DANIEL DHAKIDAE, “KOMPAS”, “PRISMA”, INTELEKTUAL YANG DISEGANI

116
Daniel Dhakidae (kiri) dan Jimly Asshiddiqie dalam satu kesempatan. (Foto: KOMPAS/Alif Ichwan)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – SUDAH banyak tulisan untuk mengenng Dr. Daniel Dhakidae, simbol seorang intelektual yang kritis dan jasanya bagi pengembangan ilmu sosial politik. Sosok seorang intelektual dan cendekiawan multidimensi, yang semasa hidupnya, tidak pernah kering jadi sumber inspirasi bagi upaya berpikir  kritis dan bernalar waras yang diawali dengan sikap curiga terhadap kekuasaan dalam upaya penghargaan kemartabatan manusia lewat media massa publik.

Ada untung dan ruginya menulis sosok alm. Daniel Dhakidae — dipanggil akrab DD–setelah lebih dari 40 hari dimakamkan. Tidak hanya mengais-ngais apa yang belum disampaikan ke publik, tetapi juga kisi-kisi dari rekam jejaknya sekaligus menawarkan cara kerja seorang pekerja ilmiah yang mengedepankan keseriusan dan penelitian. Dengan demikian tulisan ini tidak sekadar kenangan  masa lalu dan rasa terima kasih atas kehadirannya, tetapi juga upaya melanjutkan obsesi sikap intelektualnya yang kritis dan bernalar sehat.

Saya pernah bekerja sama dalam arti bekerja dibawah satu atap ketika DD sebagai Kepala Litbang Kompas tahun 1994 hingga dia pensiun tahun 2006. Litbang ada dibawah supervisi Wakil Pemimpin Umum (saya Wakil PU Kompas tahun 2001-2014), lembaga dibawah kepemimpinannya memperoleh kredibilitas dan disegani publik. Selain berjasa bagi perbaikan kinerja Kompas bidang redaksi dan bisnis, juga bagi unit-unit usaha lain di bawah Kompas Gramedia.

Senyampang itu DD adalah guru dalam berbagai liputan dan arahan redaksional. Dibawah DD, Litbang Kompas yang dirintis A.F. Dwiyanto, Parakitri, J. Widodo, berkembang menjadi institusi lembaga Litbang yang seharusnya dan nyaris ideal. DD mengembangkan Litbang Kompas sedemikian rupa sangat suportif bagi kegiatan jurnalisme presisi lewat penelitian-penelitian yang dilakukan, tidak hanya untuk redaksi tetapi juga bidang-bidang komplementer lain.

DD menjadi tempat bertanya. Berbagai sebutan yang disematkan padanya mengafirmasi dirinya adalah guru, intelektual, cendekiawan, ilmuwan, bapak yang baik bagi karyawan yang mengalami kesulitan, dan berbagai atribut lain. Taruh contoh. Ketika saya diminta PU Pak Jakob Oetama untuk memikirkan terbentuknya lembaga Ombudsman Kompas tahun 2000 —pertama kali dalam lingkungan media massa cetak di Indonesia— DD adalah narasumber utama. Ketika Pak Jakob Oetama meminta saya menyelenggarakan penghargaan Cendekiawan Berdedikasi  tahun 2008 —awalnya sebagai ucapan terima kasih bagi para kontributor Kompas— narasumber utama adalah DD.

Rekam jejaknya di Kompas, utamanya di lembaga Litbang merupakan kelanjutan rekam jejaknya di Prisma. Sebab setelah lulus sarjana dari Universitas Gadjah Mada dan sebelum studi lanjut di Cornell University, Ithaca, DD bekerja di jurnal yang prestisius itu mulai sebagai Kepala Dewan Redaksi bersama  sejumlah teman di antaranya Ismid Hadat, Aswab Mahasin, Ariel Heryanto, Azyumardi Asra, Ignas Kleden.

Terbit dwibulanan pertama kali tahun 1971, kemudian tiga bulan sekali, berhenti tahun 1998 —bukan karena dibredel tapi terkena dampak resesi –bertahun-tahun jurnal ilmu sosial ekonomi ini disegani dan mendapatkan pengakuan publik. Dalam salah satu nomor master piecenya yang terbit tahun 2013 — setelah terbit kembali tahun 2009 — Prisma tampil dengan topik “Soekarno, Ende, Pancasila”. DD sebagai PU/Pemred Prisma setelah purnakarya dari Kompas tahun 2006, ada di belakang pemilihan topik ini. “Untuk salah satu artikel yang saya tulis di dalamnya, saya melakukan penelitian hampir enam bulan,” ungkap DD mengesankan seriusnya topik.

Menurut Bung Hatta, di Ende Bung Karno mengalami pemulihan, dari seorang yang “secara politik mati” menjadi seorang ideolog. Di Ende selama tahun 1934-1938, Bung Karno memulai hidup sebagai bapak keluarga tanpa kegiatan politik, membentuk jati dirinya sebagai intelektual ahli Islam, yang sebelumnya melihat Islam dari luar. Di Ende, Bung Karno mengembangkan diri sebagai ideolog politik lewat diskusi rutin setiap hari dan permainan tonil dalam kelompok Kelimoetoe Toneel Club yang dibentuknya, demikian DD (Kompas, 28 Juni 2013).

Di Ende itu Bung Karno kemudian dikenal sebagai ideolog negara (the state ideologist). Lewat diskusi rutin setiap hari dengan para pastor —rata-rata umur 30-an (ditamsilkan sebagai “di bawah pohon sukun”), pementasan tonil dan permenungan mendalam, Bung Karno memperoleh pencerahan yang melahirkan Pancasila. Tujuh tahun kemudian, saat pidato di depan sidang BPUPKI di Jakarta tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno pertama kali menyampaikannya secara publik. Lahirlah Pancasila.

Dahsyat! Seruan yang tepat dari sumbangan DD di dunia ilmu sosial politik. Litbang Kompas dan Prisma menjadi tempat berlabuh DD berayun-ayun dalam pengembaraan intelektualnya; dua lembaga yang dia besarkan dan sekaligus membesarkannya. Daniel Dhakidae adalah Litbang Kompas dan Jurnal Prisma, Litbang Kompas dan Jurnal Prisma adalah Daniel Dhakidae. DD mengembara dari seorang calon pastor diosesan, kuliah di STFK Ledalero dan Seminari Tinggi Ritapiret di Maumere, mundur dan menjadi seorang intelektual yang disegani dengan kedalaman analisis dan sikap kritisnya.

                                                                                                                             St. Sularto, Kontributor, Wartawan Senior

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here