Di Manakah Tuhan Ketika Tragedi Datang Menimpa?

319
Yeremias Jena, Katekis/Dosen Filsafat di Unika Atma Jaya Jakarta

HIDUPKATOLIK.COM – Epicurus’s old questions are yet unanswered. Is he willing to prevent evil, but not able? then he is impotent. Is he able, but not willing? then he is malevolent. Is he both able and willing? whence then is evil? (David Hume, Dialogue Concerning Natural Religion, Part 10).

Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air (SJ) 182 tanggal 9 Januari 2021, longsor di Sumedang tanggal 9 Januari 2021, banjir bandang di Kalimantan Selatan tanggal 12-13 Januari 2021, dan gempa bumi di Mamuju dan Majene tanggal 14 Januari  2020 membawa korban jiwa dan rasa sedih yang mendalam. Wabah Covid-19 yang diperparah oleh tragedi-tragedi ini semakin menenggelamkan warga ke titik kesedian terburuk.

Spontan kita mengekspresikan rasa simpati dan empati kita. Berbagai ucapan duga dan tagar doa untuk tragedi-tragedi ini memenuhi media sosial. Dalam tragedi jatuhnya Sriwijaya Air, misalnya, beberapa tanggapan sangat manusiawi muncul ke publik ketika orang ramai mencari tahu sosok pilot dan kopilot dan ketika catatan-catatan personal para penumpang dan awak kapal lainnya terus dieksplorasi.

Berbagai catatan atau status di media sosial, kesaksian orang-orang yang selamat sebelum dan sesudah tragedi, penuturan para saksi mata, kisah heroik para penolong, atau bahkan tanda-tanda alam seringkali menimbulkan rasa kagum yang mendalam. Kita menangkap kesan, umumnya mereka yang menjadi korban tragedi itu menunjukkan suatu kedekatan relasional dengan Tuhan, atau sekurang-kurangnya berada pada keadaan batin yang siap menyambut kematian. Rasa kagum ini sekaligus berisi penegasan, bahwa berbagai tragedi di awal tahun 2021 itu telah merenggut nyawa orang-orang baik. Dalam bahasa orang beragama, Tuhan telah menyambut hamba-hambanya yang baik dan setia.

Evakuasi korban Sriwijaya Air oleh Tim SAR

Menggugat Tuhan

Akan tetapi, kesan ini sekaligus juga menimbulkan problem filosofis yang serius. Kita dihadang oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar, mengapa Tuhan harus mengambil hamba-hambanya yang baik dalam cara yang sangat mengerikan? Mengapa jalan kematian itu harus dilalui lewat tragedi dan bencana? Pertanyaan pamungkas sekaligus gugatan akan eksistensi Tuhan mirip seperti apa yang pernah diajukan Epicurus lebih dari 2500 tahun lalu: Tuhan itu maha kuasa jika Dia dapat melakukan segala hal, termasuk mencegah terjadinya musibah dan tragedi. Nyatanya, hal musibah dan tragedi sekarang terjadi. Di manakah atau kemanakah kemahakuasaan Tuhan itu?

Tragedi seperti kecelakaan pesawat terbang, banjir besar, tsunami, gempa bumi dan semacamnya telah menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya sikap ateistik. Di hadapan berbagai tragedi, kaum ateis akan berkata: Tuhan itu ada tapi tidak maha kuasa atau jika Ia maha kuasa maka ia memang tidak ada. Bagi mereka, konsep kemahakuasaan Allah bersifat tidak kompatibel dengan berbagai bencana dan tragedi yang dialami manusia.

Dalam konteks filsafat ketuhanan, pertanyaan-pertanyaan ini masuk dalam tema kritik ateisme terhadap teisme dengan bertolak dari problem kejahatan (evil) (C. Stephen Evans, Philosophy of Religion, 1982: 121-140). Kejahatan (evil) di sini digunakan untuk menyebut masalah-masalah penderitaan seperti sakit yang menahun, sakit yang mematikan, bencana alam, dan sebagainya yang menimpa manusia di suatu waktu tertentu. Masalah-masalah ini yang mendorong kaum ateis menolak adanya Tuhan, terutama konsep mengenai kemahakuasaan Tuhan. Bagi mereka, jika Tuhan itu mahakuasa, mengapa Ia tidak mampu menghentikan dan/atau mencegah terjadinya penderitaan pada manusia? Penderitaan membuktikan atau Tuhan tidak ada atau ia ada tetapi tidak maha kuasa. Dan jika Tuhan ada tapi tidak maha kuasa, maka sebetulnya ia bukan Tuhan sebagaimana dibayangkan kaum beragama. Menanggapi kaum ateis, apa kontra argumen yang dapat diajukan?

Tiga Penegasan

Harus diakui, kejahatan atau penderitaan itu suatu keadaan yang buruk, kondisi kekerasan yang menimbulkan rasa sakit dan kematian, atau situasi absennya kebaikan. Diskursus filosofis membedakan antara kejahatan moral (moral evil) dan kejahatan non-moral atau kejahatan alamiah (natural evil). Kejahatan moral terjadi ketika manusia gagal menggunakan kebebasan dan tanggung jawabnya dalam merealisasikan kebaikan. Sebagai individu, manusia tidak hanya memiliki pengetahuan akan yang baik (the good) dan yang buruk (the evil), tetapi juga kehendak (will/courage) dan kebebasan untuk memilih yang baik. Tetapi manusia juga dapat memilih yang buruk. Hal terakhir tampak dalam tindakan pembunuhan, perampokan, korupsi, kelaparan karena kebijakan politik yang salah, dan sebagainya.

Sebaliknya, kejahatan alamiah terjadi karena sebab-sebab alamiah seperti bencana alam banjir, tsunami, puting-beliung, gempa bumi, erupsi, dan sebagainya. Dalam konteks jatuhnya Sriwijaya Air, longsor di Sumedang serta gempa bumi di Mamuju dan Majene tampak sebagai kejahatan alamiah atau kejahatan non-moral.

Meskipun demikian, distingsi ini tetap belum mampu menjawab pertanyaan kaum ateis: mengapa Allah tidak mampu mencegah terjadinya bencana/tragedi semacam ini? Saya mengajukan 3 jawaban terhadap pertanyaan tersebut sekaligus menegaskan pendapat saya, bahwa penderitaan tidak bisa dijadikan sebagai alat untuk menolak eksistensi Tuhan. Pembuktian atau argumentasi yang dikembangkan di sini bersifat logis. Dalam arti itu, saya tidak sedang menunjukkan alasan-alasan objektif-saintifik adanya Tuhan.

Pertama, bagi kaum ateis, Allah hanya dapat disebut maha kuasa jika ia mencegah terjadinya hal buruk/jahat. Argumen ini lemah. Allah justru dapat mengizinkan terjadinya suatu kejahatan/penderitaan demi terealisasinya suatu kebaikan yang lebih besar. Mari kita ingat tragedi yang menimpa Riyanto, seorang banser NU yang meninggal dunia tahun 2000 karena ledakan bom. Riyanto dan rekan-rekannya sedang menjaga keamanan malam Natal tanggal 24 Desember 2000 ketika sebuah bom ditemukan di dalam gereja Eben Haezer Mojokerto. Bom tersebut meledak di tangan ketika Riyanto mencoba membawa keluar yang kemudian menewaskan dirinya.

Tragedi itu sungguh terjadi dan Allah yang tidak mencegahnya karena ada kebaikan yang lebih besar yang akan rerealisasi, dan itu adalah keselamatan umat Kristen yang sedang beribadah. Bahkan dalam konteks moralitas ateistik sekalipun, tindakan heroik semacam ini dapat dimengerti dan diterima sebagai bagian dari “keberanian moral” seseorang (John Pedley, Sanctuaries and the Sacred in the Ancient Greek World, 2005: 125-126). Dalam arti itu, mengizinkan terjadinya kejahatan demi mewujudkan suatu kebaikan yang lebih besar tidak menggugurkan kemahakuasaan Tuhan.

Kedua, berhadapan dengan kejahatan karena ulah manusia (kejahatan yang disebabkan oleh pemasangan bom yang menewaskan Riyanto, jatuhnya pesawat karena aksi bunuh diri seseorang, atau pembunuhan terhadap satu keluarga), pertanyaan yang adiajukan para ateis adalah mengapa Tuhan tidak mencegah para penjahat tersebut?

Pertanyaan ini juga tidak berhasil menolak eskistensi Tuhan. Secara konsep, Tuhan itu sudah penuh pada dirinya. Alasan penciptaan manusia bukan pertama-tama agar ia dipuja dan disembah. Bahwa kemudian manusia memuji dan memuliakan Tuhan, itu terjadi karena kesadaran diri selaku makhluk yang diciptakan karena cinta (creation out of love). Pujian dan sembahan lalu menjadi ungkapan terima kasih atas anugerah ciptaan itu.

Dalam konteks penciptaan itu pula Tuhan memberi kemungkinan kepada manusia untuk tidak mencintai dan tidak berterima kasih kepadanya. Itulah ruang kebebasan dan kehendak bebas manusia. Dengan kata lain, Allah menciptakan manusia sudah sebagai satu paket komplit: memiliki akal budi, kebebasan, dan kehendak. Kejahatan moral yang disebabkan oleh orang/kelompok tertentu adalah pilihan bebas dari para pelakunya. Para pelaku kejahatan moral menolak kebaikan Allah secara sadar dan bebas. Secara logis, mencegah terjadinya kejahatan moral sama artinya dengan menolak desain awal penciptaan manusia sebagai paket yang komplet itu.

Ketiga, dalam konteks kejahatan alamiah seperti bencana alam bajir, tsunami, gempa bumi atau jatuhnya pesawat karena cuaca yang buruk, mengapa Allah tidak mencegah terjadinya fenomena alam tersebut? Mengapa Allah sepertinya membiarkan terjadinya bencana alam? Pertanyaan ini juga tidak berhasil membuktikan tidak adanya Allah. Dalam hal ini, para filsuf teistik biasanya menggunakan “teori entropi” untuk menjelaskan posisi argumentasi mereka.

Dari perspektif teori ini, Tuhan menciptakan alam semesta sebagai baik dan sempurna. Itu tampak dari bagaimana alam semesta beroperasi berdasarkan hakikat dan hukum alam yang sudah ditetapkan Tuhan. Alam semesta senantiasa membarui dirinya demi mengembalikan energi-energinya dan demi mencapai keseimbangan-keseimbangan baru. Dalam arti itu, gempa bumi, awan tebal yang menyebabkan hujan badai, meletusnya gunung berapi, tsunami, dan seterusnya adalah bagian dari cara kerja alam untuk mencapai suatu keseimbangan.

Lebih lanjut, ketika sedang terjadi proses keseimbangan alam tersebut dan manusia menjadi “korbannya”, ini terjadi bukan karena kejahatan yang sengaja dilakukan Allah melalui alam. Manusia “kebetulan” sedang berada di area terjadinya tragedi alamiah lalu. Dalam konteks ini kita mengerti mengapa manusia dianugerahi akal budi untuk memelajari gejala-gejala alam supaya bisa memberi peringatan dini kepada sesamanya – melalui teknologi super canggih – supaya menghindari alam yang sedang membarui dirinya (Gary Stern, Can God Intervene?, 2007: 92-94).

Pesan bagi Kita

Kita baru di awal tahun 2021 dan menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah terjadi lebih dari 130 bencana selama tanggal 1-16 Januari yang menewaskan ratusan orang, belum termasuk kerugian material. Ini mengisyaratkan bahwa gugatan-gugatan ateistik atau setidaknya protes personal dalam hati akan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan masih akan terus terjadi.

Refleksi filosofis yang saya ajukan ini membawa kita ke empat hal sederhana yang dapat kita ambil sebagai sikap dasar dalam menghadapi berbagai tragedi dan penderitaan. Pertama, Allah tetap maha kuasa. Dia telah menciptakan alam semesta ini dan akan terus menjaganya. Dia menjamin keberlangsungan hidup alam. Bencana alam dan berbagai tragedi alamiah lainnya adalah bagian dari logika alam menyempurnakan dirinya.

Kedua, manusia diberi akal budi untuk memahami alam dan memperkirakan kapan terjadinya proses keseimbangan alam yang kita sebut bencana alam itu. Keberhasilan melakukan hal ini akan menyelamatkan kita dari berbagai bencana alam, meskipun bukan suatu kepastian juga. Terjadinya awan tebal atau cuaca buruk yang kemudian menyebabkan jatuh dan hancurnya pesawat – termasuk Sriwijaya Air SJ 182 kalau cuaca buruk memang alasannya – atau gempa bumi di Sulawesi Barat adalah bagian dari proses alam itu dan manusia “kebetulan” berada di situ dan menjadi korban.

Ketiga, setiap musibah bukanlah kejahatan murni dalam arti menunjukkan kebengisan Allah. Alasannya, kejahatan ada di bumi ini dan terjadi baik sebagai bagian dari logika alam maupun karena pilihan bebas orang-orang manusia (orang jahat). Sikap manusia yang tepat adalah berjaga-jaga. Dan ketika tragedi itu terjadi, pasti ada suatu kebaikan besar yang akan terwujud. Dalam konteks jatuhnya SJ 182, misalnya, tragedi ini mungkin saja menjadi medium bagi terwujudnya kebaikan yang lebih besar. Misalnya, pesawat-pesawat yang tidak terbang selama pandemi dipelihara secara saksama, para pilot dan kru pesawat mengikuti pendidikan dan pelatihan lebih baik lagi, atau bahkan menyelamatkan ribuan penumpang lain yang mungkin akan terbang pada hari yang sama dengan tidak melewati rute yang telah dilalui SJ 182, dan seterusnya. Atau dalam konteks gempa bumi di Sulawesi Barat, kita diingatkan untuk tidak membangun pemukiman di daerah yang rawan bencana, mendesain bangunan yang tahan gempa, dan semacamnya.

Keempat, jika kemudian ada yang mengatakan bahwa saudara-saudara kita yang meninggal dunia karena kecelakaan SJ 182 sudah menjadi takdir dari Tuhan, bagaimana seharusnya hal ini dipahami? Menurut saya, takdir di sini sebaiknya tidak diartikan sebagai tindakan sewenang-wenang Allah dalam menghukum manusia melalui kejahatan. Juga bukan tindakan Allah yang ingin menjemput para hambanya yang baik lewat sebuah tragedi. Takdir seharusnya dimaknakan sebagai sikap dasar, bahwa meskipun sudah berjaga-jaga, sudah memprediksi dan mengantisipasi bencana alami, sudah berusaha menghindari diri dari orang-orang jahat, manusia tetap memiliki keterbatasan untuk memastikan semuanya itu.

Dalam konteks inilah kita mengerti mengapa manusia selalu mau berdoa ketika hendak melakukan suatu perjalanan, ketika hendak keluar rumah, ketika hendak melibatkan diri dalam suatu aktivitas, dan seterusnya. Dan Tuhan sendiri selalu hadir dan ada. Dia senantiasa menyertai manusia dalam caranya yang khas.[]

Yeremias Jena, Katekis/Dosen Filsafat di Unika Atma Jaya Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here