“SERVANT LEADERSHIP,” MASIHKAH RELEVAN DI ZAMAN DIGITAL?

136
A.M. Lilik Agung, Trainer bisnis, Kontributor, Mitra Pengelola GALERIHC, lembaga pengembangan SDM

HIDUPKATOLIK.COM – Dokter spesialis paru, dr. Handoko Gunawan yang bekerja di RS Graha Kedoya Jakarta, meraih Penghargaan Khusus Bidang Kesehatan di acara Indonesia Awards 2020 yang diselenggarakan oleh INews (MNC Group).  Penghargaan  berhasil diraih berkat dedikasinya menangani pasien covid-19, meskipun kini usianya telah mencapai 80 tahun.

Walaupun usianya sudah sepuh, namun dia tetap aktif bekerja menangani pasien yang terkena virus korona. Tak gentar merawat pasien covid-19. Dia terpaksa berada di barisan terdepan melawan virus korona karena banyak dokter muda yang takut. Anak-anaknya sempat melarang Dokter Handoko untuk  ikut menangani pasien terpapar virus korona. Namun demi pengabdiannya kepada orang banyak, dia rela mempertaruhkan nyawa. Dokter Handoko bahkan rela mati demi mengabdikan diri untuk masyarakat. (INews.id, 07 Oktober 2020).

Dokter Handoko merupakan contoh paripurna tentang kepemimpinan melayani. Ia melayani orang lain (pasien terpapar korona) dengan sepenuh-penuhnya, setulus-tulusnya. Pelayanan yang berasal dari hati paling dalam. Pekerjaan sebagai dokter dimaknai sebagai panggilan, bukan sekedar profesi yang oleh karena menjalani profesi tersebut ia mendapat upah. Gabungan antara hati dan panggilan ini yang menyebabkan Dokter Handoko pada usia sangat senior menjadi pelayan garda depan dalam merawat penderita korona.

Dalam konteks organisasi, tugas seorang pemimpin secara garis besar hanya dua; memformulasikan visi dan menterjemahkan menjadi aksi (implementasi). Antara visi dan implementasi ini kepemimpinan melayani menjadi penyambungnya. Bagaimana cara menjadi pemimpin pelayan? Saya memformulasikan ke dalam lima pilar yang disebut dengan KASIH. KASIH sendiri merupakan singkatan dari kepercayaan, apresiasi, sinergi, inisiatif, hasil.

Pilar kepemimpinan melayani yang pertama, kepercayaan. Tokoh seperti Mgr. Soegijopranoto, Maria Walanda Maramis,  Frans Seda dan Yap Thiam Hien selama hidup, mereka membangun kepercayaan tidak saja bagi konstituen namun juga untuk masyarakat luas. Kepercayaan dibangun dari tiga unsur, yaitu nilai, kompetensi dan respek. Nilai berhubungan dengan kebaikan-kebaikan universal, kearifan lokal dan budaya organisasi yang sudah menjelma dalam perilaku sehari-hari pemimpin. Kompetensi merupakan ketrampilan tehnis yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari. Seseorang bisa menuntaskan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya karena ia memiliki kompetensi dibidangnya. Respek adalah panggilan keilahian seseorang untuk membaktikan diri kepada orang lain. Respek pula yang menggerakkan pemimpin untuk memberi pelayanan kepada orang lain.

Pilar kedua kepemimpinan melayani adalah apresiasi. Ada buku menarik berjudul One Minutes Manager yang ditulis oleh Ken Blanchard dan Spencer Johnson. Buku best seller yang populer tahun 90’an ini menunjukkan relevansi tinggi justru pada saat era digital sekarang ini. Mengapa ada pemimpin yang luar biasa, namun ada juga pemimpin yang biasa-biasa saja? Kata Blanchard dan Johnson, para pemimpin luar biasa itu mempraktikkan yang disebut manajer satu menit. Inti dari manajer satu menit ini adalah pemimpin memberi apresiasi kepada anak buahnya selama satu menit, ketika anak buahnya menunjukkan kinerja tinggi.

Apresiasi satu menit itu ternyata memiliki makna besar bagi anak buahnya. Anak buah merasa diperhatikan, dimanusiakan dan dihargai pekerjaannya. Alhasil timbul motivasi baru bagi anak buah untuk tetap berkinerja prima.

Pilar ketiga berjejuluk sinergi. Salah satu frasa paling populer di jaman digital ini adalah sinergi. Atau sebutan yang lain kolaborasi. Menjadi penting bersinergi bagi pemimpin dan konstituennya karena sinergi akan memunculkan efisiensi, pekerjaan lintas fungsi dan kualitas kerja. Hanya untuk membangun sinergi yang solid diperlukan tiga prasyarat, yaitu (1) way of thinking (keterpaduan pola pikir). Yaitu satunya tujuan, samanya persepsi antara pemimpin dengan konstituennya.

(2) Way of feeling (keterpaduan pola emosi dan motivasi). Dibangun dengan cara perbanyak bergaul, dialog maupun curah pendapat antara pemimpin dan konstituen. (3) Way of action (keserasian pola tindak). Ujung dari sinergi adalah tindakan (aksi). Tindakan hanya bisa dilakukan bila sudah terjadi keterpaduan pikiran dan perasaan.

Pilar keempat kepemimpinan melayani yaitu inisiatif. Kisah Mooryati Soedibyo merupakan contoh bagus tentang inisiatif. “Sewaktu diterima di program doktoral UI, usianya saat itu sudah 75 tahun. Ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain; disiplin diri. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.” tulis Prof. Rhenald Kasali. Mooryati Soedibyo memperoleh gelar doktor empat tahun kemudian. Salah satu pengujinya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti.

Pilar inisiatif yang ditunjukkan oleh Mooryati Soedibyo menjelaskan bahwa menjadi pemimpin pelayan wajib untuk memperbaharui diri terus menerus. Artinya pemimpin terus belajar tiada henti. Sifat pemimpin pembelajar ini yang berpengaruh besar membentuk budaya pembelajar bagi organisasi. Semua warga organisasi memiliki semangat untuk belajar terus menerus. Belajar menjadi sistem bagi organisasi sehingga mampu menjawab tuntas dua pertanyaan refleksi ini. Bagaimana warga organisasi mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik? Bagaimana proses bisa lebih cepat dan tepat?

Pilar terakhir, kelima adalah hasil. Ujung dari kepemimpinan adalah hasil. Ukurannya adalah produktivitas. Alhasil ketika mempraktikkan kepemimpinan melayani maka produktivitas organisasi tersebut meningkat. Adalah almarhum Michael Ruslim yang menjadi CEO di Astra International selama periode 2005 – 2010. Dalam lima tahun menjadi pemimpin, produktivitas Michael Ruslim teruji. Jika tahun 2005 laba yang diperoleh Astra pada angka Rp 5,96 trilyun, maka di  2010 menjadi  Rp 24,36 trilyun.  Jumlah karyawan, di tahun 2005 ada 118.000 orang pada 2010 membengkak menjadi 145.154 orang.

Hasil yang ditunjukkan Michael Ruslim signifikan karena ia seorang pemimpin transenden, yaitu pemimpin yang menjaga keseimbangan antara manajemen, sekaligus pelayanan, tanggung jawab sosial, lingkungan hidup dan keadilan.

Itulah lima pilar untuk membangun kepemimpinan melayani. Sebagai penutup, saya mengambil kalimat bijak Robert Greenleaf, maestro kepemimpinan melayani, “Ujian sesungguhnya  bagi pemimpin melayani adalah: Apakah orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi jauh lebih bijaksana, bebas, mandiri, sehat dan  membuat mereka juga menjadi Pemimpin Pelayan?!”

A.M. Lilik Agung, Trainer bisnis, Kontributor, Mitra Pengelola GaleriHC, lembaga pengembangan SDM, Beralamat di [email protected]galerihc.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here