Maria Immaculata Grace Wijaya Susanto: Dokter Gigi yang Bukan Sekadar Pecinta Seni

Keahlian ‘sampingannya’ ini menjadi salah satu sarana dokter gigi ini tak sekada menyapa dan melayani banyak orang.

107
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM– Keahlian ‘sampingannya’ ini menjadi salah satu sarana dokter gigi ini tak sekada menyapa dan melayani banyak orang.

TAHUN 2007, Maria Immaculata Grace Wijaya Susanto bertandang ke salah satu hotel di Semarang, Jawa Tengah. Di tempat itu, ia melihat beberapa orang memainkan gambang di bawah tangga hotel. Grace, sapaannya, melihat, salah satu pemain musik itu ternyata menyandang tunanetra. Namun, keheranannya tidak hanya sebatas itu. Ia bertanya, mengapa mereka tidak memainkan musik mereka di lobby hotel, sehingga lebih banyak yang mendengar permainan musik mereka.

Tak lama sesudah peristiwa itu, Jayadi, salah satu pemain gambang itu mendatangi dan memintanya untuk membeli gendang milikknya. Jayadi memerlukan uang untuk menyekolahkan anaknya. “Bu, belilah kendang ini,” ujar Jayadi.

Namun, perjumpaan itu ternyata menjadi awal dari kerjasama keduanya. Grace bersama suaminya berinisatif mengembangkan Gambang Semarang. Ia merekrut Jayadi sebagai pelatihnya. Mereka juga melengkapi alat-alat musik gambang. Alhasil, hingga kini Gambang Semarang tersebut masih eksis. Kelompok gambang itu dinamai “Nang Nok Gambang Semarang”, nama ini mengacu pada “nang” (kenang) dan “nok” (denok) yaitu sapaan khas bahasa Jawa dialek Semarang untuk anak laki-laki dan perempuan. Tahun 2018 lalu, kelompok gambang yang beranggotakan 12 orang ini tampil di hadapan Presiden Joko Widodo.

Budaya Semarang

Gambang hanya satu dari beberapa bidang kesenian yang menjadi perhatiannya. Jauh sebelumnya, Grace adalah pendiri sekaligus direktur Klub Merby yang sudah sangat dikenal di Semarang. Klub ini berdiri pada 7 september 1989. Di dalamnya terdapat banyak aktivitas seni dan budaya. Sejak berdirinya, klub ini membuka berbagai pelatihan ketrampilan dan kesenian untuk segala usia. Di klub ini juga, setiap orang dapat belajar pengetahuan tentang membatik, wayang, rempah-rempah, membuat jamu, Gambang Semarang, tari, kreasi janur, dan belajar aksara Jawa.

Grace menuturkan, berlatih seni tidak harus pada anak yang berbakat, namun semua bisa melakukannya. Klub berusaha membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berlatih seni. Setelah sekitar 30 tahun, kini klub telah menghasilkan ribuan alumni yang pernah belajar di sini.

Setahun lalu, saat memperingati ulang tahunnya ke-30, Klub Merby menggelar parade dan pagelaran seni di Taman Indonesia Kaya, Jalan Menteri Supeno, Semarang, Sabtu (7/9/2019). Saat itu, Grace mengatakan, kegiatan tersebut dapat mendekatkan anak-anak kepada budaya nusantara.

Kekayaan budaya lain yang menjadi perhatian Grace adalah batik. Tahun 2005, ia pernah berkunjung ke sebuah perkampungan yang pernah menjadi sentra batik di Kota Semarang. Saat itu, ia datang bersama istri Wali Kota Semarang saat itu, Sinto Adi Prasetyorini. Saat kedatangannya itu, Grace mengunjungi satu per satu rumah dan bertanya apakah masih ada anggota keluarganya yang punya riwayat membatik? Ia pun berhasil menemukan beberapa orang yang memiliki latar belakang pembatik. Ia lalu mengumpulkan mereka, membersihkan tempat bersama, dan memulai kembali kegiatan membatik yang dulu pernah sirna. Tahun 2006 silam, tempat ini dibuka dan dihidupkan kembali dan kini dikenal sebagai Kampung Batik oleh masyarakat Semarang. Setelah Kampung Batik dihidupkan kembali, Grace diminta Sinto untuk membantu pegelaran Semarang Pesona Asia.

Pada kenyataannya, menilik sejarah Kota Semarang, pada zaman dahulu disinggahi banyak pedagang dari Tiongkok, Arab, dan Eropa. Dari persinggungan antara pedagang ini dan dengan masyarakat lokal, tentu dapat diangkat pada batik Semarang.

Grace menuturkan, Pemerintah Kota Semarang dapat mengarahkan perajin batik agar melakukan produksi secara teratur. Pemerintah sedapat mungkin membantu mencegah agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat di antara pengrajin.

Ia mencermati, Semarang ternyata menjadi tempat berkembangnya industri jamu. Di Semarang ini, banyak sekali perusahaan jamu yang besar, misalnya Sido Muncul, Jamu Jago, Djamu Leo, Nyonya Meneer, dan Borobudur. “Ini menggugah saya untuk ikut mengembangkan jamu gendong. Kebetulan suami saya yang punya minat besar akan jamu dan sebagai dosen dan peneliti, pernah menuliskannya dan mendapat penghargaan dari Keraton Solo tentang jamu gendong,” imbuhnya.

Tidak berhenti di situ, langkah kecil yang dimulai lagi untuk pengembangannya adalah survei di pasar. Grace menemukan dua pedagang jamu gendong lalu mendampingi mereka dengan baik. Mereka bersedia dibina untuk membuat jamu gendong secara sehat dan bersih, termasuk tempatnya harus bersih.

Indonesia Kaya

Indonesia memang kaya akan budaya dan bahasa ibu. Bahkan sampai pada permainan pun setiap daerah punya kekhasan. Dalam kecintaan akan budaya sekaligus ingin membangkitkan lagi dolanan bocah (mainan bagi anak-anak), Grace tertarik untuk mengoleksi dan mengumpulkan kembali jenis-jenis dolanan, baik alatnya, maupun cara permainannya. Permainan-permainan itu lalu dibuatkan sebuah buku tutorial, berjudul De Dolanan. “Saya kemudian mencari siapa yang bisa mempelajari ini, membuat tutorialnya dan sekaligus memberi kesempatan untuk membantu pengembangan ini,” ujar Grace.

Seni budaya jangan sampai punah dan semakin surut, itu menjadi prinsip Grace yang rela merawat hal-hal sederhana di balik unsur dan fokus yang ia kembangkan itu. Proses menjadikan budaya itu sebagai “milik” diri, yang ditanamkan terus-menerus ini, menjadi bagian dari hidup Grace dan keluarganya.

Deretan ikon-ikon budaya yang menjadi kecintaan Grace nyatanya seakan tidak berujung. Grace menyadari, semakin ia berkarya, semakin terus ia mengeksplorasi apa saja terkait budaya. Uniknya, kekhasan setiap daerah termasuk pakaian adat Nusantara, ada dalam koleksi Grace. “Bahasa ibu sungguh menjadi bahasa sehari-hari di Klub Merby. Dengan ini anak dilatih sejak dini untuk mencintai bahasa ibu, sehingga mereka juga akan mencintai budaya dan karakternya,” tuturnya.

Sekian lama mencurahkan perhatian pada pengembangan budaya, Grace tidak pernah meninggalkan panggilannya sebagai seorang dokter gigi. Setiap hari, ia masih menerima pasien yang datang ke tempanya praktik. Di tengah situasi yang tak mendukung karena wabah virus korona, ia masih rela melayani pasien yang datang. Keahliannya ini menjadi salah satu sarana baginya untuk menyapa banyak orang. Misinya dalam hidup sederhana: ingin melengkapi karya-karyanya sebagai orang Katolik dan sebanyak mungkin menolong mereka yang miskin dan tersingkir.

Data Pribadi
Maria Immaculata Grace Wijaya Susanto

Lahir   : Semarang, 2 Juli 1959
Suami : J. Hardhono Susanto
Anak   : Nino Susanto, Addo Susanto

Pendidikan :
SD Tarakanita, Yogyakarta
SMP Tarakanita, Yogyakarta
SMA Stella Duce, Yogyakarta
Dokter Gigi Universitas Trisakti, Jakarta 1983
Magister Managemen Universitas Diponegoro, Semarang, 2001

Organisasi :

    • Direktur Klub Merby Semarang 1989-sekarang
    • Dewan Pembina Wayang Orang “Ngesti Pandowo” 2009-sekarang
    • Pendiri Roemah Difabel sejak 2017-sekarang
    • Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi ) 2019-sekarang

Penghargaan :

      • Dental Inspiration Award  2017
      • SheCAN Award sebagai Wanita Inspiratif, Dokter Gigi dan Aktifis Budaya 2013
      • Hak Cipta Terapi Gusi – HAKI 2011
      • Women Award Multitasking Markplus 2010

Fr. Nicolaus Heru Andrianto 

HIDUP edisi  18-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here