Hari Minggu: Hari Pertama atau Hari Terakhir?

86

HIDUPKATOLIK.COM – HARI Minggu itu hari pertama atau hari terakhir? Awal pekan atau akhir pekan? Jawabannya tergantung dari sisi mana melihatnya. Menurut saya, hari Minggu itu adalah hari pertama. Bagaimana penjelasannya?

Pertama, perlu diketahui dahulu bagaimana bisa hari Minggu disebut hari terakhir atau akhir pekan. Istilah “akhir pekan” melekat dengan pengertian saat bersantai atau bermalas-malasan. Kebanyakan orang biasanya menganggap akhir pekan terkait dengan hari libur, yaitu Sabtu dan Minggu. Banyak kantor atau perusahaan yang menempatkan dua hari tersebut sebagai hari libur bagi karyawannya. Namun, ada juga kantor atau perusahaan yang hanya menjadikan hari Minggu sebagai hari libur selain hari besar dan hari libur nasional tentunya.

Berdasarkan hal itulah orang-orang biasanya mengasosiasikan hari Sabtu dan Minggu sebagai akhir pekan. Jika dipikir-pikir memang ada benarnya. Namun, sepertinya alasan atau landasan latar belakangnya kurang kurang tepat.

Lalu, bagaimana dengan sebutan Minggu sebagai “hari pertama”? Sebagaimana diketahui, satu pekan terdiri dari tujuh hari. Jika dihitung dari 1 sampai 7, angka 1 akan menjadi angka pertama dan 7 menjadi angka terakhir. Ketika ditanya, hari apa setelah hari Minggu, bisa dipastikan kita akan menjawab bahwa hari setelah hari Minggu adalah hari Senin.

Kata “senin” diambil dari bahasa Arab, itsna’in, yang berarti dua. Senin berarti dua dan sebelum dua adalah satu. Maka, hari sebelum Senin, yaitu Minggu, adalah satu, atau dengan kata lain hari pertama. Dengan demikian, pertama itu adalah awal, bukan akhir.

Hari Minggu berasal dari bahasa Portugis, Domingo. Kata Domingo diambil dari bahasa Latin Dies Dominica, yang artinya “hari Tuhan”. Hari Minggu sama juga dengan hari Ahad. Kata ahad diserap dari bahasa Arab, yang artinya “satu”. Ahad semakna dengan kata wahid yang adalah bilangan satu dalam bahasa Arab. Hari ke-2 adalah Itsna’in (Senin atau Isnin dalam ejaan Melayu Malaysia); hari ke-3 ialah Tsulatsa (Selasa); hari ke-4 Arba’ (Rabu). Hari ke-5 Khomis (Kamis). Hari ke-7 Sab’ah (Sabtu/Sabbat). Sementara sang penghulu hari, yakni Jum’ah (Jumat), memiliki nama sendiri yang istimewa. Bukan “Sittah” atau keenam, sesuai urutan bilangan.

Nama-nama hari tersebut juga mirip dengan bahasa Ibrani, yaitu ‘ekad (satu), syenayim (dua), syalosh (tiga), ‘arba’ (empat), kamesh (lima), syesh (enam), syeva’ (tujuh).

Penjelasan di atas merupakan jawaban berdasarkan etimologi nama-nama hari tersebut. Untuk sementara, dapat dikatakan bahwa hari Minggu adalah hari pertama!

Sekarang, marilah kita menyentuh sedikit dasar Biblisnya. Sebenarnya untuk menerangkan hal ini, sangat diperlukan penjelasan yang panjang karena berkaitan dengan pembahasan “Teologi Hari Minggu/Sabat”.

Bacalah Kej 2:2 dan di situ dikatakan bahwa “… pada hari ketujuh itulah Allah berhenti dari segala pekerjaan”, atau dalam bahasa kita Allah beristirahat. Hari ketujuh yang dimaksud adalah hari Sabat atau Sabtu seperti yang kita kenal sekarang. Dengan demikian, Minggu adalah hari pertama!

Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa acap kali Tuhan Yesus menampakkan diri dalam tubuh kebangkitan-Nya dan harinya selalu disebut sebagai “hari pertama” dalam minggu itu. Misalnya, tertulis dalam Mat 28:1, 9, 10; Mrk 16:9; Luk 24:1, 13, 15; dan Yoh 20:19, 26.

Contoh lain dari ayat-ayat yang dengan jelas menyebut hari pertama dalam minggu itu adalah Kisah Rasul 20:7 yang menjelaskan bahwa “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti” (Kis. 20:7). Dalam 1Kor. 16:2 Paulus menasihati orang-orang percaya di Korintus, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing, sesuai dengan apa yang kamu peroleh, menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah” (1Kor. 16:2). Perayaan Hari Tuhan bagi umat Kristen adalah hari Minggu yang dikatakan sebagai hari pertama di dalam minggu, dan bukan Sabat (hari terakhir dalam minggu).

Hari pertama dalam minggu itu, hari Minggu, hari Tuhan (Why. 1:10) memperingati ciptaan baru dan di sana Kristus menjadi pemimpin kita yang sudah bangkit (2Kor. 5:17). Kita tidak perlu mengikuti Sabat dari Musa, beristirahat, tetapi kita sekarang bebas mengikuti Kristus yang bangkit, melayani. Rasul Paulus mengatakan bahwa masing-masing orang Kristen harus memutuskan apakah akan beristirahat pada hari Sabat, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri” (Rm. 14:5).

“Kita tidak perlu mengikuti Sabat dari Musa, beristirahat, tetapi kita sekarang bebas mengikuti Kristus yang bangkit, melayani.”

Febry Silaban, penulis buku “YHWH: Empat Huruf Suci”

HIDUP, Edisi No. 31, Tahun ke-75, Minggu, 1 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here