HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 02 Agustus 2026. Hari Minggu Biasa XVIII. Yes.55:1-3; Mzm.145:8-9, 15-16, 17-18; Rm.8:35, 37-39; Mat.14:13-21
“LIMA roti itu tidak dilipatgandakan di ladang, melainkan di tangan para murid. Begitu pula dengan tindakan belas kasihmu yang sederhana: ketika engkau memberi dari kekuranganmu, Kristus menyentuhnya, dan apa yang tadinya hampir tidak cukup untuk satu orang, menjadi perjamuan besar bagi ribuan orang.”
Perkataan Santo Hilarius dari Poitiers dalam karyanya In Evangelium Matthaei Commentarius, mengingatkan akan salah mukjizat Yesus yang sangat dikenal di hampir seluruh komunitas Kristiani pada abad pertama, sampai-sampai keempat Injil mencatatnya. Mengapa kisah mukjizat ini sangat viral di pada zaman itu, tentunya, karena di balik kisah yang sederhana ada inspirasi rohani yang kiranya mampu menguatkan iman orang Kristiani saat itu, yaitu tentang belas kasih Allah di tengah keterbatasan.
Sebelum Allah memperlihatkan belas kasih-Nya dalam kisah mukjizat Yesus, yaitu penggandaan roti (Mat.14:13-21), nabi Yesaya dalam nubuatnya kepada kaum buangan Yahudi di Babel (55:1-3), juga mengingatkan tentang belas kasih-Nya kepada mereka yang sudah lelah dengan penderitaan baik secara ekonomi maupun rohani. Secara ekonomi, sebagai imigran di tanah asing, mayoritas kaum buangan harus berjuang mati-matian dengan penghasilan yang tidak seberapa dan hanya untuk bisa bertahan hidup ala kadarnya.
Kemudian, secara rohani, mereka juga mengalami ‘kelaparan dan kehausan’ rohani, yaitu frustasi dan keputusasaan karena telah kehilangan tanah air, Bait Allah, dan identitas mereka sebagai orang merdeka. Di momen krusial ini, Yesaya membangkitkan harapan mereka dengan mengingatkan kembali akan belas kasih Allah, yang selalu mengajak untuk kembali kepada-Nya, sumber segala kelimpahan hidup.
Allah sebagai sumber harapan dan kelimpahan, juga tampak dalam diri Yesus saat berhadapan dengan ribuan orang yang membutuhkan makanan jasmani sekaligus rohani. Seperti diceritakan dalam Injil Matius, Yesus sebenarnya masih berduka setelah mendengar kabar menyedihkan: Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya oleh raja Herodes Antipas. Dia ingin menyendiri.
Namun, pada saat yang sama, banyak orang mencari-Nya untuk memperoleh pengajaran yang memberi harapan dan mendapatkan kesembuhan dari-Nya. “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka”. Inilah reaksi alamiah Yesus yang muncul ketika melihat “kelaparan dan kehausan” jasmani dan rohani mereka.
Ketika berada di tempat yang terpencil, Yesus menolak usulan para murid agar orang banyak itu mencari sendiri makanan di desa-desa sekitarnya. Sebaliknya, Dia meminta agar para murid sendirilah yang harus memberi mereka makan. Dengan nada agak keberatan, para murid memperlihatkan, bahwa dalam perbekalannya, para murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan – porsi untuk maksimal 10 orang.
Tanpa mempersoalkan keterbatasan itu, dengan kuasa ilahi dari surga, Yesus selanjutnya melipatgandakan roti dan ikan yang sangat sedikit itu untuk memberi makan lebih dari lima ribu orang, bahkan sampai tersisa dua belas bakul penuh. Bagaimana proses terjadinya mukjizat itu, Injil tidak mengatakannya. Dan sebenarnya kita juga tidak harus menyelidiki campur tangan ilahi itu secara lebih jauh. Mengetahui bahwa Allah sanggup mengenyangkan dan memuaskan orang yang menderita, itu sudah cukup untuk membangkitkan harapan dan semangat hidup.
Sabda Tuhan dalam nubuat Yesaya dan kisah mukjizat dalam Injil Matius mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah menutup mata terhadap penderitaan umat-Nya yang menaruh harapan kepada-Nya. Kebutuhan terdalam manusia, baik jasmani maupun rohani, pada akhirnya akan dipuaskan secara berlimpah oleh Allah.
Seperti para murid Yesus dahulu yang menjadi instrumen ilahi untuk meneruskan belas kasih-Nya kepada mereka yang membutuhkan, kita sebagai para murid Kristus sekarang ini, juga dipanggil untuk menjadi instrumen ilahi untuk menyalurkan kelimpahan dari Allah kepada mereka yang menderita.
Pada akhirnya, kita sadar bahwa kekurangan dan keterbatasan kita bukanlah penghalang untuk memberi kesaksian akan Allah yang memberikan kelimpahan dalam hidup, seperti kata St. Yohanes Krisostomus dalam Homiliae in Matthaeum “Kemiskinan manusiawi tidak membatasi pemberian ilahi, karena semakin sedikit apa yang ada pada awalnya, semakin mengagumkan pulalah kuasa Sang Pemberi itu bersinar”.
Kebutuhan terdalam manusia, baik jasmani maupun rohani, pada akhirnya akan dipuaskan secara berlimpah oleh Allah.




