Surat Cinta Umat untuk Imam: Selamat Ulang Tahun Pelayanku

133
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.COM– HARI Kamis Putih kadang disebut sebagai “Hari Ulang Tahun” para imam (Happy Priest’s day), karena pada hari raya ini ada dua kegiatan yang berhubungan dengan imamat para imam. Pertama, ada Misa Pembaharuan Janji Imamat. Kedua,  upacara pemberkatan Minyak Krisma. Pada perayaan ini, tidak saja imam, tetapi juga Uskup membaharui janjinya sebagai gembala di hadapan imam dan para uskup pembantunya (koajutor atau auxilier).

Hanya saja tahun ini, Misa Pembaharuan Janji Imamat tentu tidak berjalan semeriah tahun-tahun sebelumnya yang mengumpulkan imam dalam jumlah yang banyak. Tahun ini, altar Gereja akan kosong oleh para imam.

Hal ini karena, Gereja Katolik Indonesia mengikuti seruan pemerintah untuk meniadakan kegiatan-kegiatan menggereja yang mengumpulkan banyak orang untuk memutuskan mata rantai penyebaran covid-19.

Maka itu, tahun ini para imam akan merayakan Misa dalam “kesendirian” atau bersama para imam se-komunitasnya. Tak salah bila di hari ulang tahun mereka ini, ada banyak harapan dari umat Katolik Indonesia untuk mereka. Berikut beberapa petikan komentar sebagai surat cinta dari umat untuk para imam.

Matheus Lamere (Paroki St. Maria Fatima Sentul, Keuskupan Bogor). “Para imam terkadang berada dalam situasi sulit kadang-kadang disukai umat tetapi kadang-kadang dibenci umat. Tetapi satu hal yang pasti kehadiran para imam sangat membantu karya pelayanan, membantu umat menemukan iman yang sesungguhnya. Di hari spesial ini, doakan kami umatmu baik yang suka dengan kalian atau tidak.”

Reynold Sianipar (Paroki St. Maria Tanjung Selamat, Keuskupan Agung Medan). “Selamat ulang tahun para imamku. Sebagai umat kami yakin ada banyak beban yang harus Anda pikul. Ragam tantangan di dunia ini kiranya tak menyurutkan semangat kalian untuk melayani. Kiranya di hari ulang tahun ini, para imam tetap kuat menjadi pendoa, pengayom, dan penyelamat jiwa bagi kami umat-umatmu.”

Kornelis Waturu (Ketua Pemuda Katolik, Komcab Kep. Tanimbar, Keuskupan Amboina). Salib yang dipikul para imam sudah berat. Mereka harus berusaha dan berjuang menyelaraskan pikiran, kehendak dan perbuatan mereka. Hal ini tentu sangat sulit karena sebagai manusia lemah, mereka kerapkali jatuh dalam dosa. Maka itu, umat Katolik perlu mendoakan para imam agar mereka benar-benar kuat menghadapi tantangan zaman ini.”

Sr. Stanisla PMY (Paroki Hati St. Maria Tak Bercela, Kumetiran, Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang). “Di ulang tahun ini, para Imam tetap setia dalam imamat mereka. Tetap menjadi pribadi yang rendah hati dan membawa kasih bagi sesama. Bersama Yesus, pasti mampu menjadi gembala bagi kawanan domba yg dipercayakan kepada mereka. Doa pribadi kiranya menjadi kekuatan dalam berkarya.”

Bosco Setitit (Paroki St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci Modoinding, Keuskupan Manado). “Imamat seorang imam akan selalu melekat pada diri imam. Apapun pribadi seorang imam, ia adalah utusan Allah, terpanggil dan terpilih oleh Allah. Dengan imamat itu, Allah menjadikan dirinya ‘alter christus’ bagi umatnya. Karena itu, imam harus menjadi pelayan, pelindung bagi semua umat khususnya mereka yang kecil dan tak berdaya.”

Dominggu Geme (Paroki Asiki, Boven Digoel, Keuskupan Agung Merauke). “Berada di posisi imam itu serba salah. Banyak umat terlalu menuntut untuk imam harus sesuai kriteria mereka. Itulah alasan banyak imam mau mengikuti kemauan umat tanpa melayani sesuai harapan-Nya. Terima kasih karena cintamu kepada umat, Anda melupakan keinginan pribadi, kegemaran, dan sebagainya. Selamat membaharui janji imamat, imam-imamku.”

Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here