Paus Meminta Kita Bertanya: “Jatuh Cintakah Saya Kepada Tuhan?”
5 (100%) 2 votes

Di satu sisi, permenungan (kontemplasi) Maria bukanlah ‘tidak melakukan apa-apa’, jelas Paus. Maria memandang Tuhan karena Tuhan telah menyentuh hatinya. Dari memandang itu, ia mendapatkan ilham Tuhan bahwa pekerjaan yang sedang ia lakukan dapat ia kerjakan nanti. Tindakan Marta dimanifestasikan dalam regula St.Benediktus ‘Ora et Labora’ ‘berdoa dan berkerja”. “Inilah yang dilakaukan biarawan dan biarawati di biara.
Mereka tidak menghabiskan seluruh hari menatap langit.Mereka berdoa dan berkerja.”

Keutamaan ini pun menjelma dalam diri Santo Paulus. “Ketika  Tuhan memilih Paulus, dia tidak pergi untuk berkhotbah dengan segera. Tetapi sebaliknya, pergi untuk berdoa merenungkan misteri Yesus Kristus yang diwahyukan” :

“Segala sesuatu yang Paulus lakukan berdasarkan pada semangat kontemplasi ini, ‘memandang Tuhan.’ Tuhanlah yang berbicara dari hatinya, sebab Paulus jatuh cinta kepada Tuhan. Ini adalah kunci untuk tidak tersesat dalam dunia: “jatuh cinta.” Untuk mengetahui di sisi mana kita berada, atau apakah kita melebih-lebihkan karena kita masuk ke suatu kontemplasi yang terlalu abstrak, bahkan Gnostic; atau apakah kita terlalu sibuk; kita harus mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri: “Apakah saya jatuh cinta kepada Tuhan?

Apakah saya yakin, pasti bahwa Dia telah memilih saya? Atau apakah saya menjalani Kekristenan saya seperti ini, melakukan sesuatu… Ya, saya melakukan ini, saya melakukan itu; Tapi apa yang hatiku lakukan? Apakah itu membantuku merenung?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here