spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Antara Jati Diri Manusia, Dosa, dan Keselamatan

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Kisah penciptaan, Adam dan Hawa, Taman Eden, serta Kain dan Habel
merupakan kisah-kisah Kitab Suci yang akrab bagi kita semua. Lantaran sudah
sangat dikenal, kisah-kisah tersebut acap kali dianggap sudah diketahui seluruh
maknanya. Dalam buku Imago Dei ini, penulis dengan tafsir ilmiah yang tajam
menantang pembaca untuk berani membongkar asumsi dan cara baca yang
lama.
Buku Imago Dei disajikan untuk mengajak pembaca kembali memasuki
Kejadian 1–4 dengan sikap ingin tahu dan terbuka. Teksnya amat fundamental,
berisikan tema-tema dasar seperti arti hidup dan martabat manusia, arti
penciptaan, hubungan laki-laki dan perempuan, makna keluarga, kerja,
kekerasan, dosa, kuasa, dan terutama gambar Allah yang kaya akan kasih yang
sejak awal mula menjalin relasi dialogal dengan manusia.
Pembahasannya berangkat dari pertanyaan-pertanyaan mendasar: “Benarkah
Allah menciptakan dunia dari ketiadaan? Apakah Adam benar-benar tokoh
historis? Di manakah Firdaus itu? Apakah kisah Taman Eden sungguh terjadi
sebagaimana diceritakan? Dari mana datangnya kejahatan dan penderitaan? Apa
arti dosa asal? Mengapa manusia hidup berpasangan? Benarkah perempuan
merupakan sumber dosa?”
Bukan Laporan Ilmiah
Salah satu gagasan penting buku ini adalah penegasan bahwa Kejadian 1–4
tidak dimaksudkan sebagai laporan historis atau kronologis mengenai
bagaimana alam semesta dan manusia pertama kali muncul. Kisah tersebut
menggunakan bahasa dan cara berpikir masyarakat kuno. Karena itu, teks harus
dibaca sesuai dengan jenis sastra, konteks, dan tujuan penulisannya.
Penulis secara tegas membedakan antara “mitos” dan “bahasa mitos”. Kejadian
1–11 bukanlah legenda dalam arti dongeng atau cerita yang tidak memiliki nilai
kebenaran, melainkan menggunakan bahasa mitos untuk menyampaikan
kebenaran yang lebih mendalam tentang Allah, manusia, dunia, kejahatan, dan
kehidupan. Dalam perspektif tersebut, persoalan terpenting bukanlah apakah
setiap detail cerita dapat dibuktikan secara historis, melainkan kebenaran-
kebenaran apa yang hendak disampaikan melalui cerita itu.
Buku ini menunjukkan bahwa pengarang Kejadian tidak bermaksud
memberikan uraian ilmiah tentang proses terbentuknya alam semesta,
melainkan memberikan kesaksian iman bahwa dunia dan manusia berasal dari

Allah. Dengan demikian, pembaca diajak meninggalkan cara membaca yang
semata-mata harfiah.
Bab I: Karya Penciptaan Allah
Bab pertama buku membahas penciptaan dunia dan manusia berdasarkan
Kejadian 1:1–2:3. Kisah ini dipahami sebagai sebuah madah atau nyanyian
penciptaan yang memiliki susunan yang indah dan simetris berkat adanya
refrein-refrein yang beraturan. Pemakaian bentuk madah mengundang pembaca
mengunyah ayat-ayat ini dengan sikap kontemplatif.
Salah satu penekanan menarik adalah pemahaman tentang karya Allah sebagai
pengendalian chaos awali. Ini dilakukan dengan tidak menghancurkan chaos itu,
melainkan dengan memisahkannya serta menempatkannya pada tempat dan
waktu yang tepat. Karya penciptaan sangat harmonis, sempurna, lengkap, dan
baik.
Keadaan awal digambarkan sebagai kekacau-balauan, kegelapan, dan samudera
semesta sebagai simbol kejahatan paling dahsyat. Karya Allah kemudian
menghadirkan batas, keteraturan, ruang, dan kehidupan. Tiga hari pertama
berfokus pada pembentukan ruang, sedangkan tiga hari berikutnya mengisi
ruang tersebut dengan ciptaan. Semua itu mencapai puncaknya pada hari
ketujuh, ketika Allah beristirahat dan memberkati Sabat.
Tema penting lainnya adalah martabat manusia sebagai Imago Dei, gambar
Allah. Manusia bukan sekadar salah satu makhluk di antara ciptaan lainnya.
Manusia, puncak karya penciptaan Allah, adalah satu-satunya ciptaan yang
diciptakan menurut gambar Allah. Manusia dipanggil untuk mencerminkan
Allah melalui kemampuan kreatif, relasional, dan tanggung jawabnya terhadap
ciptaan. Memiliki martabat sebagai citra Allah mengandaikan relasi yang dekat
dengan Allah, seperti manusia dan gambarnya di cermin, atau seperti bapa dan
anak. Manusia menghadirkan Allah di dunia ini bukan karena sifat dan
keunggulannya dibandingkan dengan ciptaan lain, melainkan kedekatannya
dengan Allah.
Relasi antara laki-laki dan perempuan tidak dipahami sebagai hubungan antara
pihak yang lebih tinggi dan lebih rendah, melainkan setara. Relasinya bersifat
kreatif. Perbedaan gender ini dimaksudkan untuk saling mengisi dan
melengkapi agar manusia menjadi kian kreatif. Ketika keduanya berada dalam
relasi yang harmonis, dalam kesatuan, mereka kian mendekati gambar Sang
Pencipta.

Baca Juga:  Harmoni Budaya dan Iman: 152 Umat Paroki Pamulang Terima Sakramen Penguatan dari Uskup Agung Jakarta

Bab II: Manusia dan Kompleksitas Dosa
Bab kedua -bab terpanjang dengan 162 halaman- membahas tema manusia dan
dosa (Kej. 2:4 – 3:24). Tema ini dijabarkan ke sub-sub bab : Manusia dan
Taman Eden, Penciptaan Perempuan, Manusia jatuh ke dalam Dosa, Akibat
Dosa, dan persoalan Dosa Asal. Kejadian 2:4 – 3:24 dipahami sebagai satu
kesatuan yang terutama berbicara mengenai manusia dan munculnya kejahatan
dalam kehidupan manusia.
Salah satu gagasan yang menonjol adalah bahwa dosa bukan sekadar
pelanggaran terhadap sebuah aturan, tetapi berhubungan erat dengan cara
manusia menggunakan kebebasan. Ular hanya menggoda; manusia sendiri yang
mengambil keputusan untuk berdosa. Karena itu, manusia harus bertanggung
jawab atas pilihan yang dibuat dengan segala akibatnya.
Menarik pula bahwa buku ini tidak berhenti pada kisah kejatuhan manusia ke
dalam dosa. Tindakan Allah tidak berhenti pada mengganjar dosa. Hukuman-
Nya tidak semata-mata dipahami sebagai penghancuran manusia tetapi pada
janji keselamatan. Dalam situasi buruk, Allah tetap menjanjikan kemenangan.
Bahkan setelah berdosa pun, manusia tetap mendapatkan belaskasih Allah.
“Keserakahan dan keinginan menjadi sama dengan Allah membuat manusia
kehilangan hidup abadi dan diusir dari taman Eden. Pengusiran ini
menunjukkan belaskasih Allah yang tidak berkesudahan. Jika tidak diusir dari
taman Eden, manusia akan mengambil buah pohon kehidupan dan itu berarti
akan berkubang dalam dosa dan kutuk…. Meski diusir dari taman Eden, taman
itu tidak tertutup sama sekali bagi manusia. Begitu pula pohon kehidupan.
Dengan cara menempuh jalan yang benar dan memenuhi persyaratannya,
manusia bisa saja kembali memasuki taman eden dan memperoleh pohon
kehidupan” (hlm. 228-229).
Dalam refleksi teologisnya, penulis menunjukkan jalan meraih buah pohon
kehidupan. Kegagalan manusia mengatasi keserakahan mendatangkan maut
yang digambarkan dengan tidak diperkenankannya manusia mengambil buah
pohon kehidupan. Sebagaimana dinubuatkan Yohanes (Why. 22:2), pohon
kehidupan itu tidak dimusnahkan. Allah menjamin buah pohon itu bisa diraih
melalui jalan yang benar yakni Yesus Kristus. Kesiapsediaan menderita dan
mati seperti Kristus menjadi syarat utama meraih pohon kehidupan. Mati dari
keserakahan. Mati terhadap keinginan untuk memiliki semuanya. Menurut
penulis, selain kesiapsediaan untuk mati ini, obat penawar racun keserakahan
lainnya adalah sikap tahu bersyukur dan kesiapsediaan untuk berbagi.
Sedangkan penangkal berhala keserakahan adalah iman yang benar.

Baca Juga:  Empat Imam Merayakan Empat Puluh Tahun Tahbisan Imamat: Rahmat yang Terus Menyala

Dosa asal dibahas tersendiri secara kritis. Penulis tak hanya menguraikan
doktrin dosa asal dalam Tradisi: pemikiran Santo Agustinus, Luther dan Konsili
Trente. Namun juga penolakan terhadap doktrin dosa asal, bagaimana
memahami dosa asal, konsep peccatum originale dan peccatum radicale serta
pembebasan dari “dosa” asal. Seluruh uraian ini membantu pembaca memahami
persoalan dosa asal secara lebih mendalam.
Bab III: Ketidakmampuan Menerima Perbedaan
Bab ketiga menghadirkan kisah Kain dan Habel sebagai perkembangan lebih
lanjut dari persoalan dosa. Jika dalam Kejadian 3 manusia mengalami keretakan
relasi dengan Allah, dalam Kejadian 4 keretakan itu berkembang menjadi
kekerasan terhadap sesama.
Penulis menawarkan pembacaan yang menarik: persoalan Kain bukan semata-
mata mengenai persembahan yang diterima atau ditolak Allah, melainkan
tentang ketidakmampuan manusia menerima perbedaan. Daftar isi bahkan
menempatkan tema “Bukan Soal Persembahan tapi Soal Menerima Perbedaan”
sebagai bagian penting bab tersebut.
Dosa Kain dipahami sebagai kelanjutan dan perkembangan dosa manusia. Ada
kesejajaran yang kuat antara Kejadian 3 dan Kejadian 4: manusia jatuh dalam
pencobaan, melakukan kesalahan, kemudian berhadapan dengan pertanyaan
Allah dan cenderung menghindari tanggung jawab.
Dari sini penulis membawa pembaca pada persoalan aktual: kekerasan,
ketidakadilan, kecemburuan, dan penolakan terhadap orang lain. Pertanyaan
Allah kepada Kain, “Di mana Habel, adikmu itu?”, menjadi pertanyaan bagi
manusia zaman sekarang: sejauh mana kita bertanggung jawab terhadap sesama.
Belas kasih Allah terhadap Kain setelah ia melakukan pembunuhan menjadi
dasar refleksi mengenai pengampunan dan hukuman mati.
Bab IV: Dari Sejarah Dosa Menuju Sejarah Keselamatan
Bab terakhir menutup pembahasan dengan tema “Dosa dan Keselamatan”.
Kejahatan memang digambarkan semakin berkembang dalam keturunan Kain,
tetapi Kejadian 1–4 tidak boleh dibaca hanya sebagai sejarah dosa. Buku ini
menegaskan bahwa keseluruhan kisah tersebut merupakan sejarah keselamatan.
Di tengah perkembangan dosa, Allah selalu memberi harapan dan jalan keluar.
Buku Imago Dei tidak membiarkan pembaca berhenti pada persoalan dosa,
kejahatan, penderitaan, kekerasan, dan kegagalan manusia. Di balik semuanya
itu tetap ada karya Allah yang menyelamatkan. Pembacaan Kejadian 1–4

Baca Juga:  Sejarah Baru Tarekat Delegasi Misioner Oblat Santo Fransiskus Saverius (SOSFS

bergerak dari penciptaan menuju kerusakan dan kejahatan, tetapi akhirnya
kembali kepada harapan keselamatan.
Buku Berharga
Buku yang ditulis “anggota Tim Inti Pembaruan Alkitab TB2” ini memiliki
beberapa kelebihan. Yang utama adalah kemampuan penulis menggabungkan
kajian biblis ilmiah, konteks budaya kuno, refleksi teologis, dan relevansinya
bagi kehidupan sekarang.
Refleksi teologis pada akhir setiap pembahasan sangat membantu bukan hanya
untuk renungan pribadi, tetapi juga untuk sharing dan diskusi kelompok.
Dengan demikian, buku ini dapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk
pendalaman Kitab Suci, pendalaman iman, juga perkuliahan atau kursus-kursus.
Kelebihan lainnya adalah pembahasan kritisnya terkait persoalan-persoalan
yang sering dianggap sudah “selesai”, seperti historisitas Adam, bahasa mitos,
dosa asal, relasi laki-laki dan perempuan, serta sumber kekerasan.
Imago Dei adalah buku yang menantang pembacanya untuk memahami diri
sendiri saat ini. Buku ini menawarkan perubahan mendasar dalam cara
bertanya: bukan hanya “apa yang terjadi?”, tetapi “apa arti dari apa yang terjadi
itu bagiku?”. Adam, Hawa, Kain, dan Habel akhirnya tidak hanya dipandang
sebagai tokoh masa lampau, tetapi sebagai cermin yang membantu pembaca
mengenali dirinya sendiri. Pembaca diajak tidak hanya bertanya, “Siapakah
Adam?”, “Benarkah perempuan diciptakan sebagai ‘penolong’, bahkan sumber
dosa?”, “Benarkah persembahan Kain lebih buruk daripada persembahan
Habel?”, “Mengapa Kain membunuh Habel?”, tetapi juga diarahkan kepada
pertanyaan yang lebih personal dan eksistensial: “Apa arti Adam bagi saya?
Apa arti dari ‘apa yang terjadi itu’ bagi saya? Apa cikal bakal sejarah kita dan
rencana keselamatan Allah bagi kita yang kita temukan dalam tokoh-tokoh
Kejadian 1- 4?”
Imago Dei setebal 337 halaman merupakan buku yang berharga bagi siapa saja
yang hendak memahami Kejadian 1–4 secara lebih kritis, mendalam, dan
relevan. Penulisnya menegaskan bahwa akar semua dosa dan kejahatan manusia
adalah keserakahan dan ketidakmampuan manusia mensyukuri anugerah Tuhan.
Penulis berhasil menguraikan bahwa kisah penciptaan, Adam dan Hawa, serta
Kain dan Habel bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan kisah tentang
manusia yang selalu aktual sepanjang zaman. Sebagai bagian dari “Sejarah
Awali” (Kejadian 1–11), alih-alih berbicara tentang dosa dan kejahatan belaka,
Kejadian 1-4 sesungguhnya adalah kisah sejarah keselamatan. Setiap kali
manusia dan dunia berada di ambang kehancuran, Allah senantiasa memberikan

jalan keselamatan. Betapapun lemah dan jahatnya manusia, rencana
keselamaan Allah tidak bisa dibatalkan oleh apa pun. Termasuk oleh dosa
manusia. Senantiasa ada harapan akan hidup dalam relasi yang lebih baik
dengan Allah, sesama, dan ciptaan lainnya.

Johanes Chrysostomus Wardjoko (Kontributor, Malang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles