Seminari Menengah St. Paulus Palembang: Agar Kian Dikenal dan Dicintai

106
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Per Aspera ad Astra (Melalui jerih payah mencapai bintang), itulah tema perayaan Yubileum 75 Tahun Seminari Menengah St. Paulus Palembang.

MOTO ini dapat melukiskan dinamika perjalanan, pergumulan dan perjuangan Seminari Menengah St. Paulus, Palembang mulai saat berdiri pada tanggal 24 April 1947 sampai dengan sekarang ini saat usianya genap 75 tahun. Perayaan Yubileum 75 Tahun ini menjadi saat untuk berefleksi bersama sejauh mana lembaga pendidikan bagi calon imam di Keuskupan Agung Palembang (KAPal) ini  telah bertumbuh, berkembang dan berbuah bagi Gereja di Sumatera bagian Selatan dan juga Gereja Universal.

Menjaga Harmoni

RP Christianus Hendrick, SCJ
Alumni, Misionaris SCJ berkarya di South Dakota, USA

“UNTUK pertama kali saya mengenal pepatah latin: Ora et Labora (Doa dan Karya) adalah sejak di Seminari ini. Spirit ini selalu digemakan dan terus saya hidupi sampai sekarang. Tujuannya, “Selalu menjaga harmoni, keseimbangan antara hidup doa dan karya sebagai misionaris”. Semua inspirasi dan kekuatan untuk menjalankan tugas-tugas misi mengalir, “Be a man of prayer, a man of God” itu tugas dan panggilan utama kita.

Saya harap para seminaris, entah kelak menjadi Imam, religius, awam, atau apapun, tetaplah menghidupi semangat ora et labora. Semangat itu dapat diwujudkan “3 H”: Healthy, Happy,  dan Holy. Jagalah agar hidupmu selalu sehat (healthy). Jika hidupmu sehat, kamu akan bahagia (happy), dan ketika engkau bahagia menjalani tugas perutusanmu, apapun, di manapun, engkau sudah berada di jalan kesucian (holy).

Tetaplah Tumbuh

Sr. M. Henrika, FCh
Pimpinan Umum Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) Palembang

“SEMINARI ini telah mengabdi bagi Gereja lokal maupun universal. Seminari ini menyiapkan calon-calon imam baik calon imam diosesan dan imam berbagai tarekat, tidak hanya untuk KAPal. Saya melihat bahwa Seminari ini masih punya daya tarik bagi kaum muda untuk menjadi imam/bruder hingga saat ini. Seminari ini menerima calon dari semua kalangan (baik dari keluarga miskin, menengah dan berada).

Harapan saya pada pesta Yubileum 75 tahun adalah di satu sisi terbuka dengan situasi dan generasi milenial, siap bertransformasi dalam formasio dan tetap setia pada Gereja universal maupun lokal. Di sisi lain seminari menerapkan juga formasio praktis kehidupan, misalnya peduli dengan anak-anak, remaja, kaum muda, orang sakit, orang tua dan seterusnya. Kami para suster FCh siap dilibatkan untuk menganimasi tentang hidup sehat, pendidikan seksualitas, keterampilan memasak, dan lain sebagainya.”

Siap Arus Digitalisasi

Cicilia Triastuti
Mahasiswi Prodi Akuntansi Unika Musi Charitas (UKMC) Palembang
Wakil Presiden BEM UKMC

“SEMINARI ini menjadi tempat pendidikan orang-orang terpanggil yaitu calon imam yang punya tekad kuat untuk berkembang dengan tujuan melayani Gereja dan masyarakat. Seminari ini bisa menjadi tempat bergumulnya orang-orang baik dan tangguh yang dengan siap sedia dan penuh sukacita mau setia hanya kepada Tuhan untuk menjadi seorang imam/biarawan. Lulusan yang dihasilkan dari Seminari ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya imam yang menjadi pelayan rohani bagi umat dan juga hadir menjadi tokoh di tengah masyarakat yang multikultural. Semoga momen perayaan ini juga membawa semangat baru di tengah umat, khususnya orang muda agar semakin banyak yang  tergerak dan terpanggil untuk menjadi seorang imam.

Semoga pascapandemi ini, Seminari dapat kembali mengadakan kegiatan yang menarik sebagai salah satu sarana untuk memperkenalkan Seminari. Perkembangan sarana  komunikasi sosial saat ini yang begitu pesat dapat juga menjadi sarana menarik hati kaum muda sehingga menjadi lebih banyak lagi yang terpanggil. Maju terus Seminariku!”

Hidup Seimbang

Alphonsus Supardi
Tokoh Awam, Anggota FKUB Provinsi Sumatera Selatan

“SEMINARI ini merupakan lembaga pendidikan para calon imam Katolik, setingkat SMA yang berafiliasi dengan SMA Xaverius 1 Palembang. Sistem pendidikannya sangat khas karena hanya menerima siswa laki-laki dan sangat selektif dalam penerimaan siswa. Selain itu para siswa juga didampingi oleh tenaga pendidik yang berkompeten dari segi  pedagogik, kepribadian, sosial dan professional.

Saya bangga bahwa Seminari ini tetap mempertahankan 4S (Sanctitas, Sanitas, Scientia, dan Sosialitas) sebagai pilar utama dalam pembinaan. Hal ini penting agar seminaris berkembang secara seimbang dan menjadikan  pribadi-pribadi  yang dewasa secara manusiawi dan  Kristiani dalam mengikuti panggilan Tuhan  ke arah imamat atau hidup membiara. Hidup harus dijalankan secara seimbang.

Sebuah pepatah: ”Tangan kanan pegang Kitab Suci dan tangan kiri pegang cangkul”. Artinya pendidikan yang diberikan di Seminari tidak hanya fokus pada hal-hal yang bersifat rohani tetapi juga hal-hal praktis dalam kehidupan, yang memberi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam hidup ini,  terlebih bagi mereka yang karena satu dan lain hal tidak bisa menyelesaikan di seminari untuk menjadi imam maupun biarawan.”

Kontribusi bagi Gereja

Gabriel Manek & Cicilia Lena
Orang Tua Seminaris

“SEMINARI ini saat ini telah berusia 75 tahun. Seminari ini akan terus menjadi tempat atau wadah pembinaan bagi anak-anak yang ingin menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi seorang Imam atau biarawan. Sudah terbukti bahwa alumni dari Seminari ini, baik yang menjadi imam, biarawan maupun awam, mampu memberikan kontribusi yang besar untuk kemajuan Gereja Katolik serta kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Anak kami menjadi tumbuh panggilannya karena sejak kecil kami telah memperkenalkan dinamika hidup para imam, Ekaristi yang dirayakan dan doa-doa yang mereka hidupi. Sebagai orang tua, kami mempercayakan buah hati kami untuk didampingi dalam pola pendidikan di seminari, agar panggilannya semakin tumbuh dan berkembang. Semoga ia menjadi salah satu dari mereka yang ikut ambil bagian memenuhi kebutuhan Gereja sebagai imam-imam masa depan. Kami juga mengharapkan agar tidak hanya hidup kerohanian yang terus berkembang, melainkan juga pengetahuan lain seperti teknologi, agar dapat menyesuaikan diri di zaman yang terus berkembang ini.”

Rumah Pengkaderan

RD Yohanes Kristianto
Alumni, Pastor Kepala Paroki St. Petrus dan Paulus Baturaja, Sumatera Selatan

“SALAH satu butir refleksi dan rekomendasi dari Sinode KAPal dan universal adalah “menemukan kembali anggota-anggota Gereja yang memiliki katolisitas dan militansi yang tinggi, mengingat Gereja sangat membutuhkan 5 pilar Gereja yang kokoh: persekutuan, liturgi, pelayanan, pewartaan dan kesaksian. Oleh karena itu, Seminari juga  berpeluang ikut ambil bagian dengan atau melalui formasio yang dijalankan.

Realita menunjukkan bahwa semakin banyak anggota Gereja, utamanya generasi muda,  kehilangan akar kerohaniannya seperti lemah dalam pengetahuan iman, pasif dalam aktivitas menggereja, pemahaman dan penghayatan katolisitas serta militansi melemah. Selain itu tak dapat dipungkiri dalam bingkai pembinaan calon imam di seminari, dijumpai seminaris-seminaris yang juga kehilangan orientasi sebagai seorang yang memperjuangkan panggilan.

Saat ini kita bersama bersyukur atas 75 tahun Seminari ini. Menjadi momentum bagi seluruh anggota Gereja baik awam maupun hierarki untuk semakin berkolaborasi mendukung Seminari sebagai tempat pembinaan calon imam, sekaligus menjadi pusat kaderisasi. Dengan demikian tidak timbul kesan bahwa Seminari hanya menjadi tanggungjawab Keuskupan dan kongregasi.

Karena itu Seminari seiring sejalan, sehati sejiwa dalam semangat Ecclesia Semper Reformanda, ikut  menjadi bagian dari solusi  Gereja  terutama dalam meletakkan dasar yang memadai bagi kader-kader masa depan Gereja.”

 RP Petrus Haryanto, SCJ (Palembang)

HIDUP, Edisi No. 26, Tahun ke-76, Minggu, 26 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here