spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Uskup Mandagi Melarang Imam Merauke Menggunakan Kecerdasan Buatan untuk Menyusun Khotbah: Ketergantungan pada Teknologi Instan Akan Merusak Nalar dan Membuat Pelayan Tuhan Menjadi Malas!

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – ​Suasana khidmat menyelimuti Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, pada Senin (30/3/2026) sore. Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, memimpin perayaan Misa Krisma sekaligus Pembaharuan Janji Imamat.

​Misa yang dimulai pada pukul 16.00 WIT ini dihadiri oleh para imam dari Kevikepan Merauke, Wendu, dan Muting, biarawan-biarawati, dan umat Katolik setempat. Sebelum perayaan ekaristi puncak ini, para imam terlebih dahulu mengikuti agenda rekoleksi dan pelayanan Sakramen Tobat sebagai bentuk pemurnian diri.

Tuntutan Mutlak atas Kemurnian Hidup

​Dalam khotbahnya, Mgr. Mandagi langsung mengarahkan umat dan para imam pada sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa umat begitu menghormati dan mencintai imam, padahal sang imam tetaplah manusia biasa yang berdosa?

Mengutip doa Santa Theresia dari Lisieux, Uskup dengan tegas menyatakan bahwa keagungan seorang imam murni terletak pada kesuciannya.

“Tangan yang terurai untuk menyentuh Tubuh Kristus tidak boleh ternoda, bibir yang meminum Darah Kristus tidak boleh cemar, dan hati mereka harus murni serta bebas dari ikatan duniawi,” ujarnya.

Uskup memberikan peringatan keras agar para imam tidak terjebak dalam kehidupan yang penuh sandiwara, melainkan harus sungguh-sungguh menghidupi kemurnian tanpa kompromi.

Larangan Penggunaan Kecerdasan Buatan

Baca Juga:  Cara Paroki Gamping Merayakan Minggu Palma

​Menyambung tuntutan kesucian tersebut, Mgr. Mandagi menjabarkan pedoman pastoral yang menuntut kedisiplinan tingkat tinggi.

Ia mewajibkan pelayanan yang penuh antusiasme, di mana rasa malas sama sekali tidak memiliki tempat. Imam dituntut untuk disiplin bangun pagi dan berdo.

Secara blak-blakan, ia mengkritik keras realita memalukan jika umat justru yang harus datang membangunkan imamnya.

​Di tengah gempuran era digital, ia menyoroti kemudahan teknologi dengan sebuah instruksi yang sangat spesifik dan tegas.

Para imam memperbarui janji imam di hadapan Uskup Mandagi. (Komsos KAME)

Ia melarang keras para imam menggunakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) untuk menyusun khotbah.

Imam diwajibkan menggunakan akal budi dan usahanya sendiri.

Menurutnya, ketergantungan pada teknologi instan akan merusak nalar dan membuat pelayan Tuhan menjadi malas.

Ia juga mengecam kebiasaan mencari bahan khotbah secara sembarangan melalui telepon seluler, yang sering kali justru mengalihkan perhatian para imam pada hal-hal duniawi yang tidak pantas di saat mereka seharusnya merenungkan Sabda Tuhan.

​Kedisiplinan ini juga mengikat ranah ketaatan dan persaudaraan.

Uskup mengingatkan bahwa imam yang tidak berdoa adalah imam yang rusak, dan keuskupan akan hancur jika memiliki pelayan semacam itu.

Ia menegaskan agar tidak ada imam yang membangkang terhadap Uskup. Mereka juga diwajibkan untuk hidup bersatu dalam persaudaraan, tidak memisahkan diri dari kelompok, serta aktif mengikuti pertemuan dan kegiatan bersama demi menjalankan misi keuskupan, bukan misi pribadi.

Baca Juga:  IN MEMORIAM JŰRGEN HABERMAS (1929-2026)

Keberpihakan Nyata

​Tuntutan internal bagi para pelayan Gereja ini kemudian diarahkan pada tanggung jawab sosial yang mendesak di tengah masyarakat.

Nada suara Mgr. Mandagi menjadi sarat akan keprihatinan sekaligus teguran tajam terhadap realita ketidakadilan di Papua Selatan.

Ia menyoroti ironi tingginya angka pengangguran di tengah hamparan tanah Papua Selatan yang sangat luas, yang terjadi karena kesulitan rakyat kecil tidak didengarkan dan dibiarkan begitu saja.

​Ia secara khusus dan berani mengkritik kelompok-kelompok yang mengancam serta menolak program ketahanan pangan, seperti cetak sawah, padahal mereka sendiri dapat menikmati makanan dengan enak di mana-mana.

Dengan sangat tegas, Mgr. Mandagi membongkar adanya ketakutan dari pihak-pihak tertentu jika Orang Asli Papua menjadi pandai dan mandiri.

Ia menginstruksikan agar seluruh imam dan Gereja wajib turun tangan memperhatikan umatnya; memastikan mereka tidak hanya dilayani secara rohani, tetapi juga terpelihara kesejahteraan jasmaninya, menjadi sehat, dan berpendidikan.

Menghindari Jebakan Kesombongan Melalui Keheningan

​Pada bagian akhir khotbahnya, Uskup kembali menyentuh realitas kelemahan manusiawi yang ada di dalam Gereja.

Ia menegaskan bahwa menjalankan seluruh tuntutan kesucian dan keadilan sosial di atas bukanlah hal yang mudah. Imam, dan terlebih lagi Uskup yang memiliki jabatan tinggi, sangat rentan jatuh ke dalam dosa kesombongan, merasa diri paling hebat dan berkuasa.

Baca Juga:  Refleksi Arena Pasar Malam dan di Atas Bianglala, Sebuah Renungan Guru Pembelajar

​Untuk melawan arogansi tersebut, Uskup mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan hanya dimungkinkan jika imam menyadari kehadiran Roh Kudus di dalam dirinya, sama seperti Kristus yang berani memanggul salib karena bimbingan Roh. Para pelayan Gereja tidak boleh mengandalkan kekuatan sendiri semata.

​Oleh karena itu, Uskup melarang keras para imam menjadi workaholic (gila kerja) yang terus-menerus sibuk hingga kehilangan waktu untuk Tuhan. Harus ada ruang hening. Imam wajib menjadi pendoa sejati, merayakan Ekaristi dengan layak, dan membaca Kitab Suci secara fisik, bukan sekadar menatap layar telepon seluler.

​Menutup pesannya sore itu, Mgr. Mandagi meminta dukungan umat yang hadir dengan mengutip permohonan tulus dari Ibu Teresa dari Kalkuta. “Kita membutuhkan imam yang suci. Mintalah pada Tuhan untuk memberi kita imam yang suci. Karena hanya imam yang suci yang dapat membuat kita suci.”

Ajakan ini menggarisbawahi kebenaran bahwa perjuangan menuju kesucian adalah tanggung jawab yang harus dipikul bersama antara gembala dan umatnya.

Pastor Roy Sugianto (Merauke)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles