Pesan Sidang Umum FABC untuk Umat Asia: Berjalan Bersama sebagai Umat Asia

298
Kardinal Charles Bo
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Di akhir Sidang Umum,30 Oktober 2022,  Federasi Konferensi Para Uskup Asia (FABC) mengeluarkan pesan untuk umat Katolik di Asia. Pesan ini ditandatangani oleh Ketua FABC Charles Kardinal Bo, SDB; Ketua Pelaksana FABC Gracia Kardinal Oswald; Uskup Agung Bangkok Francis Xavier Kardinal Kriengsak Kovithavanij; Sekretaris Jenderal FABC Tarcisio Isao Kikuchi, SVD:

Berikut ini pesan selengkapnya:

“Kami, para Gembala Gereja Katolik di Asia, membagikan pesan sukacita, harapan, dan solidaritas ini dengan anda, umat Asia. Kami bersyukur atas berkat yang dicurahkan Allah di Asia melalui kami, Federasi Konferensi Para Uskup Asia (FABC) yang terdiri dari 17 Konferensi Para Uskup dan dua Sinode Gereja Timur. “Berjalan bersama sebagai umat Asia” adalah tema sidang kami di mana kami berusaha untuk menegaskan kembali perjalanan kami selama 50 tahun terakhir ini, membaharui hidup Gereja, dan membayangkan jalan-jalan pelayanan baru.

Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kerajaan Thailand atas sambutan hangat dan penghargaan atas Sidang Umum ini dengan kehadiran Menteri Kebudayaan selama Upacara Pembukaan. Kami menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada Konferensi Para Uskup Thailand, khususnya Keuskupan Agung Bangkok, yang telah menjadi tuan rumah dari Sidang Umum FABC 50. Kami bergembira atas kehadiran perwakilan Takhta Suci dan perwakilan dari Konferensi Para Uskup Benua lainnya bersama kami. Waktu ini merupakan waktu yang baik untuk berdoa, mendengarkan, discernmen, dan mendukung satu sama lain. Saat ini juga merupakan saat penyembuhan dari rasa sakit yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

Melalui diskusi dan pertimbangan selama konferensi, kami menyentuh jiwa Asia. Pada saat yang sama, kami terinspirasi oleh harapan, keberanian, dan tekad yang ditunjukkan oleh Gereja-Gereja di Asia untuk berjalan bersama dan bekerja membaktikan diri secara penuh bagi Asia yang lebih baik.

Kami tertantang dan mendengar aneka suara  dari penjuru benua  yang beraneka ragam yang berteriak meminta tolong dan keadilan:

  • Penderitaan orang miskin, tertindas, dan terpinggirkan yang merindukan kehidupan yang bermartabat.
  • Penderitaan para pengungsi, migran, tersingkirkan dan masyarakat adat yang mencari martabat manusia yang sejati dan tempat yang aman.
  • Rintihan alam dengan luka eksploitasi, perubahan iklim, dan pemanasan global, yang berseru untuk diperhatikan dengan lebih baik.
  • Mimpi kaum muda yang mencari peran yang lebih berarti dalam Gereja dan masyarakat.
  • Suara kaum perempuan yang meminta Gereja menjadi menjadi inklusif sehingga menghormati martabat mereka dan mengakui tempat mereka yang layak.
  • Keinginan keluarga mencari stabilitas hidup yang lebih baik dan mendapatkan lebih banyak dukungan dari semua.

Kami juga sangat prihatin tentang:

  • Rasa sakit dan penderitaan beberapa gereja yang perlu  dihibur melalui empati dan solidaritas kami.
  • Meningkatnya suara ekstremisme yang perlu ditanggapi secara bijak.
  • Kebutuhan mendesak akan sikap hormat yang semakin besar terhadap kehidupan untuk lebih ditanamkan di dalam hidup masyarakat.
  • Meningkatnya kekerasan dan konflik di benua kami yang memanggil kami untuk membangun dialog dan rekonsiliasi.
  • Masyarakat yang ditantang oleh revolusi digital, yang berdampak positif dan negatif.

Dalam doa dan semangat kerja sama, kami ingin menjawab tantangan ini dengan mengandalkan kekuatan cinta, belas kasih, keadilan, dan pengampunan. Kami percaya bahwa perdamaian dan rekonsiliasi adalah satu-satunya jalan menuju ke depan. Kami telah membayangkan jalan-jalan baru pelayanan kami berdasarkan pada sikap saling mendengarkan dan discernmen yang tulus.

Terinspirasi oleh Injil dan pengajaran-pengajaran Paus Fransiskus terbaru:

  • Kami berkomitmen untuk menjangkau pinggiran. Kami dipanggil untuk melayani yang paling membutuhkan dengan sukacita.
  • Kami dipanggil untuk melakukan pertobatan pastoral dan ekologis, secara positif menanggapi “baik jeritan bumi maupun jeritan orang miskin.”
  • Kami ingin menghidupkan semangat saling melengkapi dan harmoni dengan mendengarkan orang lain dalam dialog yang tulus.
  • Kami berusaha untuk meningkatkan budaya damai dan harmoni dalam kerjasama dengan saudara dan saudari kami dari agama dan tradisi tetangga.
  • Kami berkomitmen untuk menjembatani tidak hanya di antara agama dan tradisi tetapi juga terlibat secara erat dengan pemerintah, LSM, dan organisasi sipil dalam isu-isu hak asasi manusia, pengentasan kemiskinan, perdagangan manusia, pemeliharaan bumi, dan keprihatinan bersama lainnya.
  • Kami perlu mengubah diri sendiri dengan memupuk budaya “sikap mendengarkan timbal balik” di mana kami saling mendengarkan dan kami semua mendengarkan suara Tuhan.
  • Karena itu, kami bermaksud untuk memperbaiki cara kami membina diri dalam iman dan menemani keluarga dan komunitas kami, terutama mereka yang berada dalam kesulitan.

Dengan melakukan perjalanan bersama di sepanjang jalan ini, kami akan melayani dunia dengan komitmen yang lebih besar. Kami meyakinkan umat di benua ini bahwa Gereja Katolik di Asia akan selalu bekerja untuk Asia yang lebih baik dan kebaikan semua orang. Sebagaimana kami mengingat anda dalam doa-doa  kami, kami dengan rendah hati meminta anda untuk mengingat kami dalam doa-doa anda. Bersama-sama kita berjalan bersama untuk melayani keluarga manusia dan semua ciptaan.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here