GUA NATAL: TANDA YANG MENGAGUMKAN

189
Salah satu Kandang Natal bernuansa Indonesia yang ditampilkan di Vatikan saat ini. (Foto: Ist.)
4.7/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Selesai Misa, anak-anak kami berlari menuju altar. Bersamaan banyak anak-anak lain, mereka ingin melihat dari dekat Gua atau Kandang Natal. Dengan wajah ceria, mereka membuat riuh penuh celotehan. Komentar lucu keluar dari mulut kecil yang mengisyaratkan ketertarikan mereka.

Ada yang mengomentari patung domba dan sapi, ada yang tertarik pada para gembala, tapi pasti mereka juga terpesona pada Bayi Yesus. Dekorasi Gua Natal memang selalu indah dan menarik untuk dipandang dan dinikmati karena menyentuh hati. Seolah kita diajak hadir  ikut bersukacita bersama Yusuf dan Maria serta para gembala.

Anak-anak dan Gua Natal

Dulu di rumah kami, di bawah pohon Natal, juga ada dekorasi kandang Natal dalam skala yang kecil, alias mungil. Wajar kalau anak-anak tetap antusias untuk melihat yang di altar gereja. Sayangnya sudah beberapa tahun terakhir kami malas pasang pohon Natal dan hias kandang Natal, karena anak-anak sudah tidak tinggal bersama kami. Pemandangan sukacita melihat anak-anak mengerumuni Gua Natal di gereja juga ikut hilang selama masa pandemi ini. Keceriaan Natal memang jadi berkurang.

Tetiba beberapa hari lalu, dalam sebuah grup WA seorang teman mengirim bacaan Surat Apostolik Paus Fransiskus berjudul Admirabile Signum (Latin: Tanda Mengagumkan). Surat ini ditulis dua tahun lalu, dan saking asyiknya tanpa sadar saya telah membaca sampai habis. Begitu indah pesan yang disampaikan terkait makna dan pentingnya Gua Natal.

Paus menyatakan Gua Natal merupakan tradisi yang indah, sangat baik bila diteruskan dan diperkenalkan kepada anak-anak, jangan sampai hilang. Bahkan Paus berpesan, bila tradisi ini sudah tidak dijalankan dalam keluarga, baik bila dihidupkan kembali. Karena ini merupakan satu pewartaan akan inkarnasi Tuhan yang dilandaskan pada kisah dalam Injil Lukas, jadi bukan sekedar dekorasi biasa.

Sebelum menjelaskan makna Gua Natal, dalam surat apostolik ini, Sri Paus menjelaskan sejarah awal Gua Natal. Tidak main-main, ternyata yang pertama kali membuat adalah seorang santo. Beliau adalah Santo Fransiskus Asisi.

Dikisahkan pada 29 November 1223 di Roma, Fransiskus menerima penentapan regula untuk  OFM yang didirikannya, dari Paus Honorius III. Dalam perjalanan pulang menuju Assisi, Fransiskus melewati sebuah kota kecil Greccio. Suasana kota di perbukitan ini, mengingatkannya akan kota Betlehem. Ada sebuah gua cukup besar di sana dan karena sudah menjelang Natal, Fransiskus memutuskan akan mengadakan Misa Malam Natal di gua ini.

Lima belas hari sebelum Natal, Fransiskus berpesan kepada sahabatnya Yohanes: “Saya ingin menghidupkan kembali kenangan tentang Bayi yang lahir di Betlehem, untuk melihat sebanyak mungkin dengan mata jasmani sendiri, ketidaknyaman-Nya karena kurangya hal-hal yang dibutuhkan dari bayi yang baru lahir, bagaimana Dia dibaringkan di palungan dan bagaimana di antara lembu dan keledai, Dia dibaringkan beralaskan jerami.”

Bersama beberapa frater dan penduduk setempat, Yohanes berusaha mewujudkan pesan Fransiskus. Pada hari Natal, ketika Fransiskus masuk dalam gua, ia melihat sebuah palungan penuh dengan jerami, serta seekor lembu dan seekor  domba. Selain itu gua juga dihias bunga dan obor.

Tidak hanya Fransiskus, semua orang yang saat itu mengikuti Misa Natal, merasakan kegembiraan baru dan tak terlukiskan dari adegan Natal ini. Waktu itu tidak ada patung, namun semua orang dapat menghayati peristiwa kelahiran Yesus. Walau tidak ada patung, pada saat itu salah seorang yang hadir mengalami karunia penglihatan yang luar biasa. Ia melihat Bayi Yesus terbaring di palungan tersebut. Semua orang pulang ke rumah dengan penuh sukacita. Semua ini dicatat oleh Thomas Celano, penulis biografi pertama Santo Fransiskus.

Makna Gua Natal

Selanjutnya Paus Frasiskus menjelaskan makna Gua Natal. Ada banyak makna, namun saya hanya menuturkan dan mengutip sebagian. Saya menyarankan pembaca dapat menemukan surat apostolik ini dan membacanya secara lengkap. Bagus isinya.

  1. Gua Natal menjadi tanda mengagumkan karena memberi gambaran kelahiran Yesus. Pewartaan yang sederhana namun penuh sukacita akan misteri Inkarnasi Allah. Allah menjadi manusia, menjumpai setiap orang. Menjadi salah satu dari kita, sehingga pada gilirannya kita dapat bersatu dengan-Nya. Ini semua menunjukan betapa Allah rendah hati dan sungguh besar kasih-Nya kepada kita. Gambaran kelahiran Yesus yang disebut presepe, berasal dari kata praesepium berarti palungan,  mengundang kita untuk merasakan dan menyentuh kemiskinan yang dialami Anak Allah sendiri. Satu sisi ini membuat siapa pun kita,  apa pun kondisi kita,  tak perlu sungkan untuk datang kepada-Nya. Tapi sisi lain, gambaran ini memanggil kita untuk mengikuti-Nya di jalan kerendahan hati, kemiskinan, dan penyangkalan diri. Juga berarti memanggil kita untuk menjumpai-Nya dan melayani-Nya dengan cara menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudari kita yang sangat membutuhkan.
  2. Gua Natal umumnya diberi latar belakang langit berbintang yang diselimuti kegelapan dan kesunyian malam. Ini mengandung nilai simbolis. Kita mungkin sedang mengalami kegelapan malam dan bertanya akan makna hidup. Tapi Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia hadir dengan menjadi manusia. Ia dekat dengan kita dan membawa terang serta menunjukkan jalan kepada mereka yang sedang tinggal dalam bayang-bayang penderitaan.
  3. Salah satu patung yang mengisi Gua Natal adalah para gembala. Mereka mendapat kabar dari malaikat dan petunjuk bintang. Lalu mengajak teman-temannya: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Luk 2:15). Ajakan ini juga ditujukan kepada kita. Tapi sudahkah kita seperti para gembala, tak mempertimbangkan banyak hal tapi dengan rendah hati langsung berangkat menemui Bayi Yesus?
  4. Patung Bayi Yesus berbaring di palungan, membuat gambaran kelahiran Yesus menjadi begitu hidup. Allah hadir sebagai seorang anak, untuk kita gendong dalam pelukan kita. Dalam kelemahan dan kerapuhan, Ia menyembunyikan kekuatan-Nya. Dalam rupa seorang bayi, Allah ingin menyatakan keagungan kasih-Nya, Ia tersenyum dan mengulurkan tangan-Nya nan mungil kepada semua orang. Ia seperti anak-anak lain, tidur, menyusui ibu-Nya, menangis, dan bermain. Gambaran ini membuat kita merenungkan bagaimana hidup kita menjadi bagian dari hidup Allah sendiri. Mengundang kita untuk menjadi murid-murid-Nya jika kita ingin mencapai makna tertinggi dalam hidup.

Tanda Kasih Allah

Pada akhir suratnya, Paus Fransiskus berpesan dengan sungguh-sungguh agar kenangan indah saat kita kanak-kanak ketika menyusun Gua Natal dapat juga dibagikan kepada anak dan cucu kita. Ini adalah upaya meneruskan iman, karena Gua Natal berbicara kepada kita tentang kasih Allah.

Suatu ajakan yang tidak terlalu sulit dijalankan demi memberi landasan iman bagi anak cucu kita. Biarlah bersama anak cucu, kita merasakan sukacita Natal bersama di rumah kita dengan melakukan kegiatan bersama menata gua atau kandang Natal.

Selamat Natal.

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here