Kepala Paroki Slipi, Pastor Lasbert Livinus Sinaga, CICM: Vaksinasi Jalan Terbaik

142
Suasana vaksinasi di Paroki Kristus Salvator, Slipi, KAJ. (Foto: Dok Paroki Slipi)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – “Jangan menyepelekan niat luhur umat bila itu menyangkut kebaikan dan khususnya mau menyelamatkan nyawa domba yang kapan saja bisa hilang”

Seiringter batasnya kegiatan pelayanan sakramen dan hanya mengandalkan live streaming serta konseling daring dengan umat, membuat saya banyak bermenung. Sebagai imam saya bertanya dalam hati, apa kira-kira yang bisa saya lakukan di masa pandemi ini?

Pastor Lasbert Livinus Sinaga, CICM
Halaman Gereja Paroki Kristus Salvator, Slipi, saat vaksinasi, 17-18 Juli 2021. (Foto: Dok Paroki Slipi)

Sangat sedih bila mendengar ada umat dimakamkan tanpa diibadatkan dengan layak. Sementara bila harus melayani, rasa kecemasan itu tetap ada. Apalagi bila pemberian Sakramen Pengurapan Orang Sakit maupun ibadat pelepasan jenazah terjadi di rumah umat, kebanyakan belum ada informasi yang jelas apakah orang menerima sakramen atau salah satu anggota keluarga terpapar Covid-19. Berbeda dengan di rumah sakit dan rumah duka di mana informasi dari petugas mengenai pasien yang dilayani sudah jelas, sehingga bisa mengambil tindakan antisipasi. Dilema ini membuat saya semakin hanyut dalam permenungan.

Belum Cukup

Nurani saya tergelitik, mendoakan umat melalui Misa live streaming saja tidaklah cukup. Apalagi melihat jalannya program Panitia Penggerak Tahun Refleksi (PPTR) paroki, yang telah banyak memberi bantuan kepada umat, ternyata dinilai belum juga cukup. Saya pun jadi teringat dengan percakapan dengan satu atau dua orang yang juga masuk dalam anggota Tim Gugus Kendali Paroki (TGKP). Mereka menyampaikan bahwa pemberian bantuan obat-obatan, multivitamin, dan sembako untuk mereka yang terpapar, baik bagi umat yang melaksanakan isolasi mandiri maupun dirawat di rumah sakit ternyata belumlah cukup.

Akhirnya, mengingat banyak gagasan dari beberapa umat, khususnya dokter yang ada di Tim TGKP untuk segera melaksanakan vaksinasi, didiskusikanlah hal itu. Niat baik yang terlontar ini pun saya anggap sebagai suara Tuhan yang harus dilaksanakan untuk menyelamatkan umat-Nya yang akan hilang karena pandemi. Apalagi dengan semakin masifnya penyebaran Covid-19 di Jakarta ditambah dengan hampir ratusan umat kami terpapar dengan puluhan orang meninggal dunia. Urgensitas ini menyakinkan kami untuk segera merealisasikan gagasan luhur tersebut. Agenda inipun menjadi utama dan dibawa dalam beberapa kali rapat daring Dewan Pengurus Harian (DPH). Di situ, kami banyak berdiskusi dan memutuskan untuk segera membentuk panitia vaksinasi agar umat banyak diselamatkan pada masa mendatang.

 Menantang

Asa itu ternyata belum ditanggapi dengan maksimal. Dari percobaan tahap pertama, hanya 300an umat yang bersedia divaksin. Memang ada kemungkinan bahwa mayoritas umat sudah divaksinasi. Kemudian tantangan berikutnya, banyak berseliweran asumsi bahwa pasti masih banyak umat yang belum bersedia. Menanggapi ini, kami langsung membentuk tim vaksinasi yang solid dengan memperdayakan semua seksi-seksi di paroki agar bisa mendapatkan kuota 1000 orang. Hal ini penting supaya paroki bisa mengadakan vaksinasi mandiri. Harus diakui memang, paroki memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan umat, namun program ini kita yakini bisa menyelamatkan banyak umat dalam jangka panjang.

Mewujudkan gagasan melaksanakan vaksinasi memang dirasa cukup menantang. Hal ini menyangkut bagaimana cara menganimasi dan menyakinkan pemahaman umat tentang kesehatan di tengah maraknya berseliweran berita palsu (hoax) tentang vaksin yang beredar.

Berdasarkan fakta yang “digodok” oleh Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Paroki serta kisah para dokter kami di lapangan, kami mengambil kesimpulan bahwa vaksinasi bisa mengurangi angka kematian bila ada yang terpapar Covid-19. Melalui narasi kesimpulan ini, kami pun menghimbau umat yang belum melaksanakan vaksinasi agar segera melakukannya dengan mendaftarkan diri via google form yang telah dibuat Tim Litbang.

Guna terlaksananya, kami meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta agar usia 12 tahun ke atas bisa diikutsertakan agar target kuota bisa dicapai sehingga kami mendapat restu dan lampu hijau vaksinasi mandiri. Tanpa berlama-lama, kami segera bergeral menghubungi setiap ketua lingkungan agar semua umat yang belum divaksin segera mendaftarkan diri sebab inilah “obat” yang paling mujarab untuk melawan covid. Selain itu, kami juga ikut meneguhkan agar tidak menunda atau memilih-milih merek vaksin yang akan diterima. Apapun merek yang disodorkan pemerintah, agar diterima secepat mungkin, karena bila terlambat nyawa bisa melayang.  Dengan berjalannya waktu sembari menerima suar-suar fakta dan kisah dari para dokter dilapangan bahwa vaksinasi telah banyak menyelamatkan atau sekurang-kurangnya meminimalisir angka kematian, akhirnya ada penambahan jumlah signifikan dari umat yang mendaftar.

Melebarkan Sayap

Usai menargetkan umat sendiri untuk menerima vaksin, kami pun melebarkan cakupan. Kali ini kami menaruh perhatian kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan keluarga umat seperti, pembantu rumah tangga (PRT), karyawan, supir, dan sebagainya. Tidak hanya itu, kami juga merangkul masyarakat di sekitar paroki seperti para penjual kaki lima yang beroperasi di sekitar paroki. Alhasil setelah mendapat kuota yang cukup, kita langsung mengajukan data ke Dinkes dan Puskesmas terdekat. Mereka menyetujui permintaan kami dan mereka siap membantu apa yang kami butuhkan. Kami bersyukur bahwa program vaksinasi ini dilakukan oleh para dokter dan tenaga kesehatan (nakes) dari paroki sendiri. Mereka sangat antusias dan dengan penuh semangat melayan selama dua hari pada tanggal 17 hingga 18 Juli 2021 yang bertempat di Aula Petrus, Gereja Kristus Salvator.

Kunjungan Lurah Palmerah dan Gugus Tugas Covid-19 Jakarta Barat.

Sebagai komunitas Paroki, kita turut mendukung pengadaan sarana dan parasarana yang dibutuhkan dan banyak juga umat dengan suka rela menyumbangkan  alat pelindung diri (APD) lengkap dan komsumsi bagi semua yang bertugas. Saya sebagai pastor paroki sangat bersyukur bahwa dengan kerja sama dari semua sektor, program vaksinasi mandiri ini berjalan dengan lancar, dan banyak memberi apresiasi baik dari umat peserta vaksinasi, dari aparat pemerintah, khususnya ibu Lurah Palmerah dan Tim Gugus Jakarta barat yang datang memantau ke aula Paroki dimana vaksinasi diadakan. Semoga dengan pengadaan misi seperti ini Tuhan memberkati umat-Nya dan nanti pada tanggal 15 Agustus akan memperlancar vaksinasi dosis kedua. Tuhan memberkati.

HIDUP, Edisi No. 31, Tahun ke-75, Minggu, 1 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here