Kisah Menarik Tentang Romo Jhon Prior, SVD

144
Romo Jhon Prior, SVD/Dok. ist
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Lelaki yang berwajah ramah itu keluar dari rumah. Ia membawa sebuah ember dengan pakaian di dalamnya. Gratis baru selesai mencuci sendiri pakaiannya. Ia mencari tempat penjemuran.

Tak lama sebelum itu, masuk kembali ke rumah. Dan ketika memandang tamu-tamu di rumahnya, ia tersenyum-senyum. Tamu-tamunya juga tersenyum. Dengan suara pasti, ia menyalami mereka. Lantas percakapan singkat yang sudah terjadi di Pusat Penelitian Agak dan Kebudayaan, Candraditya. Udara kota Maumere yang panas itu menambah ‘panas’ percakapan. Tak ada diskusi yang berat. Percakapan yang santai dalam situasi menantikan pentahbisan Uskup Maumere.

Pater Dr. John Prior, SVD (seperti biasa kalau bertemu) turut memantik percakapan. Dan yang selalu pasti adalah tentang karya misi. Tempat tugas. Dan nanti kalau sudah dijawab, dilanjutkan dengan misalnya, bagaimana orang di … dst. Bergudang pertanyaannya dan setiap jawaban akan selalu didengarnya dengan teliti dalam hening. Ia tidak akan pernah menyelahkan selama ada keterangan dan penjelasan yang perlu. Tapi, ia tidak akan diam kalau ada hal yang tidak jelas. Serius tapi relaks.

P.John adalah salah satu pembicara dalam pertemuan SVD global via zoom online yang diprakarsai oleh Kantor Pusat SVD di Roma, menjawab tantangan pandemi Covid-19. Tema yang ditujukannya adalah Menjangkau Orang-orang Miskin dan Hak-hak Mereka. Bahan presentasi yang didiskusikan sudah dikirim sebelumnya kepada semua peserta untuk dibaca dan sudah tentu jadi bahan dalam diskusi online itu. Penulis mengambil secuil dari naskah itu dalam tulisan ini.

Tibalah John mempresentasikan papernya. Hanya sekitar 15-20 menit diberikan atau malah kurang. Kemudian dibuka sesi tanya jawab dari kertas kerja yang sudah disampaikan, termasuk dari John. Tidak ada yang bertanya seputar papernya. Para bekas murid-muridnya yang sedang bekerja dan berkelana di mana-mana sebagai misionaris dari Serikat Sabda Allah di lima benua, juga tidak. Mungkin mereka sudah mengenal “Moat Gete” ini dengan baik, yang selalu menyajikan materi menarik sekaligus menantang dan penting dibawa dalam refleksi. Ini tidak berarti bahwa John tidak ingin berdiskusi. Mustahil tidak ada percakapan dengan John jika bertemu! Mantan Pastor dari kampung Wolofeo ini selalu menantang dan bikin panas, bahkan bisa sampai panas sekali tapi itu artinya, semua yang dibuat panas memiliki sesuatu dalam dirinya.

Dengan kata lain, ia menguatkan orang lain, teman bicara melalui dan dalam dialog. Jadi, kalau orang bicara, saya akan petik buahnya dan kembalikan buah yang dihasilkan sendiri kepada pemiliknya.

Metode dialognya beragam sekali. Tak ada yang tunggal. Atau dialog untuk dialog saja. Dialog lebih luas dari pertukaran verbal. Bagi John, dialog untuk mencapai praksis dan tindakan nyata. Bukan asal omong. Maka, John amat peduli dan terlibat dengan orang kecil dan tersingkirkan.

Dari perhatian inilah ia mengupas dan menganalisis secara kritis dan tajam dalam mengajarkan refleksi teologis yang, kontekstual, tepat sasar, dan manusiawi. Dalam papernya Prof. dari Ledalero itu menyajikan salah satu tugas pelayanannya sebagai kapelan di penjara, selain kapelan bagi para penyintas HIV dan pengidap virus yang mematikan itu.

John menjelaskan dan berbicara singkat, jelas dan padat. Dalam papernya itu, ia menulis: “Dalam Ekaristi Mingguan dan Sharing Bible hari Selasa kami, para narapidana mendapatkan keberanian untuk membuka topeng mereka, belajar untuk tidak mencari alasan, menemukan bagaimana menghadapi diri mereka sendiri dengan jujur, dan menerima diri mereka apa adanya.”

Nah, jika orang-orang tersebut dapat menemukan proses dan transformasi, maka orang-orang di luar menemukan juga atau malah menemukan penemuan transformasi itu. masyarakat di luar penjara lebih bebas, tanpa takut berdalih. Dapat dikatakan dengan cara lain. Jika penjara masuk penjara atas alasan hukum, mengapa justru masyarakat di luar penjara bisa membiarkan perdagangan manusia jalan lancar, larangan masuk kantong koruptor dan kantong rakyat yang dibantu, para korban stigmatisasi PKI yang terus menerus dibully secara arogan, arogansi atas minoritas , dan sebaran hoax, black campaign, dst.

Jadi, John tidak berteologi sosial saja. Ia berteologi untuk bertransformasi. tujuan pengajaran teologi adalah untuk transformasi. Yang satu tetap menjadi subjek akal. Ia tetap menjadi subjek dari keahliannya dan membawakan orang lain menjadi subjek bagi dirinya.

Mari kita lihat satu lagi sebagai berikut. John amat sangat melihat dan akan terus melihat dengan jelas, guncangan-guncangan maut yang mencakar. Membaca John, saya berkesan dan setuju bahwa teologi harus transformatif. Sebab, tanpa daya itu: “…Teologi seperti itu terdiri dari rumusan-rumusan baku yang diturunkan dari atas untuk menata serta menertibkan Gereja. Pengertian ini mewartakan sebuah allah yang membosankan, dan allah yang membosankan mengantar orang untuk sikap apatis-tak peduli yang sering dalam hati seseorang yang kerdil lagi takut.” (Ledalero 2009)

Teolog Hans Urs von Balthasar mengatakan, jika seseorang berdoa baik, ia akan peduli dengan orang miskin. intinya, tanpa kesadaran (kritis) menuju transformasi, kita akan jalan di tempat dan lengket dengan status quo, apatis-tak peduli dalam bahasa John. Ironisnya, transformasi bisa terjadi di penjara. Orang di penjara bisa berubah jadi baik. Orang ‘bersih’ di luar penjara harus luar biasa!

Transformasi dengan begitu membuktikan adalah hidup. Tidak hanya sebuah proses dan budaya.

Mengikuti John, akan sangat menarik diperhatikan ketika transformasi terjadi dalam misa dan berbagi Kitab Suci. Kita tidak tahu bagaimana perubahan itu terjadi dalam diri seorang napi, seperti ketika roti berubah jadi Tubuh Kristus dan anggur jadi Darah Kristus. Jadi, Kristus sendiri yang mengubah seorang tahanan! Atau dalam berbagi Kitab Suci. Siapa yang membisikkan para napi tentang Sabda yang telah menjadi daging. Maka, semua manusia sama di hadapan Allah.

“Jadi, dengan kejujuran yang meningkat, mereka bersiap untuk menghadapi dunia sekali lagi ketika mereka akhirnya dibebaskan.” Sambungannya di artikel itu. (penulis: Dengan kejujuran yang bertambah, mereka siap untuk hidup lagi di dunia di luar penjara sekali lagi ketika mereka dibebaskan).

Kita belajar dari John bahwa tranformasi menguatkan dan membawa arah hidup. Ia melewati jalan-jalan terjal, bahkan perlawanan sekalipun, tapi tidak lenyap. Ia rapuh tapi bebas.

Tepat bahwa John mengajak kita untuk tidak jalan jauh-jauh. Kita mencari Allah di dalam dan dari dalam. Transformasi berawal dari bathin yang bebas menerima ilham Ilahi, menuju pertobatan sebagaimana disuarakan Yohanes Pembaptis. Santu Agung Paus Yohanes Paulus II mengatakan, yang paling menggembirakan dalam karya misioner adalah konversi atau pertobatan.

Pertobatan bukan jalan balik haluan, apalagi nostalgia. Menurut John, “Transformasi menyangkut bentuk dari apa yang hakiki: budi dan jiwa.” Ia adalah jalan untuk menemukan. Seperti jalan dari Wolofeo menuju segala arah. Selamat Jalan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here