spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Tanpa Mandat dari Paus Leo XIV, SSPX Menahbiskan Uskup, Mengabaikan Peringatan Roma Mengenai Skisma

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Paus Leo XIV bahkan belum genap dua tahun menjabat dan ia sudah menghadapi salah satu episode paling pelik dalam pelayanannya: perpecahan baru di dalam Gereja.

Seperti dilansir The Tablet, dalam langkah yang menantang dan meskipun telah berulang kali diperingatkan oleh Roma, Serikat Santo Pius X (SSPX) hari Rabu, 17/2026, tetap melanjutkan pentahbisan empat uskup baru tanpa mandat kepausan, sebuah tindakan pembangkangan terbuka terhadap otoritas Paus yang, menurut hukum kanonik, secara otomatis mengakibatkan ekskomunikasi bagi keenam uskup yang terlibat.

Tanggapan resmi Vatikan kini ditunggu dan dapat mencakup deklarasi resmi perpecahan, seperti yang telah diperingatkan Roma beberapa hari sebelum upacara tersebut.

Pada tahun 1988, setelah Uskup Agung Marcel Lefebvre, pendiri SSPX, menahbiskan uskup tanpa mandat kepausan, Roma menanggapi dua hari kemudian. Pada tanggal 2 Juli, Santo Yohanes Paulus II menerbitkan motu proprio Ecclesia Dei, di mana ia secara terbuka berbicara tentang “keretakan” persekutuan gerejawi dan membentuk komisi untuk membantu mendamaikan umat beriman yang terkait dengan perkumpulan tersebut.

Perpecahan adalah tragedi bagi setiap Paus. Dalam kasus Paus Leo XIV, hal itu juga membawa resonansi yang lebih pribadi: Paus tersebut termasuk dalam Ordo Agustinian, keluarga religius yang sama dengan Martin Luther, yang perpecahannya dengan Roma membantu menyebabkan Reformasi Protestan dan perpecahan Kekristenan Barat.

Tindakan pembangkangan yang berulang

Upacara ilegal itu berlangsung di sebuah padang rumput di Écône, Swiss, tempat seminari internasional SSPX berada, tempat yang sama di mana Lefebvre menyebabkan keretakan dengan Roma tepat 38 tahun yang lalu dengan menahbiskan empat uskup tanpa mandat kepausan yang diperlukan.

Tindakan pembangkangan itu diulangi pada hari Rabu, tampaknya tanpa penyesalan, meskipun ada permohonan kebapaan di mana Paus Leo XIV memperingatkan pada hari Selasa tentang “dosa yang sangat berat” yang akan mereka lakukan.

Upacara tersebut dilakukan oleh dua uskup yang masih hidup dari penahbisan ilegal tahun 1988. Uskup Spanyol Alfonso de Galarreta memimpin sebagai penahbis utama, dibantu oleh Uskup Swiss Bernard Fellay sebagai penahbis pendamping.

Baca Juga:  Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Sampaikan Pernyataan Moral: Merawat Demokrasi, Meneguhkan Keadilan, Memelihara Harapan

Para uskup baru, Pastor Swiss Pascal Schreiber; Pastor Amerika Michael Goldade dan Pastor Prancis Michel Poinsinet de Sivry dan Marc Hanappier ditunjuk sebagai pembantu perkumpulan tersebut dengan tujuan yang dinyatakan untuk melayani Gereja, meskipun dalam praktiknya tindakan tersebut menandai langkah penting menuju perpecahan.

Simbolisme yang provokatif

Upacara tersebut memuat sejumlah elemen yang sarat simbolisme, yang—dengan nuansa provokatif tertentu—mengingatkan kembali pada peristiwa penahbisan tahun 1988. Pesta liturgi yang dipilih pun sama, yakni Pesta Darah Kristus yang Mahamulia. Demikian pula dengan takhta tempat De Galarreta duduk; itu adalah takhta yang pernah digunakan oleh Lefebvre. Jubah liturgis yang dikenakan oleh para uskup adalah jubah yang sama dengan yang dipakai oleh keempat uskup yang ditahbiskan 38 tahun silam.

Ribuan umat beriman telah tiba berjam-jam sebelumnya—banyak di antaranya mengenakan pakaian tradisional serta topi jerami dan membawa kursi lipat—dalam suasana yang memadukan semangat perayaan dengan kekhidmatan. Untuk peristiwa ini, SSPX bahkan menjual berbagai cendera mata, termasuk satu kotak anggur eksklusif seharga 75 franc Swiss yang diberi nama “Cuvée des Sacres.” Anggur ini merupakan paduan beberapa varietas dengan setiap botolnya dihiasi gambar salah satu uskup yang ditahbiskan tersebut.

De Galarreta membisikkan rumusan liturgis ke mikrofon—sepenuhnya dalam bahasa Latin—sembari membelakangi 17.000 umat yang hadir, menurut keterangan penyelenggara. Mereka yang berkumpul di sana datang dari hampir 70 negara.

Tanpa mandat Paus

Secara lahiriah, penahbisan uskup tersebut mengikuti tata cara yang sah. Namun, upacara itu tidak memiliki unsur yang esensial: mandat dari Paus.

Upacara dimulai dengan prosesi khidmat menuju altar yang didirikan di bawah tenda, dengan melibatkan anggota dari beberapa tarekat religius yang berafiliasi dengan SSPX. Para imam dan biarawati yang terkait dengan perkumpulan tersebut duduk di barisan depan.

Banyak keluarga juga hadir dan mengikuti jalannya upacara melalui layar raksasa yang dipasang di lapangan di Swiss tersebut.

Baca Juga:  Merawat Bumi, Memulihkan Martabat Manusia

Pada prinsipnya, umat beriman tersebut tidak secara otomatis terkena ekskomunikasi. Pastor Pierpaolo Dal Corso, seorang ahli hukum kanon bidang pidana dan sakramen, mengatakan kepada ACI Prensa—layanan berita berbahasa Spanyol yang berafiliasi dengan EWTN News—bahwa sanksi semacam itu hanya berlaku jika mereka menolak otoritas Paus atau legitimasi Gereja Katolik.

Pada tahun 1996, Dewan Kepausan untuk Naskah Legislatif menegaskan bahwa ekskomunikasi akibat skisma tidak secara otomatis berlaku bagi mereka yang menghadiri perayaan SSPX. Senada dengan hal itu, ahli hukum kanon Monsinyur William King mengatakan kepada ACI Prensa bahwa ekskomunikasi mensyaratkan adanya sikap sadar dalam mendukung penolakan terhadap otoritas Paus.

Sebelum upacara penahbisan, Pastor Davide Pagliarani, Superior Jenderal SSPX, menyampaikan sambutan dan bahkan membela perlunya kanonisasi bagi Lefebvre. Pendiri gerakan tersebut meninggal dunia pada tahun 1991 tanpa menunjukkan tanda-tanda pertobatan di hadapan publik, padahal hal itu merupakan syarat mutlak bagi rekonsiliasi penuh dengan Roma.

Argumen yang tidak valid

Pagliarani membacakan teks yang membenarkan pentahbisan dengan mengacu pada dugaan “keadaan darurat,” sebuah argumen yang juga digunakan pada tahun 1988, meskipun Takhta Suci telah berulang kali mengatakan bahwa argumen tersebut tidak berlaku, terutama setelah peringatan eksplisit dari Paus.

Dalam sambutannya, Pagliarani memperjelas perbedaan doktrinnya, dengan mengatakan bahwa “dari Konsili Vatikan Kedua hingga zaman kita sekarang, otoritas Gereja telah dipenuhi dengan semangat yang bertentangan dengan iman dan telah bertindak melawan tradisi suci.”

“Kami menganggapnya sebagai kewajiban suci terhadap Gereja Bunda Suci dan jiwa-jiwa untuk melanjutkan pentahbisan uskup yang sepenuhnya setia pada tradisi suci dan magisterium Gereja yang konstan,” tambahnya.

Keempat kandidat mengucapkan sumpah mereka dalam bahasa Latin, bahkan berjanji untuk “memerangi para bidat skismatik,” dalam sebuah paradoks yang tidak luput dari perhatian.

Pemimpin umum SSPX bersikeras menolak apa yang disebutnya sebagai “dilema palsu” antara kesetiaan kepada iman dan persekutuan gerejawi, berupaya untuk berargumen bahwa keputusan perkumpulan tersebut tidak merupakan pemutusan hubungan dengan Gereja Katolik.

Baca Juga:  95 Tahun Paroki Katedral Banjarmasin: Teguh dan Setia sebagai Orang Katolik

Namun, situasi kanonik SSPX tetap kompleks. Perkumpulan tersebut terus menolak elemen-elemen kunci dari Konsili Vatikan Kedua, terutama Dignitatis Humanae, deklarasi konsili tentang kebebasan beragama.

“Kami dituduh tidak menghormati Paus, namun justru karena kami mengasihinya sebagai wakil Kristus, kami tidak ingin melihatnya dipermalukan dengan disandingkan bersama para gembala palsu—wakil-wakil dari agama-agama palsu,” ujar Pagliarani, yang secara efektif menutup pintu bagi dialog ekumenis dan antaragama.

“Kami menjalani penahbisan ini dengan sukacita dan harapan. Kami tidak menjalaninya dalam suasana polemik, ketegangan, kepahitan, ataupun rasa sakit hati,” katanya.

“Musuh terburuk Anda tidak akan menyerang secara terang-terangan, melainkan akan mencoba membuat Anda perlahan-lahan beralih menuju persepsi yang lebih modern mengenai iman dan hubungan dengan dunia. Saat Anda merasakan bahaya ini, renungkanlah, berdoalah, mintalah nasihat, lakukan evaluasi, dan bersikaplah tenang sebelum bereaksi layaknya seekor ular,” imbaunya kepada para uskup yang baru ditahbiskan.

Ia menambahkan: “Jangan pernah, sekali-kali, mundur. Itulah makna menjadi seperti ular: mengenali kepalsuan, ambiguitas, dan kelicikan yang ada di dunia ini.”

“Kini Allah menghendaki agar kita diperlakukan sebagai pemberontak,” tegas Pagliarani dalam kesempatan lain.

SSPX memang sudah berada di luar yurisdiksi kanonik Gereja. Namun, dengan langkah baru ini, mereka secara langsung menentang Paus. Jika Vatikan secara resmi menyatakan adanya skisma (perpecahan), para anggotanya akan semakin terisolasi, tanpa kemungkinan menerima pelayanan atau menjalankan misi apa pun di keuskupan-keuskupan. Hal itu akan membuat para anggotanya—yang berjumlah sekitar 600.000 orang—bergerak menuju lingkaran yang semakin sektarian.

Meskipun para imam SSPX berstatus suspended (ditangguhkan wewenang imamatnya), Paus Fransiskus memberikan izin khusus kepada mereka untuk melayani sakramen pengakuan dosa dan menjadi saksi dalam pernikahan. Jika skisma benar-benar terjadi, izin-izin khusus tersebut dapat ditinjau kembali.

(Sumber: The Tablet)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles