Dari Gereja Mandiri Menuju Gereja Misioner

426
Dari Gereja Mandiri Menuju Gereja Misioner
4.5 (90%) 2 votes

Pastor Neles Tebay punya pendapatnya sendiri. Ia melihat persoalan HAM ini dari segi identitas. Baginya, identitas dibentuk atas dasar antropologis, sejarah, dan proses politik. Kendati begitu orang Papua tidak mau adanya indentitas karena kebijakan politik. Pengalaman identitas politik kadang mengesampingkan iden-titas yang natural masyarakat Papua.

Koordinator Jaringan Damai Papua ini menegaskan, persoalan ini bisa diatasi bila ada komunikasi sektoral. Dengan begitu ada kesamaan dialog yang holistik pada semua bidang kehidupan termasuk persoalan-persoalan HAM. Sementara dalam konteks hidup menggereja khususnya Keuskupan Jayapura, dialog sektoral itu bisa teratasi dengan menguatkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

Peran Komunitas Basis
Ide pembentukan KBG itu ternyata sudah menjadi arah pastoral Mgr Leo. Konkretisasi dari setiap seruan atau harapan Mgr Leo diwujudkan dengan berdirinya KBG. Pokok ini diterapkan untuk mengantar umat pada visi keuskupan yaitu menjadi komunitas yang beriman, mandiri, dan visioner.

KBG menjadi komunitas yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil, umumnya 15-20 kepala keluarga, di suatu wilayah seperti paroki. Kelompok kecil ini memiliki nama yang berbeda, bahkan menghidupi aspek-aspek hidup menggereja yang berbeda pula entah kelompok evange-lisasi, kajian Kitab Suci, doa, atau renungan. KBG ini mengedepankan hati yang mendengarkan. Dengan begitu, harapannya ada jiwa yang terselamatkan.

Bila ada masalah, kerapkali, KBG turun tangan menyelesaikan antar kelompok. Tentu perlu kesadaran diri untuk berubah. Sebab tidak mungkin menjadi contoh sementara hidup tidak benar. Kekerasan-kekerasan yang kerap terjadi di Jayapura disikapi dan diselesaikan dalam semangat Injili. KBG ini mampu menelorkan orang-orang daerah dan juga Gereja Keuskupan Jayapura.

KBG menjadi cara hidup menggereja di abad XXI ini. Cara ini juga sejalan dengan salah satu buah pemikiran dalam Konsili Vatikan II di mana Gereja sebagai umat Allah. KBG adalah peran Gereja yang konkrit dalam kehidupan menggereja. “KBG sebagai tubuh Kristus terdiri dari ‘orang-orang yang kudus’, dengan anugerah, keahlian, ketrampilan, dan tugas yang berbeda-beda,” tulis Mgr Leo dalam Surat Gembala menjelang Paskah 2009.

Rossa Berkasa, penggiat KBG, mengatakan, kehadiran KBG sangat membantu karya pelayanan para pastor paroki. KBG itu hadir melengkapi karya pastoral para imam dalam menjaga keberlangsungan Gereja. Rossa memberi contoh, ketika terjadi pertikaian antar umat, Gereja hadir lewat KBG dengan memberi pendampingan rohani. “Di sini kaum awam punya peranan penting. Kaum awam itu bisa para guru agama, katekis, dewan paroki, termasuk antar keluarga-keluarga. Mereka mengajak umat yang bertikai supaya belajar berdamai,” ungkapnya.

Manusia Ekaristi
Mgr Leo adalah manusia Ekaristi yang sejati. Pesan dan makna Ekaristi, “memberi kepada umat. Sasaran utama tidak saja kepada mereka yang jauh tetapi juga orang-orang terdekat.

Mantan Sekretaris OFM Provinsi St Mikhael Indonesia, Pastor Marsekinus Onggol OFM mengatakan, hal lain yang menonjol dalam diri Mgr Leo, ia sangat memperhatikan panggilan para imam. Pastor Marsekinus mengatakan, para imam pun memiliki kelemahan yang sama seperti manusia lain.

Dalam karyanya, menurut Pastor Marsekinus, Mgr Leo selalu percaya kelemahan ini bisa diselesaikan bila ada kedekatan dengan Tuhan. “Spritualitas para imam menjadi perhatian Mgr Leo di saat para imam sibuk dengan pelayanan, mereka diingatkan untuk tidak lupa pada Tuhan,” ujar Pastor Marselinus.

Lewat kesaksian hidup, Mgr Leo menunjukkan hal-hal praktis yang justru pada hal-hal ini terdapat kelemahan manusia. Kesaksian hidup bukan teori semata tetapi praksis hidup. Di Pesta Perak ini, banyak karya telah dibuat Mgr Leo. Karya terbesarnya adalah kesaksian hidup. Karya ini diakui telah menyelamatkan banyak orang dari kesesatan.

Mgr Leo Laba Ladjar OFM

Lahir : Bauraja, 4 November 1943
Tahbisan Imam : 29 Juni 1975
Diangkat Uskup Auksilier : 6 Desember 1993
Tahbisan Uskup : 10 April 1994
Motto Tahbisan : In Caritate et Humilitate Dei
Uskup Jayapura : 29 Agustus 1997

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Richie Steven A (Jayapura)

HIDUP NO.14 2019, 7 April 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here