Bukan Sekadar Panggilan Tugas sebagai Pembawa Obor Perdamaian Dunia

85
Thomas Sihombing di tengah penduduk Darpur, Sudan.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMTATKALA suhu mencapai 50 derajat Celcius di Darpur, bagian Barat Sudan, Thomas Masnur Sihombing menyambangi sekelompok warga di pinggiran Darpur, salah satu negara bagian di Sudan. Dibantu seorang penerjemah berbahasa Arab, dengan mudah, ia bercengkerama dengan warga. Karena ada atribut bendera Merah Putih di bahunya, warga setempat tahu bahwa ia berasal dari Indonesia, yang berpenduduk mayoritas Muslim. Mereka tidak menduga, pria ini berbeda keyakinan dengan mereka. Apalagi, ia bisa menyapa dengan sapaan khas “Assalamualaikum”, sontak suasana menjadi cair. “Ini suatu kebanggaan tersendiri bagi saya. Maknanya sangat mendalam. Bisa berbagi senyum dan sedikit kebahagiaan dengan mereka yang dililit banyak masalah meninggalkan kesan takkan terlupakan,” ujarnya.

Momen-momen seperti ini tak jarang dialami Thomas selama bertugas membawa Misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di Sudan, ia bergabung dalam The African Union – United Nations Hybrid Operation in Darfur (UNAMID). Jabatannya adalah sebagai Komandan Indonesia Police Officer (IPO) UNAMID dari tahun 2019 hingga 2020.

Medan Berat

Medan berat di Darpur tidak terlalu asing lagi bagi pria eks seminari ini. Tahun 2009-2010, ia merasakan kerasnya hidup di Sudan Selatan, ketika membawa Misi Perdamaian PBB di United Nation Mission in Sudan (UNMIS). Sudan Selatan menjadi sebuah negara merdeka pada 9 Juli 2011 setelah referendum yang diselenggarakan pada Januari 2011 menghasilkan sekitar 99% pemilih memilih untuk memisahkan diri dari Sudan. Pada 14 Juli 2011, Sudan Selatan menjadi negara anggota PBB. Sudan sendiri merupakan negara terbesar ketiga di Benua Afrika setelah Ajazair dan Kongo.

Sebelum diterjunkan ke kedua negara termiskin di Afrika itu, Thomas pernah mengemban Misi Perdamaian PBB di Bosnia Herzegovina tahun 2000-2001. Ketika itu, Yugoslavia pecah menjadi beberapa negara merdeka, salah satunya Bosnia.

Pada setiap medan misi PBB, menurut Thomas, di setiap pundak pasukan diamanatkan tugas untuk melindungi setiap warga negara setempat, memastikan keamanan mereka, mereka bebas dari ancaman ketakutan, dan jaminan hak hidup mereka. “Di Darpur seringkali terjadi konflik horizontal antarpenduduk beda etnis. Ada masyarakat nomaden, Arab berkulit hitam, yang kerap mengalami tindak kekerasan, bahkan sampai pembunuhan,” ujarnya.

Penerjunan pasukan PBB ke setiap wilayah dan negara punya misi yang berbeda-beda, pendekatan pun berbeda-beda. Darpur adalah salah satu wilayah yang sudah cukup lama bergejolak. Sejak 2003, perang saudara telah terjadi. Selama kekerasan tersebut, berbagai kelompok etnis diusir dari tanah kelairan mereka. Terjadi pembunuhan dan pemerkosaan sehingga mereka ditempatkan di kantong-kantong daerah tertentu semisal Internally Displaced Person (IDP).

Kendati saat ini kondisi cukup “kondusif” namun situasi aman (damai) ini tidak bisa diprediksi. Sewaktu-waktu, konflik horizontal bisa meletus. “Pasukan PBB harus berjaga 24 jam. Bukan menggunakan pendekatan keamanan tetapi lebih persuasif, pengobatan, dan pemberdayaan masyarakat,” paparnya.

Sudan, menurut United Nation Development Program (UNDP), adalah salah satu negara termiskin di dunia. Sekitar 80 persen penduduk tinggal di pedesaan dengan rata-rata penghasilan kurang dari satu dolar Amerika Serikat per hari. Karena situasi seperti ini, menurut Thomas, pasukan perdamaian PBB musti siap menyingsingkan lengan baju untuk membantu warga di bidang pertanian.

Air menjadi salah satu masalah besar hampir di seluruh negara Afrika, termasuk di Sudan. Mendapatkan seember air bersih untuk diminum bukan perkara mudah. Apalagi untuk kebersihan dan pengairan pertanian di daerah yang kering dan tandus. Musim hujan hanya sekitar tiga bulan. Musim panas berlangsung lebih lama. Saat musim panas tiba, semua tananam langsung kering dan mati. Kemarau berkepanjangan membawa masalah tak berkesudahan dari waktu ke waktu. Pemerintah hampir tak bisa berbuat banyak.

Karena medan alam yang berat ini, menurut Thomas, setiap anggota pasukan PBB harus mampu beradaptasi dengan situasi setempat. “Tingkat stres bisa sangat tinggi. Namun, karena punya pengalaman di Sudan Selatan, saya dan teman-teman lain, lebih mudah mengatasinya. Misalnya, harus bisa memasak makanan yang cocok dengan lidah sendiri. Jangan pernah berharap pada orang lain,” tambahnya.

 Untuk Gereja dan Bangsa

Lahir di Tapanuli Utara dan besar di Tanapuli Tengah, Sumatera Utara, dari tengah keluarga bersahaja, Thomas tidak pernah membayangkan bahwa, ia akan terpilih menjadi salah satu anggota pasukan perdamaian PBB. Bahkan saat ini menjadi Komandan IPO UNAMID. Setamat SMP, ia melanjutkan pendidikan calon imam di Seminari Menengah “Christus Sacerdos”, Pematang Siantar, Sumatera Utara tahun 1982 hingga kelas Rethorica tahun 1986. Di kelas Rethorica ia menentukan jalan lain, memilih meneruskan kuliah di Universitas Katolik St.Thomas Medan hingga meraih gelar S1 Bahasa Inggris.

Thomas Sihombing

Berbekal titel ini, ia diterima mengajar di postulan sebuah rumah pendidikan biarawan di Mela, Sibolga, Tapanuli Tengah. Namun, jalan hidup tidak ada yang tahu. Tahun 1993/1994 ia diterima di Sekolah Perwira Prajurit Karier (SEPA PK) Kepolisian RI. “Tidak pernah terbayangkan menjadi polisi kerena ketika di seminari, badan saya gemuk dan pendek….,” tuturnya terbahak. “Jalan Tuhan ini, saya jalani dan syukuri untuk berbakti kepada Gereja, Bangsa, dan Negara,” tambahnya terkait lolosnya ia menjadi salah satu anggota kontingen Indonesia dalam beberapa kali perekrutan yang tidak mudah ditempuh.

Kendati diberi masa libur di tengah tugas, Thomas tak menampik, rasa rindu untuk dekat dengan keluarga tercintanya menjadi salah satu tantangan tersendiri. Namun, suami dari Theresia Bakkara dan ayah dari tiga anak yang menginjak dewasa ini tidak mau larut berlama-lama. Banyaknya saluran komunikasi terkini membuat kerinduan itu bisa teratasi.

Bagi Thomas, panggilan tugas Sang Merah Putih untuk berkarya di kancah internasional tak sedikit pun mengurangi rasa cintanya kepada istri dan ketiga buah hatinya. “Ini panggilan mulia. Adalah kebanggaan tersendiri mengabdi dan mengharumkan nama Bangsa dan Negara Indonesia,” imbuhnya menyudahi percakapan.

 FHS

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here