HIDUPKATOLIK.COM – Suasana penuh syukur dan keakraban mewarnai peringatan Santa Theresia dari Lisieux di Shelter Santa Theresia, Batam, Rabu (1/10). Perayaan yang dikemas dalam Misa Syukur tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat pelayanan kemanusiaan melalui spiritualitas “Jalan Kecil” Santa Theresia.
Misa dipimpin Uskup Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM didampingi para imam konselebran. Hadir dalam perayaan tersebut keluarga besar Shelter Santa Theresia, pengurus KKPPMP Kevikepan Kepulauan Riau, Generasi Samaritan, para donatur, pendamping, serta masyarakat yang selama ini memberikan perhatian terhadap karya pelayanan shelter.
Dalam homilinya, Mgr. Adrianus mengingatkan bahwa pelayanan kepada sesama tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan, meskipun dilakukan melalui hal-hal yang tampak sederhana.
“Sekecil apa pun pelayanan dan kepedulian yang kita berikan, semuanya sangat berharga di hadapan Tuhan,” pesan Mgr. Adrianus.
Pesan tersebut sejalan dengan spiritualitas Santa Theresia dari Lisieux yang dikenal melalui “Jalan Kecil”. Santa Theresia mengajarkan bahwa kekudusan dapat ditempuh melalui perkara-perkara sederhana yang dilakukan dengan kasih yang besar.

Semangat inilah yang selama ini berusaha dihidupi Shelter Santa Theresia dalam karya pelayanan kemanusiaan.
Berawal dari Kapel Sederhana
Shelter Santa Theresia memiliki perjalanan pelayanan yang berawal dari sebuah kapel sederhana. Dari tempat tersebut, karya pelayanan kemudian berkembang menjadi ruang pendampingan dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
Karena itu, peringatan Santa Theresia tidak hanya menjadi perayaan pelindung shelter, tetapi juga kesempatan untuk melihat kembali perjalanan pelayanan yang telah ditempuh bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Adrianus juga mendoakan agar Shelter Santa Theresia senantiasa “dihujani mawar”, simbol yang sangat dekat dengan Santa Theresia.
Mawar tersebut menjadi gambaran rahmat, kasih, dan kebaikan Tuhan yang diharapkan terus mengalir melalui setiap orang yang terlibat dalam pelayanan.
Penyintas Berbagi Kisah
Usai Misa, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah. Keluarga Shelter Santa Theresia menampilkan drama singkat mengenai kehidupan Santa Theresia.

Drama tersebut membawa pesan tentang bagaimana perkara-perkara kecil dapat diselesaikan dengan hati yang besar.
Suasana kemudian semakin menyentuh ketika para pendamping shelter berbagi pengalaman pelayanan. Salah seorang penyintas juga menyampaikan kesaksiannya tentang perjalanan hidup dan proses pendampingan yang dijalani di shelter.
Kesaksian tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap pelayanan terdapat manusia dengan cerita, luka, harapan, dan perjuangan untuk bangkit.
Para donatur juga mendapat kesempatan menyampaikan kesan dan pengalaman mereka selama mendukung karya Shelter Santa Theresia.
“Mawar Apresiasi” untuk Para Pejuang Kebaikan
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian dalam rangkaian acara tersebut adalah “Mawar Apresiasi”.
Setiap peserta menerima setangkai bunga mawar yang dilengkapi pesan terima kasih, doa, dan harapan. Kegiatan ini terinspirasi dari Santa Theresia yang dikenal dengan simbol mawar.
Mawar tersebut menjadi simbol penghargaan bagi setiap orang yang selama ini mengambil bagian dalam pelayanan, baik melalui tenaga, waktu, doa, perhatian maupun dukungan material.
Pesannya sederhana: tidak ada kebaikan yang terlalu kecil ketika dilakukan dengan kasih.
“Satu Bulir, Satu Doa”
Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan aksi “Satu Bulir, Satu Doa”.
Setiap peserta menuliskan intensi doa pada kertas berbentuk bunga. Doa-doa tersebut mencakup berbagai intensi, mulai dari keluarga, kesehatan, pendidikan, Gereja, pelayanan kemanusiaan hingga permohonan pribadi.
Seluruh doa kemudian ditempelkan pada papan doa dan akan didoakan bersama sepanjang Bulan Rosario Oktober.
Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa karya kemanusiaan tidak hanya membutuhkan tenaga dan keberanian, tetapi juga kekuatan doa.
Perayaan ditutup dengan makan siang bersama dalam suasana sederhana dan penuh kekeluargaan.
Bagi keluarga besar Shelter Santa Theresia, peringatan Santa Theresia dari Lisieux menjadi pengingat bahwa pelayanan kemanusiaan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia dapat dimulai dari sebuah kapel sederhana, sebuah tangan yang menolong, telinga yang mau mendengar, doa yang dipanjatkan, dan hati yang bersedia mencintai.
Semangat itulah yang terus dihidupi Shelter Santa Theresia: melakukan perkara-perkara kecil dengan kasih yang besar.





