Injil Barnabas Tidak Diakui sebagai Kitab Suci, Kenapa?

149
Ilustrasi (Dok. apk.support)

HIDUPKATOLIK.COMRomo Kris, mengapa injil Barnabas tidak diakui sebagai Kitab Suci?

Antonia, Malang

Ei Verbum dari konsili Vatikan II menuliskan bahwa apa yang tertera dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ditulis dengan ilham Roh Kudus, dan karenanya diakui Allah sendiri sebagai pengarangnya, betapapun ditulis oleh mereka yang dipilih-Nya, sesuai kecakapan mereka. Karenanya apa yang ditulis di dalamnya harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, dimaksudkan demi keselamatan kita umat manusia. Intensi pewartaan Kabar Gembira Injil adalah rencana keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Tidak bisa disangkal bahwa misteri hidup Kristus dalam Kitab Suci, sebagaimana digambarkan oleh Petrus, diawali dengan peristiwa pembaptisan (lih Kis. 10:37-38), suatu peristiwa yang dalam kesaksian Injil sudah disebut sebagai misteri penyingkapan Keilahian Yesus (lih Mrk. 1:11; Mat. 3:17; Luk. 3:22).

Sinode Roma, tahun 382, yang sebelumnya telah didahului oleh Konsili Laodicea (360?), menetapkan kanon Kitab Suci, teks-teks yang dipandang sah sebagai bagian dari Kitab Suci. Yang diterima sebagai Injil adalah keempat Injil yang kita terima hingga saat ini: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Paus Gelasius sekitar 492-496 menegaskan kewenangan Tahta Suci dalam menetapkan kitab-kitab apa saja yang layak dinyatakan sebagai bagian dari Kitab Suci. Penetapan tersebut dikukuhkan lagi dalam Konsili Florentina (1439) maupun Konsili Trente (1546). Secara mendasar kriteria yang dipakai adalah kesesuaian dengan keseluruhan pesan iman, penerimaan dari kalangan Gereja serta keterpautan dengan tradisi rasuli.

Dari semua dokumen penetapan dan pengukuhan tersebut sama sekali tidak tertera injil Barnabas. Malahan sejak semula tidak pernah disebut adanya injil Barnabas. Dari daftar kitab- kitab apokrip, kitab yang tidak diterima secara kanonik sebagai bagian dari Kitab Suci, tidak pula terdapat kitab injil Barnabas. Memang dalam teks-teks awal Gereja pernah ada surat Barnabas, yang kemungkinan ditulis antara di abad II, akan tetapi isi dan muatannya sangat berbeda dengan apa yang kemudian beredar sebagai injil Barnabas. Barnabas dalam kisah para rasul disebut yang mengantar dan memperkenalkan Paulus kepada para rasul (lih Kis 9:27), membawa Paulus ke Antiokhia (lih Kis 11:22-26) dan kemudian diutus bersama Paulus, hingga akhirnya mereka berdua berselisih serta mengambil jalan sendiri-sendiri. Setelah itu kiprah Barnabas tidak lagi diketahui jelas.

Apa yang disebut sebagai injil Barnabas tidak berasal dari masa itu, masa pembentukan Gereja. Isinya pun sangat berbeda dengan apa yang dikenal sebagai surat Barnabas. Malahan disebut bahwa naskah asli injil Barnabas berbahasa Spanyol dan Italia, dan baru muncul di abad pertengahan, setelah abad XIV. Manuskrip Italia dan Spanyol pun dikatakan cukup berbeda. Dikatakan bahwa kitab itu sangat tebal, semacam kumpulan cuplikan kisah-kisah Yesus yang sudah disesuaikan untuk kepentingan tertentu.

Memang di masa para bapa Gereja pernah ada upaya untuk membuat semacam harmonisasi kisah Injil, yang dibuat oleh Tatian, Deatessaron, yang dibuat di abad II. Akan tetapi injil Barnabas ini lebih bersifat memilih bahan atau kisah, lengkap dengan penafsirannya, yang hendak dimaksudkan secara apologetis mendukung paham atau pembenaran ajaran tertentu. Teks tersebut kita ketahui muncul di masa apologi Kristiani- Islam sangat menguat. Tidak mengherankanlah kalau tendensi anti-trinitarian cukup menonjol pada apa yang disebut sebagai injil Barnabas tersebut, demikian pula pengakuan iman akan Kristus.

Kembali kita diajak melihat untuk apa injil ditulis. Injil ditulis dalam intensi iman, dan iman itu adalah iman akan Yesus Kristus, Putera Allah. Maka kalau ditanya mengapa injil Barnabas tidak dimasukkan ke dalam Kitab Suci, jawabannya adalah kitab itu tidak memenuhi kriteria dasar tersebut. Kriteria penetapan teks Kitab Suci pun tidak memenuhi: kesesuaiannya dengan ajaran rasuli, penerimaan dalam tubuh Gereja semesta dan inspirasi dari Roh Kudus dalam keselarasan dengan keseluruhan ajaran iman. Namun memang teks itu laku diperbincangkan, sebab sesuatu yang kontroversial dan polemis laris sebagai bahan perdebatan, apalagi dengan saling menuding dan menyalahkan yang lain.

HIDUP NO.03, 17 Januari 2021

 

Romo T. Krispurwana Cahyadi, SJ 
(Teolog Dogmatik)

 

Silakan kirim pertanyaan Anda ke: [email protected] atau WhatsApp 0812.9295.5952. Kami menjamin kerahasiaan identitas Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here