Era Baru

364
Era Baru
5 (100%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Keuskupan Purwokerto akan memasuki era baru. Fajar menyingsing. Mgr Christophorus Tri Harsono akan menerima tongkat kepemimpinan Keuskupan Purwokerto secara resmi pada 16 Oktober 2018. Ia akan ditahbiskan menjadi uskup menggantikan Mgr Julianus Kema Sunarko SJ yang mengudurkan diri karena memasuki masa pensiun. Pemilihan tanggal 16 Oktober tentu mengingatkan kita akan catatan sejarah penting keuskupan ini. Pada tanggal itu, statusnya dinaikkan dari Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik Purwokerto. Kemudian menjadi Keuskupan Purwokerto bersamaan dengan berdirinya hierarki Gereja Katolik Indonesia pada tanggal 3 Januari 1961.

Monsinyur Tri – demikian Mgr Christophorus Tri Harsono sekarang disapa – akan menggembalakan sekitar enampuluh satu ribu lebih umat Katolik. Kawanan kecil tersebut tersebar di Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang, Kabupaten/ Kota Pekalongan, Kabupaten/Kota Tegal, Kabupten Pemalang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen. Semuanya di Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah penduduk sekitar dua puluh juta jiwa. Secara teritorial gerejani, mereka berserak di 25 paroki.

Terpilihnya Monsinyur Tri cukup mengejutkan. Pasalnya, kelahiran 16 Januari 1966 ini adalah putera tulen Keuskupan Bogor. Sebelum dipilih Paus Fransiskus menjadi uskup, ia besar dan berkarya di Keuskupan Bogor. Status terakhir adalah Vikaris Jenderal. Mungkin juga tak pernah terbersit dalam ‘mimpinya’ akan bertugas di Keuskupan Purwokerto. Namun, tampaknya Monsinyur Tri telah dipersiapkan Tuhan. Ia sudah dibekali. Ia pernah berkarya di paroki dan di pendidikan calon-calon imam. Ketika menjadi Vikaris Jenderal, separuh kakinya sudah menjadi uskup. Dan, satu lagi ‘peluru’ yang ia miliki. Bahwasanya pria asal Paroki Ignatius Loyola Semplak, Bogor ini, mengambil studi Bahasa dan Budaya Arab di The Center or Arabic Studies of Comboni Missionaries Cairo, Mesir dan Pontifical Institute for Arabic & Islamic Studies di Roma Italia. Kita tahu bahwa umat Purwokerto berada dan tinggal bersama dengan umat beragama lain, terutama mayoritas Muslim. Tangan Tuhan menuntunnya ke sini.

Hadirnya pemimpin rohani selevel uskup, secara kasat mata, disambut umat dengan penuh sukacita dan harapan. Apalagi umat Keuskupan Purwokerto sudah dua tahun menunggu kehadiran seorang gembala utama. Sosok seorang uskup yang diharapkan mampu menuntun mereka berziarah bersama-sama dengan umat beragama lain di tengah dunia ini.

Menarik pula memperhatikan logo Monsinyur Tri. Ia memasukan satu ‘elemen’ penting yakni tangan Santo Fransiskus Asisi. Dalam penjelasan resmi dikatakan, dari kecil sampai saat ini, ia adalah hasil didikan semangat dan spiritualitas para uskup dan pastor Fransiskan. Dalam sejarah hidup Fransiskus Asisi, satu hal yang tidak boleh dilupakan, Fransiskus mengunjungi Sultan Almalik-al-Kalin di Mesir tahun 1219. Hal ini tampaknya akan membawa warna tersendiri dalam penggembalaan Monsinyur Tri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here