Mengapa Paus, Uskup, Pastor/Romo Disapa Bapa? Berikut Ini Penjelasannya.

139
Ilustrasi (Dok. Irishcatholic)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM Salam jumpa, Pastor Hertanto! Selama ini saya sering
mendengar sapaan atau panggilan “bapa” yang dialamatkan kepada Paus, uskup, pastor/romo. Mengapa mereka disapa seperti itu. Saya menemukan dalam Matius 23:9, bahwa Yesus melarang untuk menyebut siapapun sebagai bapa di bumi.

Lukas Mario, Bekasi

Ada berbagai macam cara menafsirkan Kitab Suci. Biasanya dihindari penafsiran harfiah yang melulu berdasar pada teks saja.Penafsiran cara ini bisa membingungkan, apalagi bila terdapat kontradiksi dengan ayat lain, bermakna ganda dan ambigu. Yang lebih seimbang adalah dengan memperhatikan baik teks maupun konteks. Ada konteks historis, konteks literer dan konteks jauhnya. Dengan konteks historis kita meneliti waktu penulisan, kepada siapa teks diarahkan dan situasi masyarakat saat itu. Dalam Mat. 23:9 misalnya, jelaslah Yesus berhadapan dengan ahli Taurat dan Farisi yang memiliki kuasa mengajar dan suka menonjolkan diri. Sayangnya mereka sendiri tidak menghidupi apa yang diajarkan. Gelarnya disukai, tapi hidup mereka tak sepadan.

Dengan konteks literer kita menelusuri gaya atau jenis sastra yang dipakai. Kadang-kadang penulis menyampaikan sesuatu secara harfiah, tetapi sering kali secara figuratif atau kiasan. Misalnya, ungkapan ‘gembala baik’ dari Yesus, bermakna figuratif. Demikian juga ungkapan pokok anggur, jalan dan pintu. Beda halnya dengan bangkitnya Yesus. Bangkit bukan bahasa kiasan, tetapi harfiah: memang Yesus bangkit dari mati, bukan hanya secara simbolik saja.

Begitulah “bapa” dalam Mat. 23:9 bermakna kiasan. Ungkapan itu diparalelkan dengan gelar lain: “Jangan suka disebut Rabi, karena hanya satu rabimu, dan kamu semua adalah saudara. … Jangan suka disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu yaitu Mesias.” Semua paralel itu disimpulkan dengan nasihat: “Barang siapa terbesar di antara kamu hendaklah menjadi pelayan.” Jadi di satu pihak kemunafikan dikritik, di lain pihak Yesus memberi makna baru pada gelar Bapa, Rabi dan Pemimpin itu. Gelar itu bersifat Ilahi, tak boleh diklaim sembarangan. Sebaliknya gelar-gelar itu mengingatkan kita akan satu Bapa, satu Rabi dan satu Pemimpin yang harus menjadi pedoman semua kebajikan.

Apakah lalu semua sebutan bapa, guru dan pemimpin di dunia ini harus dihapus? Bahkan kepada mereka yang tulus? Nah, ada satu faktor lagi yaitu konteks jauh dari sebuah teks,
yaitu bagaimana sebuah kata dipahami dalam keseluruhan Kitab Suci. Kita tahu bahwa meskipun Kitab Suci terdiri dari banyak buku, buku-buku itu terjalin secara kohesif, sehingga terdapat benang merah yang mengikatnya. Inilah yang disebut analogi Kitab Suci (Bible Team, 2021). Misalnya begini: selain dalam Mat. 23 kita menemukan juga dalam 1Kor. 4:15 “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.” Di dalam surat itu Paulus sungguh-sungguh menyebut diri sebagai bapa, dan umatnya sebagai anak-anaknya. Apakah ia melawan kata-kata Yesus? Tentu tidak bukan?

Sebaliknya Paulus menekankan dirinya sebagai pelayan: ia rela menjadi bodoh, dianiaya, ditindas agar iman umatnya hidup. Ini adalah ungkapan tanggung jawab dan kasih seorang gembala yang diminta Yesus pada para murid-Nya: rela menanggung
salib. Paulus berani mengambil kedudukan itu justru dalam konteks pelayanannya pada Allah dan manusia. Konteks jauh ini membantu kita mengerti Mat. 23:9, bahwa ada kemungkinan mengenakan gelar itu dalam arti yang benar.

Nah, mengapa Paus, uskup, pastor/romo disebut bapa, kiranya menjadi jelas. Gelar bapa bermakna rohani. Dalam konteks rohani ungkapan ini mempunyai bobot pelayanan dan
perutusan, bukan sekadar gelar kehormatan. Sebagai orangnya Allah berkat tahbisan, mereka harus mengacu pada kebapaan Allah sendiri dalam melayani, mengasihi dan menggembalakan umat yang dipercayakan kepada mereka, bahkan memanggul
salib demi anak-anaknya. Dengan menyebut mereka bapa kita tidak melawan Yesus, tetapi mendukung semangat rohani ini.

HIDUP NO.08, 21 Februari 2021

 

Pastor Gregorius Hertanto, MSC
(Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Sulawesi Utara)

 

Silakan kirim pertanyaan Anda ke: [email protected] atau WhatsApp 0812.9295.5952. Kami menjamin kerahasiaan identitas Anda.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here