spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Merangkai Identitas Baru dalam Kasih Kristus

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sepuluh tahun lalu, sekiranya ada yang meramalkan bahwa pada hari ini saya akan larut dalam perayaan Ekaristi sebagai seorang Katolik yang telah menerima Sakramen Krisma, barangkali saya akan tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala.

Saya bahkan menganggapnya mustahil. Ingatan tentang diri saya sepuluh tahun silam begitu gamblang: seorang anak kecil yang setiap hari menunaikan salat di masjid, dengan sajadah dan mukena merah jambu kesayangan.

Tak pernah sekalipun terbetik dalam benak ini bahwa Tuhan akan memanggil saya untuk menjadi pengikut-Nya. Namun ternyata, Allah telah merancangkan jalan yang lebih indah, menuntun saya pada kehidupan yang sarat kasih, jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan.

Awal Cerita 

Perjalanan iman saya mulai menemukan arah pada tahun 2018 hingga 2019. Ketika itu, saya kerap diajak oleh kakak sepupu yang biasa saya panggil “cece” untuk mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Baik itu Misa mingguan, masa Prapaskah, hari raya Paskah, perayaan Natal, maupun hari-hari besar lainnya.

Perlahan-lahan, saya mulai akrab dengan suasana gereja yang teduh dan damai, serta dengan umat yang senantiasa ramah dan hangat. Tata ibadat, kidung pujian, serta pembawaan mazmur mulai meresap jauh ke dalam relung hati, menumbuhkan kerinduan untuk menjadi bagian dari komunitas ini.

Satu momen yang menjadi titik terang dalam perjalanan saya terjadi setelah Misa Paskah di Kapel Santa Ursula. Usai perayaan, ada acara ramah tamah kecil bersama para suster. Karena cece memiliki hubungan yang akrab dengan suster-suster Ursulin, kami pun diikutsertakan dalam kehangatan pertemuan itu.

Baca Juga:  Refleksi Arena Pasar Malam dan di Atas Bianglala, Sebuah Renungan Guru Pembelajar

Di tengah suasana yang akrab dan tanpa adanya pembicaraan serius sebelumnya tentang pindah agama, cece tiba-tiba bertanya kepada salah satu suster mengenai proses baptis dan komuni bagi saya. Saya rasa, cece telah membaca gerak hati saya yang mulai condong pada keyakinan ini.

Jawaban suster kala itu begitu mengagetkan sekaligus menyejukkan: “Bisa saja Melisa ikut katekumen bersama anak-anak Ursula lainnya.” Kebetulan, pada bulan itu, program katekumen bagi anak-anak Ursula baru akan dimulai.

Mendengar penuturan itu, rasa haru dan antusiasme yang begitu kuat mengguncang hati saya. Sejujurnya, keinginan untuk memeluk iman Katolik telah lama bersemayam dalam benak dan hati saya. Namun, selama ini saya diliputi keraguan dan kecemasan sebab tidak tahu harus memulai dari mana, dan siapa yang kelak akan menuntun langkah saya.

Masa Katekumen 

Setelah perbincangan dengan suster mengenai program katekumen serta menanti persetujuan dari pihak Ursula, akhirnya saya diizinkan untuk bergabung. Selama empat bulan berikutnya, saya rutin mengikuti kelas katekumen bersama anak-anak Santa Ursula.

Pada awalnya, saya diliputi keresahan, “Akankah saya yang bagaikan ‘orang asing’ ini diterima di tengah-tengah mereka?” Namun, kekhawatiran itu sirna seketika sejak pertemuan pertama.

Mereka menyambut kehadiran saya dengan tangan terbuka dan kerendahan hati yang tulus. Tiada sekat pemisah, tiada penilaian, pun tiada kecanggungan. Di antara mereka, saya merasa diterima seutuhnya, seolah-olah saya telah menjadi bagian dari keluarga ini sejak lama.

Baca Juga:  Dari Hati yang Hancur Menuju Pemulihan dalam Tuhan Yesus

Hadiah Ulang Tahun Terindah

Puncak dari penantian saya akhirnya tiba pada 15 September 2019. Pada hari itu, saya menerima Sakramen Baptis. Bagi saya pribadi, baptisan ini merupakan hadiah ulang tahun paling spesial dan paling berharga yang pernah saya terima selama hidup. Dua bulan kemudian, kebahagiaan saya semakin dilengkapi saat menerima Sakramen Komuni Pertama bersama dengan anak-anak Ursula seperti pada penerimaan Baptis.

Saat menerima kedua sakramen tersebut, perasaan saya benar-benar campur aduk. Ada rasa haru yang mendalam, kebahagiaan yang meledak-ledak, bahkan air mata syukur yang tak tertahan. Saya merasa sangat bersyukur, karena seluruh jalan saya seolah-olah dipermudah oleh orang-orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya.

Tidak ada drama, tidak ada hambatan, semua mengalir dengan begitu tenang, lancar, dan damai. Sebagai tanda terima kasih dan agar saya selalu ingat akan pertolongan dan bimbingannya yang tulus, saya memohon izin kepada suster Theresia untuk menggunakan namanya sebagai nama baptis saya.

Jadilah nama saya sekarang adalah Theresia Melisa Septianti.

Penerimaan Sakramen Krisma

Kini, enam tahun sudah berlalu sejak momen baptisan saya yang mengharukan itu. Di tahun 2026 ini, saya telah melangkah lebih maju lagi dengan menerima Sakramen Krisma. Dengan diterimanya Sakramen Krisma ini, identitas rohani saya kini menjadi lengkap  dan  semakin  jelas yaitu  sebagai  Cecilia  Theresia  Melisa  Septianti.

Baca Juga:  Uskup Mandagi Melarang Imam Merauke Menggunakan Kecerdasan Buatan untuk Menyusun Khotbah: Ketergantungan pada Teknologi Instan Akan Merusak Nalar dan Membuat Pelayan Tuhan Menjadi Malas!

Menerima Sakramen Krisma bukan hanya sekedar menambah nama baru, melainkan menerima tugas untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang semakin penuh tantangan ini. Di tengah pergaulan dan lingkungan pada masa  kini,  saya  menyadari bahwa identitas mengenai iman bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.

Dengan hati yang mantap dan penuh sukacita, saya ingin menyatakan bahwa saya tidak pernah merasa malu untuk mengakui agama saya sebagai seorang Katolik di depan banyak orang. Sebaliknya, identitas ini adalah kebanggaan dan komitmen yang saya pegang teguh. Saya siap berdiri sebagai saksi kasih-Nya, tanpa ragu, dan tanpa rasa takut akan penilaian orang lain mengenai iman saya.

Keputusan Terbaik Tanpa Adanya Penyesalan

Melihat kembali ke belakang, merenungkan perjalanan dari sosok anak kecil yang bermukena pink sepuluh tahun lalu hingga menjadi seorang remaja Katolik hari ini, saya tidak merasakan sedikit pun adanya penyesalan. Sebaliknya, memilih untuk mengikuti Yesus dan menjadi bagian dari Gereja Katolik adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil sepanjang hidup saya.

Tuhan tidak pernah terlambat, dan Ia tahu persis kapan waktu yang tepat untuk menjemput domba-Nya. Perjalanan ini adalah bukti nyata bahwa kasih Tuhan melampaui segala batas di masa lalu, dan di dalam Dia, saya akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya. Saya bangga menjadi murid-Nya, hari ini, esok, dan sampai selama-lamanya.

Melisa Septianti
Siswa Kelas XI Akuntansi & Keuangan Lembaga
SMK Santo Leo I

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles