spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Legio Maria adalah Karya Roh Kudus

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – MEMAHAMI Buku Pegangan Legio Maria (BPLM) bukan perkara mudah. Isinya kompleks, beberapa temanya kadang berulang, dan tidak selalu terstruktur logis. Menyadari ini, Pastor Adrianus Pristiono, seorang imam Karmelit, menulis buku berjudul Membuka Isi Buku Pegangan Legio Maria (MIBPLM). Oleh Penulisnya, MIBPLM ini dimaksudkan pertama-tama untuk membantu anggota Legio Maria, khususnya para Presidium yang dianjurkan berperan sebagai guru bagi para anggotanya, agar memahami secara baik dan sistematis isi BPLM yang disusun Frank Duff.

Penulis membahas tema-tema seluruh bab BPLM dengan menata ulang dalam 12 Bagian. Bagian-1: Asal dan Tujuan Legio Maria; Bagian-2: Simbol Legio Maria; Bagian-3: Spiritualitas dan Janji Legio Maria; Bagian-4: Doa-doa Legio Maria; Bagian-5: Agenda rutin pertemuan; Bagian-6: Kewajiban para Legioner; Bagian-7: Saran tugas para Legioner; Bagian-8: Esensi Kerasulan Legio Maria; Bagian-9: Presidium; Bagian-10: Struktur Dewan Pemimpin Legio Maria; Bagian-11: Keanggotaan Legio Maria; Bagian-11: Keuangan. Dilampirkan juga daftar istilah teknis-khusus dan tanggal-tanggal penting Legio Maria (hlm 275 – 289).

Legio Maria didirikan pada 7 September 1921 di Dublin, Irlandia, oleh Frank Duff (1889–1980). Anggota pertamanya adalah Frank Duff sendiri, Pastor Michael Toher, dan 15 wanita awam Katolik. Duff aktif dalam Serikat Santo Vincentius de Paul dan Ordo Karmel Ketiga. Dari dua lembaga itu ia belajar disiplin kerasulan dan spiritualitas pelayanan kepada kaum miskin. Pengalaman pastoralnya melawan kemiskinan, alkoholisme, dan proselitisme Protestan membentuk visinya untuk melibatkan kaum awam dalam karya kerasulan.

Legio Maria mengadopsi semangat pasukan Romawi kuno, dengan Maria sebagai panglima rohani dan para Legioner prajuritnya. Senjata mereka adalah Sabda Allah dan doa-doa. Legio Maria tidak berasal dari dunia, melainkan dari kehendak Allah melalui Maria. Tanggal berdirinya, 7 September 1921, dipilih secara simbolis menjelang pesta Kelahiran Santa Perawan Maria (8 September), yang dimaknai sebagai hari kelahiran rohani Legio.

Ada dua tujuan Legio Maria: untuk kemuliaan Allah dan pengudusan anggota-anggotanya. Untuk mencapai kedua tujuan itu, Legio Maria menggabungkan doa dan karya nyata, dalam ketaatan penuh kepada hierarki Gereja. Empat praksis utama dijabarkan: Pertama, Mewartakan Injil lewat doa dan teladan hidup; Kedua, Bekerjasama dengan hierarki Gereja dalam karya pastoral; Ketiga, Membangun persekutuan umat sebagai satu tubuh Kristus; Keempat, Menjadi pemersatu umat manusia melalui spiritualitas kasih dan devosi sejati kepada Maria. Selain itu, setiap Legioner dipanggil untuk menjadi ragi dalam masyarakat.

Tujuan Legio Maria mengimplikasikan tugas ganda: menguduskan diri sendiri dan melayani sesama. Esensi kedua tugas ganda ini mengupayakan pertumbuhan dalam hal kesatuan dan keserupaan dengan Kristus. Hal ini pertama-tama merupakan tugas keibuan Maria. Para legioner menghayati peran keibuan Maria ini dengan membangun relasi yang akrab dengan Maria. Relasi yang akrab mendorong legioner untuk ambil bagian dalam tugas keibuan Maria. Oleh karena itu pada Legio Maria hanya ada satu asas, yaitu Maria.

Baca Juga:  Misi Artemis: Pijakan Manusia Menuju Habitat Kedua

Spiritualitas Legio Maria bersumber dari Maria sebagai perawan paling berkuasa dan mempelai Roh Kudus. Frank Duff menegaskan bahwa Legio   Maria hanyalah sarana kasih Allah. Semua kekuatan kerasulannya berasal dari Roh Kudus. Para Legioner diajak meneladan Maria dalam ketaatan, kerendahan hati, dan keberanian melakukan yang luhur bagi Allah.

Sikap ksatria rohani diwujudkan dalam tiga dimensi. Pertama, Kesetiaan dalam doa dan tugas kecil yakni melayani dengan cinta tanpa pamrih. Kedua, Keberanian menghadapi tantangan iman, termasuk menegakkan moral Kristiani di tengah dunia sekuler. Ketiga, Cinta kasih total kepada Kristus melalui Maria, yang menjadi jalan menuju kesatuan dengan Allah.

Untuk mencapai kekudusan, Legio Maria berdiri di atas empat pilar utama. Pertama, Sarana Umum: doa, rahmat Roh Kudus, dan partisipasi dalam Ekaristi sebagai sumber kekuatan kerasulan. Kedua, Sistem yang teratur: kehidupan organisasi yang rapi, disiplin, dan berdasarkan peraturan tetap. Sistem ini meniru struktur militer namun digerakkan oleh cinta kasih rohani. Ketiga, Kesempurnaan anggota: tidak diukur dari keberhasilan lahiriah, melainkan dari ketaatan dan kesetiaan terhadap sistem dan semangat pelayanan. Keempat, Rapat Mingguan Presidium: pusat kehidupan Legio. Frank Duff menyebutnya “jantung Legio” yang menyalurkan darah kehidupan rohani kepada seluruh anggotanya. Dalam rapat inilah anggota menerima tugas, melapor, berdoa, dan meneguhkan semangat persaudaraan. Tanpa rapat rutin, Legio akan kehilangan jiwa. Maka setiap Legioner diwajibkan hadir, tepat waktu, dan aktif berpartisipasi. Rapat dipandang sebagai bentuk ketaatan spiritual, bukan formalitas administratif semata.

Simbol memiliki peranan penting karena menjadi bahasa rohani yang mengungkapkan misteri iman. Legio Maria mengenal tiga simbol utama: Gambar Legio, Tesera, dan Veksilum. Gambar Legio memuat tiga kutipan Kitab Suci (Kej. 3:15; Yoh. 19:26–27; Luk. 1:45) yang menggambarkan peran Maria sebagai perempuan yang meremukkan kepala ular, ibu rohani umat beriman, dan wanita beriman yang terpuji karena ketaatannya.

Simbol ini mengajarkan bahwa para Legioner bukan hanya “prajurit Maria”, tetapi juga “anak-anak Maria” yang dipelihara dan dibimbing olehnya. Tesera adalah lembar doa resmi Legio Maria, berisi doa pembuka, Katena (rantai doa yang menyatukan semua Legioner di dunia), dan doa penutup. Tesera menjadi tanda persatuan universal dalam doa. Sementara veksilum (Panji Legio) melambangkan panji Maria yang memimpin pertempuran rohani. Panji ini membawa gambar merpati (Roh Kudus) di atas bola dunia dan salib, melambangkan kemenangan kasih Allah atas dosa.

Baca Juga:  Paus Leo XIV: Martabat Manusia Tidak Hilang Bahkan setelah Kejahatan Serius Dilakukan

Spiritualitas Legio Maria berakar pada semangat kerasulan Maria: menghayati kasih dalam Tritunggal Mahakudus dan menjadi bagian dari Tubuh Mistik Kristus. Para Legioner mengikrarkan Janji Legio, suatu pernyataan pribadi untuk setia melayani Allah melalui Maria, menghidupi doa harian Katena, dan menaati sistem organisasi. Ketaatan dan kesetiaan ini bukan sekadar kewajiban moral, tetapi bentuk kenosis (pengosongan diri) demi partisipasi dalam misi Kristus. Hidup seorang Legioner diharapkan menjadi sakramen kasih Allah bagi sesama.

Ditegaskan penulis pentingnya doa sebagai fondasi kerasulan. Doa Legio Maria terbagi menjadi tiga: Pertama, Doa Pembuka sebagai ungkapan penyerahan diri kepada Roh Kudus; Kedua, Katena Legionis, yang berisi Magnificat (Kidung Maria) sebagai inti spiritualitas Legio; Ketiga, Doa Penutup, permohonan agar para Legioner dipersatukan dengan Maria dalam perutusan Gereja. Para Legioner dianjurkan berdevosi kepada para pelindung seperti Santo Yusuf, Santo Yohanes Rasul, Santo Louis-Marie de Montfort, para malaikat agung, dan seluruh bala tentara surgawi. Semua devosi diarahkan untuk memperdalam hubungan dengan Kristus.

Uraian terpanjang MIBPLM tentang esensi karya kerasulan yang dijalankan para Legioner (hlm 139-180). Dasar kerasulan Legio Maria adalah sakramen inisisasi (baptis, krisma, ekaristi). Semangat kerasulannya adalah aksi tanpa pamrih. Ada 34 macam cara yang baik dalam aksi kerasulan. Mulai dari berani menanggung risiko dalam aksi membawa pertobatan, rendah hati dan santun, sampai sikap melepaskan kepentingan diri. Dari larangan memberi hadiah sampai membawa Maria sebagai Teladan. Dalam Bagian-8 ini diuraikan pula perutusan injili dari BPLM Bab 40 dan praktik keutamaan kasih (BPLM Bab 41).

Semua karya itu dilakukan sebagai persembahan kasih. Legioner dilarang melakukan penggalangan dana, politik praktis, atau pemberian bantuan materi yang dapat mengaburkan motivasi rohani. Mereka hanya boleh memberi “hadiah rohani” berupa doa, kunjungan, dan pendampingan kasih. Dalam kerasulan, tidak ada orang yang terlalu jahat untuk diselamatkan, atau terlalu sempurna untuk dikunjungi. Legioner dipanggil menjadi jembatan kasih dan alat kerahiman Allah di dunia. Sikap dasar mereka ialah tidak menghakimi, tetap berpengharapan, dan menjadikan salib sebagai tanda kemenangan.

Baca Juga:  Pahitnya Biji Mahoni: Menjinakkan Bahasa Toxic dan Menjaga Adab Generasi Alpha

Legio Maria tidak mengandalkan kegiatan finansial duniawi. Semua dana yang ada digunakan untuk mendukung pelayanan rohani, bukan untuk keuntungan pribadi. Ketaatan terhadap prinsip kemiskinan rohani menjadi ciri khas Legio Maria: setiap sumbangan atau kolekte harus dicatat dan dipertanggungjawabkan dengan transparan.

Penulis menelaah cukup panjang struktur organisasi Legio Maria, mulai dari Presidium (unit dasar) hingga Konsilium (dewan tertinggi).
Presidium disebut “Rumah Mistik Nazaret”, tempat Maria dan Yesus hadir secara rohani. Di sinilah anggota berlatih kerendahan hati dan kerja sama.

Setiap Presidium dipimpin oleh Pemimpin Rohani, biasanya seorang imam, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Mereka menjalankan sistem rapat yang baku, mencatat laporan, menjaga rahasia, dan menanamkan semangat kesetiaan. Presidium memiliki varian khusus seperti Presidium Yunior (remaja) dan Presidium Seminari (calon imam), yang menyesuaikan dengan tingkat kedewasaan rohani.

Struktur di atasnya mencakup Kuria, Regia, Senatus, dan Konsilium, yang menjamin kesatuan Legio secara global. Struktur ini menunjukkan keteraturan khas militer tetapi berlandaskan spiritualitas kasih Maria.

Keanggotaan Legio Maria terdiri atas: Anggota Aktif , terdapat kategori Pretorian; Anggota Auksilier;    Patrisian. Anggota Aktif adalah   mereka yang menghadiri rapat mingguan dan melaksanakan tugas kerasulan. Pretorian adalah anggota khusus yang menambah intensitas doa dan komitmen pelayanan. Anggota Auksilier  adalah mereka yang tidak aktif dalam tugas tetapi mendukung lewat doa harian. Tingkat tertinggi dari Auksilier disebut Ajutorian, yang menggabungkan doa dengan komitmen hidup saleh.

 Patrisian adalah kelompok reflektif yang memperdalam iman dan spiritualitas Legio melalui diskusi dan doa bersama. Para Legioner yang meninggal dunia pun tetap dihormati sebagai bagian dari persekutuan para kudus dan didoakan dalam setiap rapat.

Penulis yang berharap muncul karya-karya baru yang memperdalam spiritualitas Maria menutup uraiannya secara tegas bahwa Legio Maria adalah karya Roh Kudus! Dalam buku MIBPLM 310 halaman berukuran standar Unesco -dengan 427 catatan kaki, 30 buku rujukan, dan 2 sumber lain dari internet- ini Penulis berhasil menguraikan relasi teologis antara Maria, Kristus, Gereja, dan kerasulan awam. Penulis “menyingkapkan” secara sistematis muatan teologi BPLM Frank Duff dalam bahasa yang mudah dipahami. Lantaran isinya yang berbobot dan kelangkaan buku sejenis dalam Bahasa Indonesia, kiranya buku MIBPLM ini menjadi rujukan penting siapa pun yang menaruh perhatian pada sosok Maria dan khususnya Legio Maria. Ave Maria, gratia plena!

Johanes Chrys W (Kontributor, Malang, Jawat Timur)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles