Tiga Warisan Luhur Santa Angela Merici yang Menjadi Pilar Hidup Para Ursulin

30
Sr. Maria Dolorosa Sasmita, OSU

HIDUPKATOLIK.COM – DALAM Regula St. Angela Merici (Bab VIII ayat 14, 16) tentang Ketaatan, St. Angela menulis kepada para putrinya, “Di atas semuanya itu, Anda harus mentaati nasehat dan ilham yang disampaikan secara terus menerus ke dalam hati kita… karena Roh Kudus adalah Dia yang mengajarkan kita seluruh kebenaran.”

Sedangkan ayat 2 warisan terakhir St. Angela disebutkan, “Jika karena perubahan zaman dan dalam keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukanlah hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengarkan nasehat yang baik.”

Bagaimana dua kutipan di atas menyemangati para pengikut St. Angela yang kini sudah melayani selama 165 tahun di Indonesia? Berikut petikan wawancara dengan pimpinan Biara Ursulin Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Sr. Maria Dolorosa Sasmita, OSU. Berikut petikannya:

Apa makna kata-kata St. Angela di atas untuk para Ursulin

Kedua kutipan di atas telah demikian menyemangati para puteri atau pengikut St. Angela sehingga sekarang dalam Keluarga Besar Merici terdapat berbagai bentuk “Hidup Bakti atau Consecrated Life”. Pertama, adalah bentuk “Hidup Bakti” seperti Kompani Santa Ursula. Di Indonesia bentuk pertama ini juga ada dan di hayati oleh Ursulin Sekulir  yang berafiliasi dengan Kompani Santa Ursula di Brescia. Ada satu kelompok lain yang mulai di Indonesia dan menghayati Spiritualitas Angela yaitu Putri Santa Angela  (PSA). Kelompok ini lahir di Indonesia dan disahkan sebagai Kelompok Hidup Bakti oleh Bapak Uskup Bandung. Disamping bentuk Hidup Bakti yang pertama itu dalam Keluarga Besar Merici ada bentuk Hidup Bakti sebagai religius yang hidup dalam komunitas religius, baik yang otonom maupun yang bergabung dalam beberapa Uni seperti Uni Roma, Uni Canada, Uni Tildonk. Kedua, bentuk Hidup Bakti tersebut mempunyai cara hidup yang berbeda-beda sesuai dengan konstitusinya, tapi semuanya menghayati Spiritualitas St. Angela.

Para Ursulin di Provinsi di Indonesia yang dipimpin oleh Sr. Monika Lita Hasanah, OSU sebagai Provinsial masuk dalam Uni Roma Ordo Santa Ursula yang didirikan pada tgl 1 November 1900 dan yang sekarang dipimpin oleh Sr. Susan Flood, OSU sebagai Pemimpin Umum .

Menurut suster, siapa itu St. Angela Merici dan manakah spiritualitas yang menonjol ?

St. Angela memiliki cinta yang mendalam kepada Kristus. Ia seorang yang peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Ia seorang yang  dianugerahi pengertian yang mendalam tentang Alkitab, doa, pengorbanan, dan cinta kepada sesama. Santa Angela menghargai martabat manusia, perhatian kepada pemberdayaan kaum perempuan, rendah hati, bijaksana dan imannya teguh. Pandangannya tajam, realistis, dinamis dengan penuh kegembiraan. Seorang dengan  optimisme dan semangat yang berkorbar-kobar. Ia berani mengambil resiko dan memiliki kemampuan memimpin. Jadi spiritualitas St. Angela berpusat pada hubungannya yang intim dengan Yesus yang merupakan satu-satunya kehidupan, harapan bahkan Mempelai. Relasinya yang mendalam  dengan Yesus mendorongnya untuk mewartakan Kabar Baik kepada  semua orang dengan kata-kata dan kesaksian hidupnya.

Refleksi apa yang mau suster sampaikan terkait 165 tahun Ursulin?

Saat merayakan 160 tahun, dalam komunitas kami membacakan kronik dari biara Ursulin Juanda Jakarta yang ditulis dalam Bahasa Belanda lalu diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Dari kronik itu, kita menemukan bahwa di awal permulaan hidup para Ursulin, mereka hidup dalam semangat saling berbagi dan pengabdian total. Selain itu, tampak semangat doa.  Karena doa adalah  hal penting dari kehidupan Ursulin. Dalam Konstitusi Ursulin, doa mendapat tempat utama. Bukan saja doa bersama, tetapi juga doa pribadi yang kami lakukan dengan memilih sendiri waktu yang cocok.

Apakah doa bisa disebut menjadi pilar Ursulin?

Ada tiga pilar utama Ursulin. Pertama, sudah tentu kehidupan doa baik doa pribadi maupun doa bersama dalam komunitas. Kedua, hidup komunitas. Dalam kronik yang kami bacakan menjelang 165 tahun, selain hidup doa ada juga hidup komunitas. Meski karya-karya berbeda-beda ada yang di sekolah atau di tempat karya lain, tetapi para Ursulin hidup bersama dalam komunitas. Ada banyak kegiatan dalam hidup komunitas seperti makan bersama, rekreasi bersama, ada pertemuan, rekoleksi, dan retret. Ketiga, hidup karya. Pada tahun 1612 di Paris dan kemudian di beberapa tempat lain di Perancis beberapa biara Ursulin menjadi Ordo monastik tetapi yang tetap melakukan karya pendidikan di sekolah dan asrama.  Tetapi sekarang Ursulin Uni Roma Ordo Santa Ursula seperti yang terdapat di Indonesia bukan biara monastik. Namun doa tetap penting karena Ursulin adalah tarekat yang kontemplatif dan aktif.

Bagaimana memahami corak hidup kontemplatif dan aksi?

Bagi kami tiga pilar yaitu hidup doa, hidup komunitas, dan hidup karya tak bisa dipisahkan, artinya harus seimbang dan harmonis. Kita tidak bisa mengatakan hidup doa penting dan karya tidak. Bagi Ursulin bukan doa dan kerja (Ora et Labora), tapi doa dan karya saling meresapi dan tidak terpisahkan.  Memang butuh perjuangan untuk menyeimbangkan kehidupan doa, karya serta hidup  komunitas. Syukurlah bahwa selama ini kami mengalami bimbingan dan pencerahan Tuhan untuk tetap mengusahakan keseimbangan itu. Karya itu juga beragam: ada suster senior yang  tidak berkarya lagi disekolah tapi memiliki karya khusus sebagai pendoa bagi siapa saja, untuk dunia dengan ragam persoalannya. Suster muda pada umumnya diutus dalam berbagai karya kerasulan seperti pendidikan formal dan non formal.

Yusti H. Wuarmanuk

(HIDUP, Edisi No.09/28 Februari 2021)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here