spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Pesta Hari Raya Pemuliaan Salib Suci Regio Medan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga memimpin perayaan Misa Pesta Hari Raya Pemuliaan Salib Suci Regio Medan di hari Senin, 14 September 2026 bertempat di Ruang Jasmine lantai 8 Gedung Catholic Centre Medan.

Perayaan pesta ini dipadati sekitar 500-an Umat Katolik dari 3 paroki karya pelayanan para Pastor OSC: Paroki Santa Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat, Paroki Santo Joseph Tebing Tinggi dan Kuasi Paroki Santo Agustinus Sei Rampah.

Pemotongan Tumpeng yang dilakukan Uskup Sibolga bersama para Pastor OSC disaksikan para Ketua DPP 3 Paroki.

Perayaan ini diadakan dalam rangka 100 Tahun Ordo Salib Suci (OSC) berkarya di Indonesia.

Vikaris Episkopal Pro Religius, Pastor Joseph Lesta S.Pandia OFMConv dan Vikaris Episkopal Pastoral, Pastor Serafin Dani Sanusi OSC turut mendampingi Uskup Sibolga memimpin perayaan misa.

Tampak turut juga dalam barisan Imam Konselebran, ketiga Pastor Paroki OSC KAM: Pastor Aaron Taogo’aro Waruwu, OSC (Tanjung Selamat),Pastor Petrus Umar Sumardi, OSC (Tebing Tinggi) dan Pastor Bernardus Yusa Bimo Hanto, OSC (Sei Rampah) beserta belasan imam lainnya.

Pengagungan Kayu Salib

Uskup Sibolga dalam homilinya mengatakan Gereja merayakan pesta Salib Suci lebih tepatnya adalah peninggian dan pengagungan Kayu Salib. Pada mulanya pesta ini diawali dengan Devosi kepada Salib yang dianggap tanda kutip asli kayu salib dan terutama pada awal ke-7 ketika tanah Palestina dan terutama Yerusalem bicara habis kayu salib yang diyakini asli kayu di mana Tuhan Yesus disalibkan pada waktu itu ditemukan kembali.

Para Pastor OSC yang berkarya pada 3 Paroki (Tanjung Selamat, Tebing Tinggi dan Sei Rampah) di Keuskupan Agung Medan.

Karena tepatnya setiap tanggal 14 September gereja merayakan salah satu pokok iman Kristiani. Peninggi dan agungan salib yang kita junjung tinggi dan penyaliban Tuhan Yesus Kristus adalah menjadi karya keselamatan Tuhan bagi kita.

Bagi kita umat Katolik, Salib yang terbuat dari kayu, logam, perak, besi atau emas mempunyai makna arti dan makna yang ditandakan. Kita menandai diri kita dengan gerakan membuat tanda salib untuk membuka dan menutup doa kita. Sebelum masuk gereja kita celupkan lalu kita buat tanda salib juga untuk memohon dan memberi berkat.

Apa itu spiritualitas salib suci? Menurut Mgr. Frans, spiritualitas salib suci adalah jalan hidup rohani yang terpusat pada pengorbanan. Jadi spiritualitas salib itu terminus akhirnya adalah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

Baca Juga:  Gema Perdamaian Ekologis dari Altar Gereja Paroki Santo Yoseph Fakfak

 

Salib, tambah Mgr. Frans, dipandang bukan sekedar tanda penderitaan melainkan wujud cinta kasih Allah yang terbesar. Jadi, salib itu adalah wujud cinta kasih Yesus dan cinta kasih Allah yang terbesar bagi kita manusia. Sumber kekuatan untuk menembus batas serta tanda kemenangan atas dosa dan kebangkitan kita.

“Kalau kita mendengar dan melihat, kita akan sering menemukan dalam refleksi pada saudara OSC itu sangat akrab dengan menembus batas,” ungkap Mgr. Frans.

Penampilan salah satu Paroki yang ikut menjadi peserta lomba paduan suara.

Lebih lanjut Uskup Sibolga kelahiran kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini merincikan bahwa salib adalah mau mengagungkan kasih Allah dalam salib itu sendiri. Apa yang mau kita renungkan dalam peristiwa ini adalah salib menembus batas kemarahan, kebencian dan mengangkat supaya kita tidak terpaku serta tidak sungguh-sungguh mempertahankan egoisme kita masing-masing.

Salib Kristus melintas batas kebencian dengan menawarkan pengampunan. Jadi, salib suci menembus batas supaya kita ada kemampuan bukan kebencian dan balas dendam.

Maka, menghayati salib suci berarti berani menembus batas ego pribadi, menolak balas dendam dan juga meruntuhkan tembok permusuhan antara satu dengan yang lain.

“Seluruh umat yang digembalakan oleh pada Pastor OSC harus menghidupi spiritualitas salib suci OSC yang menekankan ada pengampunan, melepaskan ego, budaya rasa aman dan juga meruntuhkan pertentangan, perkelahian dan lain-lain,” ucap Mgr. Frans.

Dihadapan salib, kata Mgr. Frans, semua kekuatan dunia tunduk dan kalah. Dihadapan salib kita mengalami kegentaran dan ketakutan. Karena apa? Karena dari salib mengalir hidup. Ketika kita memandang salib, meninggikan dan mengagungkan salib. Kita mendapat kesembuhan dan kehidupan. Karena dari sana mengalir kehidupan, hidup, kasih dan pengorbanan untuk kita manusia.

“Hari ini kita mau berjanji kepada diri kita mau mengamini bahwa salib membuat kita berani untuk berkorban, makin berani bersaksi tentang salib itu sendiri dan juga salib itu kita dimampukan untuk berkorban kepada orang-orang yang kita bantu. Jangan katakan kita adalah pengikut Kristus kalau kita tidak berani memikul salib kita, maka kita ada karena Salib,” tutur Mgr. Frans.

Baca Juga:  UMAT PAROKI MISI DOMESTIK KAJ ARAK MARIA KE BUKIT DOA

Kekuatan Untuk Melangkah dan Menembus Batas

Sebelum doa berkat penutup misa, Ketua Regio OSC Keuskupan Agung Medan (KAM) Pastor Bernardus Yusa Bimo Hanto, OSC menyampaikan beberapa hal dari Pastor Propinsial OSC yang memang ditujukan terutama kepada para Pastor OSC di KAM dan semua umat yang digembalakan para Pastor OSC untuk sungguh-sungguh menjadikan pesta Salib Suci ini menjadi tantangan untuk kita.

Ia menyampaikan terima kasih atas setia, pengorbanan dan pelayanan saudara-saudara di Paroki Tanjung Selamat, Tebing Tinggi dan Sei Rampah serta dan karya pelayanan di KAM.

Pada pesta salib suci ini, katanya, kita diteguhkan bahwa salib bukanlah untuk berhenti dalam kenyamanan, tetapi kekuatan untuk melangkah dan menembus batas.

“Mari kita berkarya dengan hati gembira dan tetap setia pada kharisma OSC hidup bersama liturgi dan karya kerasulan. Dalam rangka 100 tahun OSC di Indonesia, kita semua ditantang jangan hanya mempertahankan yang sudah ada. Tetapi, beranilah mencari yang baru, menjangkau yang belum tersentuh dan menghadirkan Kristus dengan cara yang semakin relevan,” ucapnya.

Bersama seluruh umat yang diutamakan, lebih lanjut Propinsial menambahkan jadikan Tanjung Selamat, Tebing Tinggi dan Sei Rampah sebagai medan pembuktian semangat menembus batas.

“Setelah 100 tahun ini, pertanyaan terakhir disampaikan beliau tentunya kita semua setelah 100 tahun, batas apa yang masih berani kita tembus demi Kristus dan keselamatan manusia. Ini menjadi refleksi kita bersama Salib Tuhan sebagai tanda kemenangan. Ia menyalakan arti cinta kita bagi Tuhan dan sesama,” ujar Pastor Bernardus Yusa dalam akhir sambutannya.

Uskup Sibolga, Mgr. Frans dalam sambutannya mengucapkan selamat para pastor yang merayakan pesta salib suci dan juga merayakan HUT 100 tahun Ordo Salib Suci di Indonesia.

 

Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga (kedua dari kanan) berfoto bersama Para Pastor OSC yang berkarya di Paroki Tebing Tinggi.

Seusai Misa, acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah yang diawali dengan drama Napak Tilas OSC berkarya di Regio Medan yang dikoordinir oleh Pastor Thomas Tjatur Herianto, OSC. Lalu, kata-kata sambutan kemudian pemotongan tumpeng, pemberian cendramata (Ulos) kepada Uskup Sibolga dan hiburan lagu oleh Uskup Sibolga dan Para Pastor OSC serta para undangan lainnya.

Baca Juga:  Perayaan Sederhana Peringatan Tujuh Tahun Pengangkatan Mgr. Ignatius Suharyo Menjadi Kardinal

Ketua Panitia Pesta Salib Suci, Lamhot Sitorus dalam sambutannya menyampaikan ada beberapa acara yang dilakukan sebelum acara Pesta Pemulihan Salib Suci ini. pertama, Retret khusus DPP untuk 3 paroki yang dilaksanakan pada tanggal 1-2 Mei 2026 di Samadi Maranatha.

Paroki Tanjung Selamat A menjadi pemenang juara Pertama pada Pesta Salib Regio Medan.

Kedua, Recontre khusus OMK dengan menghadirkan Pastor Eko Wahyu OSC dari Bandung kemudian Doa Novena selama 9 hari mulai tanggal 5-13 September 2026 di tiga Paroki dan Ketiga, Pesta Pemulihan Salib Suci pada 14 September 2026 dan terakhir nanti pada 3 Februari 2027 puncak penutupannya di Bandung.

Perayaan ini, kata Lamhot, mengajak kita semua untuk kembali memandang salib bukan sebagai lambang penderitaan melainkan sebagai simbol kemenangan kasih Allah yang tanpa batas. Melalui pengorbanan Kristus di salib, kita semua beroleh keselamatan.

“Pada pesta pemulihan salib suci yang kita rayakan adalah untuk mengenang penemuan salib oleh Santa Helena. Lebih dari itu pesta ini lebih merupakan ungkapan iman gereja terhadap salib Yesus sebagai jalan keselamatan,” ucap Lamhot Sitorus.

Pastor Paroki Tebing Tinggi, Pastor Petrus Umar, dalam sambutannya mengatakan bahwa Salib sekarang akan menjadi jembatan. Inilah harapan mulai saat ini mari kita terus lanjutkan komunikasi dan koordinasi.

“Boleh berkompetisi dan bersaing, tetapi ingat pusat kita adalah Kristus dan para Ordo Salib Suci. Semoga dari peristiwa ini, ketiga Paroki ini memiliki warna yang berspiritualitas, kebersamaan OSC dan lain-lain,” ujar Pastor Petrus Umar.

Para Pemenang juara Lomba Paduan Suara pada Pesta Salib Regio Medan dalam rangka 100 tahun OSC berkarya di Indonesia.

Sebagai puncak perayaan pesta pemuliAan salib suci ini digelar perlombaan Paduan Suara yang diikuti 6 peserta lomba dari ketiga Paroki. Adapun juara pemenang lomba paduan suara, yakni:

Pertama: Paroki Tanjung Selamat A

Kedua: Paroki Tebing Tinggi B

Ketiga: Paroki Tanjung Selamat B

Harapan Satu: Paroki Tebing Tinggi A

Harapan Kedua: Paroki Sei Rampah A

Harapan Ketiga: Paroki Sei Rampah B

Dirigen terbaik dari Paroki Tebing Tinggi B.

 Laporan Parulian Tinambunan dari Medan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles