiri secara pribadi itu lebih merasa seperti punya teman yng ada di sini yang sudah menjadi tokoh. Jadi kalau saya berdoa di kerkof, ya saya berdoa saja rosario, dan doa lain. Cuma ada perasaan, bahwa ini saya berdoa dengan pastor-pastor yang lain, terlebih dengan Pastor Sandjaja, imam diosesan dari sini juga. Jadi kurang lebih latar belakangnya sama. Darah mengalir dari sungai dan tanah merapi yang sama.

Pernahkan Pastor mendengar secara langsung tentang doa yang terkabul melalui perantara Pastor Sandjaja?

Yang secara langsung saya saksikan tidak. Tapi cerita-cerita itu beredar ya ada. Melihat itu ya bersyukur lah kita melihat orang mengalami kesembuhan ya kan itu berkat. Di tempat lain pun ada. Kebetulan saja di sini Pastor Sandjaja. Kita syukuri sebagai kekayaan Gereja.

Bagaimana terkait dengan kelanjutan proses kanonisasi yang dulu sempat diajukan?

Saya hanya mengingat bahwa apa yang dikatakan Bapak Kardinal, untuk kultur kita Pastor Sandjaja itu sudah jauh lebih dari kebutuhan kita, untuk Beliau diakui secara internasional. Saya kira itu sesuatu yang malah menjawab kebutuhan semua. Karena sudah menjadi “popular saint”, orang kudus di hati kita.

Ada niatan mengajukan kembali?

Belum ada. Dari hierarki juga belum ada. Hanya kalau datang ke rumahnya, kami imam diosesan berusaha merawat ingatan sejarahnya dan ingatan imannya. Misalnya selama tiga tahun ini, frater-frater diosesan KAS biasanya awal tahun atau awal Desember juga mengadakan pekan studi sejarah. Tinggal di Pusat Pastoral Sandjaja Muntilan, kemudian ke kerkof, datang ke makam Pastor Sandjaja. Itu kan usaha untuk memelihara ingatan akan Pastor Sandjaja.

Apakah memperingati 70 tahun wafatnya Pastor Sandjaja akan ada kegiatan khusus?

Tidak ada. Selama ini memang tidak ada. Kalau Misa biasa ya. Tapi kalau yang kegiatan khusus seperti itu tidak ada. Tadi kami rapat Unio juga sudah membicarakan bahwa akan ada peringatan ini, dan apa yang bisa kita lakukan bersama-sama. Ya usulan-usulannya kembali dari pengalaman kami.

Kami nanti cuma mau misa saja. Berkumpul bersama teman-teman yang biasa kumpul. Pastor-Pastor Unio juga mengatakan akan datang juga. Tabur bunga, ya yang rutin-rutin saja seperti itu.

Apa harapan Pastor?

Yang kita usahakan ini kita punya situs misi Muntilan yang lengkap dibanding yang lain. Ada gereja, musium, kerkof, dan lainnya. Kita diberkati dengan apa yang disebut (Alm.) Mgr Johanes Pujosumarto itu berkat rahmat benih-benih iman karena pendiri pendahulu misioner kita sehingga kita punya warisan ini. Adanya musium misi kan untuk menjadi pusat animasi misioner. Selain itu kami menjadi eksplorator agar misi ini tetap berdaya guna, bertumbuh dan berkembang, untuk kekayaan iman kita.

Warisan iman Pastor Sandjaja itu ingin kita hidupkan, masih kita jaga dan kita lestarikan. Kami ingin supaya nilai-nilai dan semangat misioner ini terus menerus dihidupi dalam berbagai bentuk kehidupan dan perutusan umat Katolik di keuskupan ini. Kekayaan-kekayaan iman ini membuat orang menjadi berani untuk hadir dan menjumpai orang-orang di sekitar, mewartakan Injil.

Kita bersyukur sudah 70 tahun ini diberkti dengan darah kemartiran Pastor Sandjaja, Frater Bouwens, dan martir-martir lain yang ada, dengan keteladanan dan keutamaan masing-masing.

Marchella A. Vieba

HIDUP NO.49 2018, 9 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here