PANTANG TEH KEMASAN DOANG?! MASA SIH SESEDERHANA ITU…

286
Ita Sembiring, Kontributor, Pekerja Seni

HIDUPKATOLIK.COM – Simple is the best…!
Ungkapan paling akrab di telingaku.
Dan … sesungguhnya,
I’am a very simple woman,
With a complicated life

Aku jadi bahan tertawaan saat nongkrong bareng teman karena menolak disodori teh kemasan. Kejadian serupa bukan sekali saja, terus berulang  di tiap masa pertobatan, puasa dan berpantang seperti sekarang. Tolong bersabar ya…,  jangan tanya apa hubungan teh legendaris dengan pertobatan apalagi sampai mengambil kesimpulan, minum teh itu dosa. Oh No……! Tapi ya bisa dosa juga kalau ambil tehnya di warung dan kabur.

Yang membuat mereka tertawa, bahkan cenderung meremehkan sebetulnya karena alasan penolakan itu sedang menjalani puasa dengan berpantang teh kemasan. “Gampang amat puasanya Katolik, cuma enggak minum teh kemasan. Gua juga bisalah!” seru mereka ditingkahi ledakan tawa tentu saja.

Aku tidak tersinggung, apalagi coba menjelaskan panjang lebar makna puasa dan berpantang yang kujalani. Bukan malas berdebat, jujur saja karena pengetahuan soal ini pun dangkal-dangkal keruh dan belum tentu juga aku benar. Tetapi dalam batin sempat menghayal sedang menjelaskan pada semua, betapa tidak pahamnya mereka rasa tersiksa menahan sesuatu yang sangat digemari bahkan cenderung ‘kecanduan’ sebuah hal sesederhana apapun itu.

Sebotol teh kemasan jelas minuman simpel, tapi ternyata aku masuk kategori ‘pecandu’. Seturut pola hidup sehat, bangun tidur biasanya orang akan cari segelas air putih dulu. Sementara aku  teh  kemasan. ‘Keakraban’ dengan  minuman ini juga sudah membawa ragam kisah sepanjang perjalanan meniti kehidupan. Bahkan pernah mendapat hadiah uang tunai dari salah satu radio anak muda Jakarta saat mengadakan kuis kejadian unik terkait teh kemasan itu.

Kakakku punya restoran di wilayah Tebet, Jakarta Selatan. Salah satu minuman andalan tentulah teh legendaris itu. Hampir setiap hari aku mampir sekadar lewat atau sekalian bantu-bantu sambil  menikmati teh kemasan gratis berkali-kali. Suatu kali aku mampir, masuk lewat pintu samping langsung menuju dapur dan membuka kulkas. Tersisa satu, seperti biasa langsung masuk tenggorokan lalu menuju ruang depan. Kudapati kakakku sedang ngomelin karyawan,  yang baru saja disemprot tamu juga.

Apa pasal? Ternyata tamu pesan teh kemasan dingin karena sangat kehausan dan diiyakan pelayan sebab yakin di kulkas tersisa satu. Pelayan ditegor kenapa tidak lihat stok dulu. Pelayan berkeras yakin masih ada satu dan tak seorang pun tahu aku masuk dari samping sekaligus menenggak habis dalam sekali sedot. Kutahan tidak bercerita bahkan membiarkan  pelayan menanggung kesalahan yang tidak dia perbuat. Ada sekelebat rasa bersalah tapi belum merasa berdosa karena kupikir persoalan kecil. (Bagian ini tolong maafkan kerdilnya pemahamanku tentang dosa)!

Tibalah akhir bulan saat pemeriksaan keuangan sekaligus stok barang. Jelas terdapat ketidak seimbangan pemasukan dengan stok teh kemasan. Tapi kakakku tidak marah apalagi mencurigai pegawai, juga tidak berusaha menyelidiki kenapa tidak balans karena di setiap catatan kekurangan stok  ada keterangan ‘diminum Kak Ita’

Tak butuh konfirmasi melihat perilaku adiknya memang sudah berkali-kali terbukti. Entah kenapa, meski tidak diprotes kakak karena itu hal biasa, kali ini tidak begitu saja kumaklumi.  Iseng kuperiksa per tanggal di mana namaku tertera dan kucocokkan dengan jadwal perjalanan luar kota. Sebab kalau dari jadwal kedatangan ke restoran agak sulit karena terlalu sering juga acak. Benar saja, ada beberapa tanggal aku di luar kota, jadi mustahil hadir di restoran tetapi namaku tetap tertera sebagai keterangan tambahan. Dalam batin aku mengingatkan diri sendiri, inilah upah perbuatan terdahulu saat membiarkan pelayan diomelin. Ketidakjujuran berbalas ketidakjujuran demi cari selamat.

Sebegitu lekat aku dengan teh dalam kemasan, dan itu menjadi pilihan berpantang di Masa Puasa.  Di mata orang terlihat remeh, tapi bagiku semacam perjuangan saat berusaha  tidak meneguk setetes pun. Terbukti pilihan puasa sesederhana itu berhasil  buat menahan diri termasuk  mencoba mengendalikan segala keinginan. Mulai dari menahan, mengalihkan sampai melupakan sama sekali bila itu memang sekadar keinginan semata dan tak penting.

Menjalani  Masa Puasa dan Pantang 2021 ini justru bingung harus pilih apa, sebab setelah 2 kali masa Prapaskah berpantang hal serupa sudah membuatku tidak lagi kecanduan bahkan cenderung menghentikan sama sekali kebiasaan minum teh kemasan. Tidak bisa  lagi menjadi  media tantangan  menahan diri.

Pantang nongkrong apalagi dugem?

Sudah sejak Maret tahun 2020 , diawali pandemi, jangankan nongkrong, keluar rumah saja terbatas. Jadi tanpa berpantang pun sudah nurut.

Pantang daging?

Kebetulan bukan pemakan daging karena alasan ekonomis. Sedang masa sulit, daging mahal, sudah lama tidak makan daging. Bila diminta tidak mengonsumsi daging, sangat bisalah….!

Pantang apa aya…? Selama pandemi sudah banyak  hal yang teramat disukai tak pernah terlaksana  karena memang situasinya begitu.

Dalam sebuah perenungan, sekali lagi berusaha kumaknai puasa secara sederhana. Tidak sekadar berfokus soal pantangan, tapi lebih  mengoreksi diri sambil menghayati bahwa tidak semua apa yang diinginkan harus dilakukan. Sudah paham bersyukur, sekalipun pandemi, bila bijak menyikapi  justru situasi sulit begini jadi sangat membantu menjalani masa Prapaskah.

Rasanya kita semua sudah semakin banyak berdoa dan bersandar pada Tuhan agar terhindar dari setiap kemalangan dan secara spontan terlatih lebih peduli pada sesama juga lingkungan akibat mendengar sekaligus  menyaksikan betapa banyak  orang terkasih terenggut.

Persis seperti hakikat Masa Prapaskah ini: berdoa, beramal, dan berpuasa  demi mengasah kondisi batin dalam ketekunan doa dan kepedulian tadi. Jelas situasi kini sulit, namun di balik itu semua betapa telah dimudahkan pula segalanya. Tugas kita, tinggal menjalani saja dalam balutan kesederhanaan tanpa perdebatan.

Permisiiii… bukan sok mendefenisikan arti puasa
Sekadar memotivasi diri sendiri
Biar bisa lebih baik lagi
Sekalipun puasaku sederhana
 
Salam Cinta: Ita Sembiring, Kontributor, Pekerja Seni
 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here