Alumnika dan KMK UI Terus Kampanyekan Ekonomi Hijau

54
Mathilda AMW Birowo, Ketua Alumnika UI
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Presiden Joko Widodo menetapkan 600.000 hektar lahan mangrove telah direhabilitasi pada akhir 2024. Ini merupakan gerakan pemulihan lingkungan dan perubahan iklim. Hutan mangrove menyimpan karbon 4-5 kali lebih banyak ketimbang hutan tropis daratan sehingga dapat  berkontribusi besar pada penyerapan emisi karbon. Persoalan lingkungan ini juga diangkat dalam forum G20. Indonesia sebagai anggota G20 mempunyai peran dalam  mengatasi tantangan lingkungan dan pemulihan berkelanjutan melalui tindakan nyata.

Mathilda AMW Birowo, Ketua Alumnika (Alumni Katolik) UI dalam sambutan pada Webinar pada 30 Juli 2022 dalam Rangka Hari Mangrove Sedunia, kerja sama Alumnika UI, KMK (Keluarga Mahasiwa Katolik) UI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  mengemukakan bahwa lingkungan, khususnya penanaman Mangrove merupakan salah satu aspek dalam konsep Ekonomi Hijau (Green Economy) yang saat ini sedang giat dikembangkan oleh Pemerintah.

Ia mengatakan, Green Economy merupakan pemikiran ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara sustansial.

“Prinsip, konsep dan pendekatan ekonomi hijau menjadi penting untuk diterapkan di Indonesia guna mewujudkan cita-cita bersama, khususnya pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid 19. Seyogyanya menjadi perhatian bagi kaum akademisi dan Perguruan Tinggi,” jelasnya.

Sementara itu Inge Retnowati, Direktur Rehabilitasi Perairan Darat dan Mangrove, KLHK RI menyatakan bahwa Indonesia memiliki 20% mangrove dari yang ada di dunia.  Mangrove memiliki nilai tinggi sehingga kita perlu menyediakan habitat dengan ramah lingkungan.

“Indonesia telah mengangkat perhatian semua negara agar memberi concern yg baik pada mangrove dan mendapat manfaat yang tak  hanya cakupan  lokal, namun nasional dan global,” jelas Inge.

Resolusi tersebut diterima PBB dan diterbitkan sebagai resolusi dunia. Mangrove menjadi flagship (sesuatu yang bisa kita tunjukkan keberhasilannya) di forum G20, sekaligus taruhan kepada kita apakah kita dapat menjawab tantangannya. Untuk mewujudkan misi ini, Pemerintah telah menyusun roadmap. Pertama, fokus pada rehabilitasi dan konservasi kemudian membangun sistemnya, ada kelembagaan untuk pemahaman, edukasi yang melibatkan semua pihak. “Ekowisata di kawasan mangrove juga dapat membantu peningkatan ekonomi daerah/nasional. Mendorong pemerintah daerah utk mensupport, kalau ikannya sudah ada maka perlu cara menjualnya, transport dan pasar agar diterima dengan baik,” tamahnya. Roadmap berikut, pola manggrove dapat menjadi kontribusi di tingkat internasional sebagai salah satunya simpanan karbon.

Bagus Dwi Rahmanto (kanan) memaparkan perihal Mangrove.

Bagus Dwi Rahmanto sebagai pemateri, menekankan bahwa mangrove dapat melindungi daratan dari gempuran ombak. Mangrove tanaman yang ada diperbatasan darat dan laut beradaptasi terhadap pasang surut dan kondisi darat dan laut. Dampaknya bukan ekologi saja, tetapi sosial dan ekonomi. Jasa ekosistem yg penting selain bahan pangan, kayu dan non kayu, perikanan tetapi juga pencegahan abrasi pantai dan menahan tsunami maupun habitat ketahanan nasional. Contohnya di Jakarta, kawasan mangrove sepanjang pantai mampu menghilangkan karbon dan mengunci lumpur tanah, menyimpan tanah 4x lebih besari dari hutan tropis. Mangrove ditebang untuk kayu bakar, selain untuk tambak.

“Hasil tanaman  mangrove selain lahan untuk  menjadi obyek wisata, bagi penduduk setempat juga telah dikembangkan menjadi kebutuhan rumah tangga mulai dari pencuci batik, madu, hingga obat-obatan.” Dalam hal ini akademisi, Perguruan Tinggi dibutuhkan dalam turut menyosialisasikan dalam tulisan-tulisan, atau membantu pemasaran dari produksi kearifan lokal yang ada di daerah-daerah sebagai hasil dari tanaman mangrove.  Selain itu juga mendorong pemerintah daerah agar lahan yang ada tidak tergerus dengan pembangunan gedung atau lainnya yang berakibat pada perusakan lingkungan batas darat dan laut.

Sumber: Alumnika UI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here