HIDUPKAOLIK.COM Kevikepan kembar di Yogyakarta, yaitu Kevikepan Yogyakarta Barat dan Kevikepan Yogyakarta Timur merayakan syukur atas ulang tahunnya yang keenam (7/10/2026) dengan cara masing-masing. Kedua kevikepan kembar ini resmi lahir setelah Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tanggal 7 Oktober 2020 secara resmi dimekarkan. Setiap kevikepan kembar mempunyai wilayah geografi yang luas terdiri atas 20 paroki. Terpilih sebagai Vikep pertama di Kevikepan Yogyakarta Barat adalah Pastor A.R. Yudono Suwondo. Sedangkan Kevikepan Yogyakarta Timur dipimpin oleh Pastor Andrianus Maradiyo, yang melanjutkan perutusan sebelumnya sebagai Vikep DIY.
Serah Terima Pelayanan Vikep
Para Vikep yang melayani di dua kevikepan kembar ini pada tanggal 17 Juli 2026 telah menerima surat keputusan Uskup Keuskupan Agung Semarang yang memberhentikan dengan hormat tugas pelayanan sebagai Vikep. Keduanya kemudian akan bertugas sebagai pastor paroki, Pastor Mardiyo di Kevikepan Surakarta dan Pastor Yudono Suwondo di Kevikepan Yogyakarta Timur. Proses serah terima pelayanan perutusan telah dilakukan bulan Agustus lalu dan saat ini kedua kevikepan berdinamika menuju arah baru bersama dengan kepemimpinan dua vikep baru tersebut.

Pelayanan gereja itu bukan menggantikan tetapi meneruskan tradisi apostolica seperti Rasul Petrus sampai era Paus Leo XIV saat ini. Para uskup juga menjalani tradisi alih kepemimpinan tersebut. Perjalanan karya itu juga dipengaruhi dan memengaruhi dinamika Gereja dan masyarakat sejak perkembangan masa lalu yang menjadi inspirasi pada reksa pastoral saat ini. Kondisi yang ada di lapangan pada saat pemekaran yang telah dibukukan menjadi dokumen dasar pemetaan untuk pengembangan pastoral kevikepan ke depan. Arahnya terus menerus menumbuhkembangkan gereja yang siginifikan dan relevan.

Para Vikep melayani dengan menjalankan 4 tugas pokoknya. Vikep adalah representasi kehadiran Uskup, ordinaris wilayah untuk memberi dispensasi dan bagian dari Dewan Keuskupan, pemerhati rohani para imam dan religius sehingga banyak melakukan kunjungan ke komunitas religius, pengembang pastoral dengan membuat dewan pastoral kevikepan. Gerakan solidaritas pasti ada perubahan, melihat dampak perubahan yang dilakukan sebagai transformasi dengan tindakan konkret. Namun, tekanan pastoralnya adalah mengawal arah dasar keuskupan, melakukan pastoral sesuai arah dasar. Dengan rumusan visi dan implementasi yang kian konkret maka pastoral makin terarah, terukur, dan termonitor.
Kevikepan Yogyakarta Barat
Vikep pertama Yogyakarta Barat, Pastor A.R. Yudono Suwondo menyatakan dengan tema khusus, “Ketara ketampa menjadi gemati, open, lan ngopeni” menginternalisasikan moto Uskup KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yaitu Querere et salvum facere. Artinya, agar Gereja sungguh hadir secara nyata dan relevan, maka reksa pastoral yang dijalankan harus selalu memperhatikan kondisi umat dan memberi perhatian lebih kepada mereka yang membutuhkan dengan sepenuh hati merawat dan menjaganya. Hal ini dinyatakan dengan supervisi yang mengapresiasi praktik baik dan merehap hal-hal yang masih buruk/kurang.

Kekuatan Yogyakarta Barat adalah semangat paguyuban dan gotong royong umat. Hubungan dan semangat apresiatif harus diperhatikan terutama dalam kondisi kemampuan ekononi umat yang tidak kuat. Meskipun begitu, mereka mampu swadaya dalam keterbatasan dan mempunyai kerelaan waktu dan semangat pelayanan tinggi. Ada wahana pertemuan umat perlu diperhatikan misal FKT (Festival Kesenian Tradisional), kegiatan sosial budaya, dan aneka novena di tempat ziarah yang mampu meningkatkan kohesi sosial.

Pemda DIY mencanangkan abad samudra pada 2045 dengan memberi perhatian sisi selatan Jawa. Gereja harus memikirkan kebijakan terkait hal ini karena beberapa paroki Yogyakarta Barat akan terimbas. Kondisi umat yang mengalami peningkatan penduduk lansia sejalan kebutuhan caregiver lansia. Tim pelayanan umat perlu menyiapkan pos-pos caregiver melalui komunitas dan paroki.

Vikjen KAS, Pastor F.X. Sugiyana mengatakan kepemimpinan yang dilakukan Vikep pertama ini sangat dekat dengan umat, bersinergi dengan pemerintah, serta menunjukkan ketaatan kepada pimpinan dalam segala hal. Kesan formal, resmi, simbolik menunjukkan kebanggaan, akan kehadiran dan perannya dalam pastoral. Peran dan kreativitas umat pun menjadi unik dan berbeda dengan kevikepan lain dalam koordinasi dan komunikasi yang bagus dengan menyatukan hobi dan sapaan pastoral. Diharapkan hal-hal baik ini dilanjutkan oleh Vikep baru untuk menjadikan Wates sebagai pusat pastoral Gereja di kevikepan ini.

Dalam sertipel ini hadir juga Bupati Kulonprogo, R. Agung Setiawan yang turut menyampaikan apresiasi dan harapan akan sinergi dan ekrja sama ke depan dengan Vikep baru untuk melayani masyarakat. Vikep baru Pastor Yohanes Sunaryadi juga menyampaikan apresiasi dan kesiapan melanjutkan pelayanan. Hal ini dimulai dengan kunjungan ikon pelindung Kevikepan Yogyakarta Barat, dalam bentuk lukisan Bunda Maria Penasihat Baik yang berkeliling ke semua paroki dimulai 15 Agustus dan berakhir 22 Oktober 2025.
Kevikepan Yogyakarta Timur
Dengan mengangkat tema “Solidaritas adalah buah perjumpaan antara keheningan dengan realitas”, Vikep Kevikepan Yogyakarta Timur Pastor Andrianus Maradiyo menyampaikan refleksi kepemimpinannya selama ini. Sebagai Vikep terakhir Kevikepan DIY (2018–2020) dan Vikep pertama Kevikepan Yogyakarta Timur (2020–2026), Pastor Andrianus menegaskan dirinya adalah kolaborator Tuhan sedangkan yang bekerja adalah Tuhan sendiri. Melayani sebagai vikep adalah pelayanan seorang rekan kerja Allah, sebagai copilot Allah.
Pastor Andrianus selaku Vikep DIY merupakan ketua tim pelaksana pemekaran kevikepan DIY menjadi dua kevikepan kembar hasil rekomendasi Dewan Imam KAS. Dalam berbagai situasi sulit yang dihadapi, kegiatan pemekaran dibantu oleh banyak pihak sehingga dapat terbentuk sesuai harapan. Kondisi yang berat dihadapi saat pandemi Covid-19 dapat melahirkan terobosan-terobosan baru dalam reksa pastoral umat, termasuk aspek ketahanan pangan. Kegiatan ini masih dilanjutkan oleh beberapa komunitas dan paroki, misalnya Jolali, PJS, Sega Mubeng, Ragi Suci, dan sebagainya.
Hal penting yang juga dilakukan adalah terwujudnya kerja sama dengan tim psikologi dan kesadaran bahwa Kevikepan harus berkolaborasi dengan banyak pihak, lembaga-lembaga yang ada. Pendampingan OMK untuk bidang sosial politik, kerja sama rumah BUMN dan BRI serta pegadaian untuk mendampingi pelaku usaha Katolik. Gerakan membantu guru-guru honorer, serta pilot project katekese bagi orang muda, program paroki hijau dan sebagainya menunjukkan proses sinergi antarkomisi dan lembaga yang ada. Kevikepan Yogyakarta Timur mempunyai potensi lembaga-lembaga pendidikan Katolik, seminari dan biara formasio biarawan/wati sehingga pengembangan panggilan dan hidup rohani umat diharapkan makin terdukung.

Vikep Yogyakarta Timur yang baru, Pastor Marcelinus Tanto menyampaikan selama 18 tahun menjadi imam telah belajar dari 4 orang vikep. Ia menyadari bahwa karya Gereja selalu mengandalkan Roh Kudus sehingga akan mengalirkan banyak rahmat Allah yang luar biasa. Penugasan ini disyukuri sebagai karya Allah yang mendampingi umat-Nya, sebagai Gereja yang terus memperbarui diri. Karena itu, pelayanan selama kepemimpinannya ke depan pun akan diwarnai dengan kesadaran Gereja yang terus melakukan kolaborasi, sinergi dengan komisi dan pastor paroki untuk melanjutkan tugas dan program yg ada.
Vikjen KAS, Pastor F.X. Sugiyana menyatakan bahwa Kevikepan Yogyakarta Timur mempunyai kedudukan sentral menghadirkan Gereja dan nilai strategis karena lokasinya dekat dengan pusat pemerintahan DIY. Atas refleksi Vikep, dikatakannya bahwa solidaritas adalah perjumpaan keheningan dan realitas menunjukkan ada unsur ilahi, interkoneksi, transformasi yang menghadirkan kasih dan karya Allah, bukan ambisi pribadi. Karena itu, diharapkan Gereja bisa dirasakan keberadaannya oleh banyak orang dalam aneka fungsi kehadirannya.
Veronika Murwaningsih (Yogyakarta)





